POHON MANGGA

Minggu, 14 Juni 2009

Hari mulai menjemput malam, cahaya rembulan menyeruak di sela-sela rimbunnya pepohonan dan pekatnya malam. Nyanyian jangkrik saling bersahut-sahutan dan sesekali suara katak terdengar dari kejauhan bagai orkestra yang mengiringi sunyinya suasana kampung. Dan nyanyian jangkrik sedikit terusik oleh dua bayangan yang mengendap-ngendap dari balik semak-semak. Malam yang hanya dihiasi temaramnya cahaya bulan membuat bayangan-bayangan itu lebih leluasa menyelinap dari satu pohon ke pohon yang lain, langkah perlahan dan terlihat sangat hati-hati kemudian sesampainya dibalik sebuah pohon yang lumayan besar mereka berhenti sejenak. Tampaknya mereka mengamati situasi dan keadaan sebuah rumah tak jauh dari tempat mereka berdiri, seakan ingin memastikan bahwa keadaan sudah benar-benar aman.
" Bagaimana Yat?, sudah aman belum..?," tanya salah satu dari bayangan itu.
" Belum Ris..! sebentar lagi. Lampu tengahnya baru saja dimatikan".
Rupanya bayangan-bayangan itu adalah Dayat dan Aris, dua orang anak yang berteman dekat walau Dayat yang berumur 10 tahun lebih tua tiga tahun dari Aris. Mereka ingin mengambil buah mangga milik pak Gunarto yang sejak beberapa hari sudah mereka incar. Sebenarnya mereka sudah sering mencuri buah-buah mangga milik pak Gunarto itu tapi untuk malam ini mereka akan mencuri buah mangga dari pohon yang belum mereka cicipi sebelumnya, namun pohon yang mereka incar letaknya persis disamping rumah pemiliknya sehingga sekarang mereka lebih hati-hati bila tak mau ketahuan. Selang beberapa menit merekapun bergerak lagi, perlahan mereka mendekati pagar kebun pak Gunarto yang terbuat dari bilah-bilah bambu itu dan kemudian melompatinya tanpa menimbulkan suara. Mereka terus bergerak menuju samping rumah dan setibanya pada pohon yang dituju merekapun berhenti. Mereka sempat saling berpandangan karena pada batang pohon itu terlihat lilitan kawat yang berduri padahal kemarin belum ada.
" Wah..repot nih !" ujar Dayat sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.
" Bisa nggak ?," tanya Aris. Dayat tak menjawab, sepertinya ia ragu-ragu atau sedang berpikir bagaimana caranya untuk dapat memanjat pohon itu. Kemudian ia melangkah mantap mendekati pohon itu sepertinya ia yakin dapat memanjatnya, namun saat tangannya menyentuh kawat-kawat itu tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat. Ia menjerit seakan menahan sakit yang luar biasa, jeritannya yang melolong terdengar menyayat hati. Aris terkesiap, dengan cepat ia segera menggapai tubuh Dayat untuk menariknya namun saat tangannya menyentuh tubuh dayat tubuhnyapun turut bergetar. Dirasakannya seperti ada sesuatu yang menariknya, darah serasa tersedot, panas dan dadanyapun terasa sesak. Menjeritpun ia merasa tak mampu, matanya mulai berkunang-kunang sebelum akhirnya merasakan sesuatu yang menerpa keras tangannya lalu jatuh tak sadarkan diri.
Beberapa jam kemudian Aris membuka matanya, dengan pandangan sedikit nanar ia menatap satu persatu orang yang berkerumun di sekeliling balai bambu tempat ia terbaring lemah. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi, namun isak tangis ibunya mengaburkan ingatannya.
