Aku kembali duduk di balkon rumah seperti malam sebelumnya namun malam ini terasa begitu sepi. Tak ada mercon atau kembang api yang cahayanya berpendar indah di langit, aku hanya bisa menatap hamparan langit kelam ditelan sang malam. Hanya beberapa meter di hadapanku, kulihat pucuk-pucuk bambu mengayun lembut dan gemulai mengikuti irama angin yang bertiup bak penari yang datang menghiburku.
Ah...kadang aku ingin laksana pohon bambu, karena pucuknya akan tetap menggayut ke arah sisi dimana lebih lebat daunnya. Dia akan tetap seperti itu, teguh dan kokoh tak perduli seberapa besar angin berhembus dan seberapa besar badai menerpa...dia akan tetap seperti itu sampai dahannya patah atau tercabut dari akarnya. Pucuk-pucuk pohon bambu itu masih mengayun lembut.....
Tatapanku beralih ke arah langit kelam sambil menghisap dalam-dalam sebatang rokok kretek dalam jepitan tanganku. Ah...mengapa tak ada satupun bintang yang menemani sang langit malam ini ? seakan sang langitpun terhempas dan terhampar dalam kesunyian menanti sang fajar, namun sesekali kulihat setitik cahaya dari sebuah pesawat yang merambat pelan menembus sang langit dan lalu menghilang. Cahaya berkerlap-kerlip tetapi tak mampu menerangi hamparan langit yang maha luas. Cahayanya bagai tak berarti, laksana noktah putih di hamparan kanvas hitam.
Tak berapa lama, cahaya yang sama muncul kembali dari arah yang berlainan dan turut menyapa sang langit kelam. Darimana dan mau kemana pesawat-pesawat itu ? tak sedikitpun aku tahu. Diantara ayunan pucuk-pucuk pohon bambu yang mengayun lembut, selintas kubayangkan pesawat-pesawat itu bertemu pada satu titik di atas langit sana. Barangkali cahayanya berpendar dasyat mengalahkan cahaya berton-ton mercon atau kembang api yang dipasang malam tahun baru lalu. Ah...tidak...tidak ! aku tak mau itu terjadi..., aku tak mau menghirup debu-debu yang beterbangan dari tubuh-tubuh yang tercabut nyawanya. Aku tak mau mendengar tangis pilu dari keluarga-keluarga yang mereka tinggalkan. Sungguh...aku tak mau itu terjadi. Gemerisik daun-daun dari pohon bambu yang masih mengayun lembut membuyarkan lamunananku.
Kali ini kulihat lagi kerlap-kerlip cahaya yang lain, tapi sepertinya ada yang aneh dari cahaya itu. Cahaya itu tidak semakin mengecil dan kemudian menghilang tapi terasa sebaliknya, cahaya itu terlihat semakin membesar dan terasa semakin dekat. Perlahan suara gemuruh pesawat makin lama makin pekak mengalahkan gemuruh yang mulai terasa didada. Aku terhenyak....aku tercekat, akupun mulai bangkit dari dudukku. Sebongkah cahaya mulai menyilaukan mataku, gemuruh pesawat mulai meremukkan jantungku dan ayunan pucuk-pucuk pohon bambu tak lagi lembut. Saat itu kurasakan batas antara kehidupan dan kematian begitu tipis setipis kulit ari.
Dalam sekejap, gemuruh pesawat tak lagi kudengar dan tak sempat lagi kulihat ayunan pucuk-pucuk pohon bambu. Yang kuingat hanyalah...aku sempat bergumam...Allahu Akbar...!!
Selengkapnya...