" Ibu..!," ucapnya lirih sambil memandangi paras ibunya yang sendu. Perlahan ia berusaha bangkit dari pembaringan namun tubuhnya terasa sulit digerakkan. Lemas tak bertenaga bagai daging tak bertulang, tubuhnyapun terasa ngilu dan pergelangan tangannya teras nyeri dan perih. Ibunya yang melihat Aris sudah siuman langsung memeluk anak yang sangat dikasihinya itu lalu menciuminya dengan penuh perasaan.
" Kamu tidak apa-apa nak..?," ujar ibunya sambil menyeka air matanya, Aris hanya bisa mengangguk lemah.
" Sudahlah bu!, biarkan Aris beristirahat. Sebentar lagi ia pasti sembuh," ujar pak Rt menenangkan ibunya sambil tersenyum kepada Aris. Ibunya terlihat mengerti dan sudah menghentikan tangisnya sambil mengusap-usap lembut kepala Aris. Orang-orang yang berkerumun termasuk pak Rt satu persatu mulai meninggalkan ibu dan anak itu hanya berdua saja.
" Maafkan aku bu..," ujar Aris kemudian setelah mengingat apa yang telah ia alami. Tak terasa airmatanyapun meleleh membasahi pipi. Ibunya hanya mengangguk pelan sambil berusaha menyeka air mata Aris.
" Da..Dayat.. bagaimana bu ,?" tanya Aris lagi saat ingat temannya itu. Ibunya tak segera menjawab namun kemudian dengan nada lirih ibunya mulai menceritakan apa yang terjadi. Pohon mangga pak Gunarto yang tadi malam buahnya akan dicuri oleh Dayat dan Aris ternyata sudah dililit kawat yang beraliran listrik. Maksudnya hanya untuk menakuti dan membuat jera para pencuri apalagi pohon itu baru pertama kali berbuah, namun Dayat yang saat itu terkena langsung sengatan dari aliran listrik itu tubuhnya hangus terbakar dan nyawanyapun tak melayang. Sedangkan Aris yang coba menolong sebenarnya juga ikut tersengat namun tangannya sempat dipukul dengan sebongkah kayu oleh pak Gunarto dan terlepas dari tubuh Dayat sehingga nyawanya bisa terselamatkan. Itulah sebabnya mengapa tangan Aris terasa nyeri dan ngilu saat ia mencoba bangkit dari pembaringan tadi. Pada saat itu beberapa warga datang ketempat kejadian karena mendengar suara jeritan kesakitan dari Dayat, mereka berlarian menuju asal suara. Setelah melihat apa yang terjadi, tanpa basa-basi dan banyak bertanya merekapun menghakimi dan ramai-ramai menghajar pak Gunarto hingga babak belur. Mereka tak menghentikan aksinya walau pak Gunarto sudah berteriak minta ampun dan darah sudah mengalir dari hidungnya. Para warga baru berhenti setelah bu Gunarto berteriak-teriak histeris sambil menggendong anaknya dan menangisi pak Gunarto yang tak berdaya dengan tubuh penuh luka dan beberapa gigi yang tanggal. Beberapa hari kemudian kejadian tersebut diproses pihak yang berwajib dan setelah melewati masa persidangan, pak Gunarto yang didakwa menghilangkan nyawa orang lain divonis penjara selama 25 tahun. Karena sedih dan tak tahan mendengar cibiran serta cemooh warga kampung akhirnya bu Gunarto beserta anaknya yang masih berumur 5 tahun itupun pergi dengan hati penuh luka. Rumah serta kebun dan semua harta benda yang mereka miliki telah ia jual, hingga kini tak seorangpun warga kampung yang tahu kemana mereka pergi.

* * * * * * * * * *
Senja hari ditengah angin yang berhembus sepoi-sepoi, Aris terlihat duduk di beranda depan rumahnya. Rumah yang dikelilingi beberapa pohon mangga terlihat asri dan udaranyapun terasa sejuk. Ia memang sangat menyukai buah mangga bahkan terkadang ia senyum-senyum sendiri saat teman-teman menjulukinya manggaholik, sehingga ia sengaja menanam beberapa pohon mangga yang buahnya ia konsumsi sendiri. Bibitnya kebanyakan ia beli dari Taman Buah Mekarsari walau ada beberapa yang didapat dari pemberian temannya. Beberapa pohon tumbuh rimbun dipinggir jalan umum dan kini sedang berbuah lebat dengan buahnya yang ranum. Walaupun dekat jalan umum namun tak seorangpun yang mengusik buahnya apalagi mencuri. Bukan karena takut melainkan karena malu bila sampai mencuri buah itu, karena Aris sebagai pemilik pohon itu biasanya tak segan-segan memberi siapapun yang ingin mencicipi manisnya buah mangga miliknya bahkan terkadang ia mempersilahkan bila ada yang ingin memanjat dan memetik buahnya sendiri. Hal itu dilakukannya semata-mata karena ia selalu teringat akan peristiwa beberapa tahun yang lalu. Walau sudah sedemikian lama tapi bayangan kengerian selalu menghantui benaknya apalagi peristiwa tragis itu telah merengut nyawa sahabatnya dan hampir saja membuat nyawanya turut melayang. Bila ingat peristiwa itu, ada penyesalan yang begitu dalam dihatinya. Bahkan terkadang timbul rasa dendam yang amat sangat terhadap pak Gunarto yang telah merengut nyawa sahabatnya walau akibat dari kesalahannya sendiri. " Andai pak Gunarto saat itu tak terlalu pelit untuk memberi satu atau dua mangga kepada anak-anak, tentunya peristiwa itu tak perlu terjadi " sesalnya dalam hati.
Tetapi peristiwa itu sudah lama berlalu, perlahan-lahan ia mencoba menghapus ingatan juga kenangan pahit itu dan coba melupakannya. Saat matanya menerawang dan memandangi pohon serta buah-buahnya yang ranum, matanya tertuju pada seorang lelaki tua yang berhenti dibawah pohon mangga . Tubuh yang kurus kering, pakaian lusuh dan kotor yang menempel di tubuhnya terlihat lelaki itu seperti seorang gelandangan yang sudah lama tidak pernah bersentuhan dengan air. Lelaki itupun kemudian duduk dibawah pohon mangga miliknya, saat caping yang menutup kepalanya dilepas tampaklah rambut yang telah banyak dipenuhi uban. Ia duduk di akar-akar pohon yang menyembul keluar, caping digunakannya untuk mengibas-ngibas tubuhnya yang tampak dihiasi peluh karena sengatan sinar matahari. Mungkin ia duduk melepaskan lelah atau sekedar berteduh sambil menghirup udara sejuk dibawah rimbunnya pohon mangga itu. Sebentar-sebentar wajahnya menengadah keatas, memandangi buah-buah mangga yang menggelayut di atas kepalanya. Semua tingkah laku orang tua itu tak lepas dari perhatian Aris.
" Siapa mas..?," tanya Nita istri Aris ketika melihat orang tua yang sedang diperhatikannya.
" Nggak tahu!, barangkali pengemis yang sedang ingin berteduh" jawab Aris.
" Pernah melihat orang itu?"
" Belum..,tapi biarkan saja. Eh..ibu kemana ,?" Aris balik bertanya.
" Bilangnya sih.. mau kepasar !".
" Lho !, bukan kamu saja yang kepasar. Kasihan kan ibumu..!".
" Ah..biar saja mas. Ibu yang mau kok !, katanya sekaliat lihat-lihat suasana pasar. Aku kedalam dulu ya..mas! meneruskan masak," ujar Nita sambil berlalu meninggalkan Aris. Aris hanya mengangguk sambil meraih gelas teh hangat yang tadi dibawakan istrinya. Ia ingat ibu mertuanya, walau ucapannya selalu lemah lembut namun ia merasa sulit sekali merasa akrab. Ibu mertuanya terlalu pendiam bahkan bila tak diajak bicara ia tak akan bicara, padahal Aris ingin ibu mertuanya itu merasa kalau ia anak kandungnya sendiri. Sejak ibu kandungnya meninggal beberapa tahun yang lalu, ia ingin ibu mertuanya menggantikan posisi ibu kandungnya. Tempat ia mengadu, tempat ia berkeluh kesah. Tapi semua keinginannya sulit terwujud dengan sikap diam yang selalu diperlihatkan ibu mertuanya itu padahal ia telah 2 tahun menyunting Nita sebagai istrinya. Aris mengambil sebatang rokok dan menghisapnya, pandangannya kembali tertuju ke lelaki tua tadi. Dilihatnya ia masih duduk di bawah pohon itu namun sekarang mulai merebahkan tubuhnya dan bersandar ke batang pohon yang memang cukup besar. Sambil terus mengibas-ngibaskan capingnya, mata orang tua itupun masih tak lepas memandangi buah mangga diatasnya. "Ah..barangkali orang tua itu ingin makan mangga. Biar aku ambilkan..", ucap Aris dalam hati. Lalu iapun beranjak dari duduknya dan kemudian melangkah mendekati orang itu. Merasa ada yang menghampiri orang tua itupun buru-buru bangkit.
" Maaf nak !, bapak telah lancang duduk disini," ujarnya parau sambil membungkukkan tubuhnya.
" Oh..nggak apa-apa kok pak, silahkan ! kalau mau istirahat. Saya justru ingin menawarkan buah mangga itu, barangkali bapak ingin mencoba mencicipinya ".
" Terimakasih nak, bapak cuma mau berteduh dan istirahat saja ".
" Kalau mau juga nggak apa-apa kok pak. Nanti saya ambilkan ".
" Sungguh nak..saya cuma mau istirahat, terimakasih ".
" Memangnya bapak mau kemana ?, kelihatannya lelah sekali.." tanya Aris kemudian. Orang tua itu tak segera menjawab, ia menghela napas panjang dan pandangan matanya terlihat kosong. Tampak sekali gurat-gurat kesedihan diwajahnya, Aldi hanya bisa memandangi raut wajah orang tua itu dan menunggu apa yang akan diucapkannya. Aldi tak mengerti mengapa pertanyaan basa-basinya malah membuat orang tua itu terlihat sedih.

" Saya tak tahu nak..hendak kemana, tak ada tempat yang saya tuju. Kadang saya hanya ikut saja kemana kaki saya melangkah ".

" Memangnya bapak tidak punya keluarga sehingga pergi tanpa tujuan ?"

" Yah..begitulah nak, saya memang tak punya siapa-siapa lagi. Sejak saya meninggalkan keluarga beberapa tahun lalu, kini saya tidak tahu lagi keberadaan mereka ," ujar orang tua itu dengan nada sedih. Aris merasa terharu mendengar penuturannya. Aris semakin tertarik mendengar penuturan orang tua itu, walau dalam hati ia merasa tak enak apalagi bila membuat orang tua itu semakin sedih namun rasa penasaran tak kuasa ia bendung.

" Mengapa bapak tega meninggalkan keluarga bapak?" Orang tua itu kembali menghela nafasnya dalam-dalam, sepertinya ada beban yang begitu berat menghimpit dadanya. Ada kegetiran tersirat dari setiap helaan nafasnya, terlihat jelas saat bulir-bulir air mata membasahi pelupuk mata yang keriput itu. Melihat itu Aris mengurungkan niatnya untuk tahu lebih banyak tapi orang tua itu memulai ceritanya..

" Sebenarnya saya tidak meninggalkan mereka nak, saya..." cerita orang tua itu terhenti saat tiba-tiba...

" Mas Gun..!, kau kah itu..mas Gun ?" seru ibu mertuaku dari kejauhan. Orang tua itu terhenyak sepertinya ia sangat mengenali suara itu, iapun menoleh ke asal suara dan kemudian menyorongkan wajahnya seakan-akan ingin memperjelas penglihatannya lalu ia segera bangkit dari duduknya.

" Sunarti..!" balas orang tua itu dengan suara parau.

" Mas Gun..!" ibu mertua Aris mulai berteriak sambil menangis dan kemudian berlari ke arah Aris dan orang tua itu berada. Keranjang belanjaan dilepaskannya, terhempas ke tanah dengan tomat-tomat yang berhamburan keluar dan mencelat kesana-kemari. Orang tua itupun beranjak hendak menyambut, namun akar-akar pohon mangga yang menyembul itu menghambat langkahnya. Kakinya tersangkut dan tubuhnyapun terhempas keras dengan kepala membentur akar-akar pohon yang lain. Melihat itu ibu mertua Aris menjadi semakin histeris, kemudian ia bersimpuh dihadapan tubuh ringkih yang tengah terbaring lemah, mengangkat kepala orang tua itu lalu memangkunya.

" Mas..Gun!, bangun mas..!banguuun..!" tangis ibu mertua Aris sambil mengguncang-guncangkan tubuh orang tua itu. Aris terhenyak, kejadian yang begitu cepat membuatnya tak mampu berbuat apa-apa. Kakinya serasa terpatri tak bergerak menyaksikan peristiwa itu, hatinya pedih dan trenyuh melihat ibu mertuanya namun sejuta tanya juga menggayut dibenaknya saat itu. Siapa orang tua itu?

" Mas Gun! bangun mas..Nita..Nita!" teriak ibu mertuanya. Nita yang memang hendak keluar setelah mendengar kegaduhan didepan rumah segera menghampiri.

" Ada apa bu?" tanyanya dengan nada bingung apalagi melihat ibunya menangis. Matanya melirik Aris yang diam dalam kebingungan.
" Ini ayahmu nak..ayahmu!" ujar ibunya sambil terus menangis. Nita yang bingung menjadi terkejut setelah mengetahui orang tua yang terbaring lemah itu adalah ayahnya. Iapun segera memeluk orang tua itu erat-erat, kini iapun turut histeris sambil mengguncang-guncangkan tubuh orang tua itu dan tangisannya begitu menyayat hati. Aris tak kalah terkejutnya, selama ini ibu mertuanya selalu bilang bahwa ayah Nita telah lama meninggal tapi kini..dan Arispun semakin terkejut..

" Dialah yang membuat ayahmu begini!" ujar ibu mertua Aris sambil menunjuk-nunjuk kearah Aris. " Aku..!" tanya Aris dalam hati.

" Suamimu yang membuat ayahmu dipenjara. Suamimu yang membuat hidup kita begini..!" teriak histeris ibu Nita. Bagai palu godam menghantam dadanya Aris tersentak dan membuatnya sesak. Wajahnya tiba-tiba pucat sepucat mayat setelah mendengar ucapan-ucapan ibu mertuanya. " Mas Gun itu..pak Gunarto ? orang yang telah merengut nyawa sahabatnya!". Dan Nita adalah...ah!..seakan-akan ia tak percaya dengan semua yang telah terjadi, semua bagai mimpi baginya. Ternyata ini jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menggayut dalam benaknya selama ini. Kini dia hanya diam merunduk bagai pesakitan menunggu vonis hakim, bagai menunggu algojo melingkarkan tali gantungan dilehernya. Namun dalam benaknya ia teringat kalau pohon mangga ini bibitnya ia ambil dari pohon yang hampir merengut nyawanya.
Selengkapnya...

SEPEDA MOTOR BARU

Selasa, 09 Juni 2009

Suara raungan sepeda motor yang knalpotnya sudah dimodifikasi tiba-tiba melintas dijalan depan rumah bang Samin. Bang Samin yang sedang asik menyeruput kopinya menjadi terkaget-kaget dan kopi yang masih panas itupun tumpah dan hampir saja membasahi sarung yang membelit tubuhnya.
" Brengsek..., bocah sialan...!!," umpatnya marah, sambil menyeka air kopi yang tumpah diatas balai bambu yang ia duduki.
" Biarin aja bang..!, namanya juga anak baru gede...kagak usah diambil ati..," ujar Munah istri bang Samin mencoba mencairkan amarahnya.
" Ah..elu, bukannye ngebantuin gua..malah ngebelain ntu anak. Sebenernye kalo ntu anak bukan anaknye pak Romli, ude gua labrak dari kemaren-kemaren..,! sambung bang Samin emosi dengan bahasa betawinya yang kental , dan mpok Munah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku suaminya itu.

Bila diingat-ingat memang bang Samin jadi serba salah dan rasa-rasanya dia tak berani marah juga tak pantas marah atas tingkah laku si Arfan anaknya pak Romli itu. Dahulu jalan yang menghubungkan kampung dengan jalan raya itu hanyalah jalan setapak berupa tanah merah dan berbatu-batu, menjadi becek juga licin saat musim penghujan datang. Tetapi kini jalan itu terlihat mulus terbalut cor-coran beton, semua karena inisiatif juga dari dana pribadi pak Romli lah jalan itu terlihat seperti sekarang ini.Dan jalan yang dahulu jarang dilewati kini menjadi ramai dengan hilir mudiknya kendaraan roda dua baik dari kampung bang Samin sendiri maupun dari maupun kampung lainnya. Bahkan sebagian warga yang selama ini menganggur mulai memanfaatkan fasilitas jalan yang mulus juga ramainya orang hilir mudik dengan menjadi pengojek, dan bang Samin serta istrinyapun secara tidak langsung ikut menikmati rejeki dengan berjualan nasi uduk dan beraneka macam makanan gorengan didepan rumah mereka yang hanya beberapa jengkal saja jaraknya dari jalan itu. Penghasilan merekapun bertambah apalagi kehidupan mereka selama ini hanya bergantung dari hasil kebun juga kolam ikan yang hasilnya tidak seberapa.

Namun dengan ramainya hilir mudik sepeda motor setiap harinya itu dan juga banyaknya tetangga yang membeli atau kredit sepeda motor membuat mpok Munah latah berkeinginan memiliki motor juga, sehingga beberapa hari ini dia terus merajuk kepada bang Samin agar segera membeli atau kredit motor.
" Uang mukanya murah kok bang..!" rajuk mpok Munah suatu sore saat membereskan dagangannya.
" Iye, uang mukanya murah. Tapi nyicilnya gimane..?, buat makan aje masih ngos-ngosan..," ujar bang Samin sambil mengunyah singkong goreng yang mulai dingin sisa jualan istrinya.
" Ah abang, kalo ada motor kan enak. Aye kagak perlu lagi naek turun angkot kalo mau pergi ke pasar. Mas Nano yang cuma jualan ketoprak aje bisa, masak kita ngga bisa bang..!' sambung mpok Munah.
" Ah elu kayak anak kecil aje, kagak boleh ngeliat orang punya ape-ape. Udah..ah..!, nanti gua pikirin..," jawab bang Samin sedikit kesal sambil terus menyeruput kopinya.

Bang Samin pantas berkesal hati karena ia sangat menyadari batas kemampuannya. Ia tidak mempunyai pekerjaan tetap, sehari-hari ia hanya memeriksa kebun juga kolam ikan kecil dipinggir sungai yang tak jauh dari rumahnya. Sesekali ia ikut tetangganya yang berprofesi sebagai tukang bangunan, untuk membantu pekerjaan memperbaiki atau merenovasi rumah dan juga membangun rumah baru. Hasilnya memang lumayan tapi itupun dalam setahun bisa dihitung dengan jari seberapa sering ia ikut tetangganya itu. Sehingga wajar kalau bang Samin berpikir seribu kali bila ingin mengajukan kredit sepeda motor, " mau bayar pakai apa ?," pikirnya. Tapi lama kelamaan atas desakan dan rajukan mpok Munah, iapun akhirnya mengalah dan berjanji akan memenuhi keinginan istrinya itu. Iapun berencana uang muka untuk kredit motor tersebut nantinya diambil dari hasil panen dari kolam ikannya yang tak seberapa besar . Bahkan ada seorang tengkulak yang sudah setuju untuk menyetor uangnya sebagai panjar dari ikan-ikan gurame yang akan dipanen nanti. Untuk membayar cicilannya, bang Samin juga berencana jadi tukang ojek seperti tetangganya. Alangkah senangnya hati mpok Munah mendengar rencana-rencana yang diungkapkan bang Samin dan iapun berjanji akan membantu membayar cicilan kredit dengan menyisihkan keuntungan dari hasil jualan nasi uduknya.

* * * * * * * *


Malam itu udara terasa dingin sekali, semilir angin yang kian malam kian kencang menambah hawa dingin kian menusuk pori-pori kulit. Langitpun terlihat hitam pekat tanpa bintang, menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Bang Samin yang sejak sore tadi merasakan tubuhnya demam, makin menggigil tubuhnya walau sudah diselimuti beberapa lembar kain oleh mpok Munah. Sebentar kemudian suara halilintar menggelegar diiringi rintik-rintik hujan yang kian lama kian deras. Mpok Munah segera berlari kedapur mengambil beberapa peralatan dapur, panci, ember atau apa saja untuk digunakan sebagai wadah air hujan yang menembus sebagian atap rumah yang bocor. Dengan napas sedikit terengah mpok Munah kembali menemani bang Samin yang kelihatan semakin menggigil kedinginan, namun tiba-tiba bang Samin bangkit dari tidurnya.
" Ada apa bang ,? " tanya mpok Munah bingung.
" Empang kita Mun...!, jangan-jangan kena banjir," ujar bang Samin agak panik. Mpok Munah tercekat mendengar ucapan suaminya itu, sambil mengucapkan kalam Illahi tangannya memegang dada yang tiba-tiba berdetak kencang. Segera ia turun dari tempat tidur dan kemudian mendekati jendela, dilihatnya butir-butir air yang turun dari langit seakan berlomba-lomba menghujam dan membasahi bumi dengan riak-riak genangan air ditanah terlihat seakan-akan berupa tarian kemenangan.
" Nggak terlalu deres kok bang...," ujarnya menghibur diri.

Padahal dalam hatinya ia sangat takut apa yang dikhawatirkan suaminya benar-benar terjadi. Kalau itu sampai terjadi, pasti ikan-ikannya akan hanyut terbawa air dan hilanglah harapannya untuk segera memiliki sepeda motor. Mulutnya mulai komat-kamit memanjatkan doa agar terhindar dari musibah yang ia takutkan akan terjadi, sedangkan bang Samin hanya tercenung dan pasrah. Dengan kondisi tubuhnya yang sakit seperti ini ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa berharap hujan yang turun akan segera berakhir, karena semakin lama hujan turun biasanya air sungai akan meluap dan menyebabkan banjir. Apalagi sekarang banyak warga yang tak perduli lagi akan kebersihan lingkungan dengan sembarangan membuang sampah bukan pada tempatnya terutama ke sungai sehingga aliran air tersumbat akibat sampah yang menumpuk dan banjirpun tak bisa terelakkan lagi. Namun harapannya tidak terkabul, ternyata hujan terus turun dan baru berhenti pada saat menjelang subuh.


Pagi-pagi sekali bang Samin segera bergegas menuju kolam ikannya, sakit badannya tak ia hiraukan lagi. Mpok Munah yang khawatir akan kondisi suaminya ikut menemani, ia juga ingin tahu nasib kolam mereka beserta ikan-ikannya. Perlahan mereka manapaki jalan yang menurun dan licin, perasaan was-was dan khawatir menyertai langkah-langkah mereka. Sesampainya ditempat tujuan apa yang mereka takutkan benar-benar terjadi, dari ketinggian terlihat air menggenangi seluruh permukaan sawah dan kolam-kolam ikan milik warga termasuk kolam ikan milik mereka. Air sungai yang meluap menggenangi seluruh permukaan sehingga menyerupai hamparan danau kecil. Bang Samin dan mpok Munah termangu, tubuh mereka lemas tak berdaya bahkan mpok Munah tak bisa menahan isak tangisnya.
" Bagaimana ini bang..?" ujar mpok Munah disela tangis sambil mengguncang-guncangkan tubuh suaminya. Bang Samin hanya mematung dan diam seribu bahasa, ia tak bisa berbuat apa-apa karena ketinggian air sungai yang kira-kira setinggi lutut diatas kolam rasanya sangat mustahil baginya bisa menyelamatkan ikan-ikannya. Kolam-kolam ikan yang ada terlihat sudah menyatu, ditambah dengan derasnya air sungai sudah dipastikan ikan-ikannya ikut hanyut terbawa arus. Hilang sudah mimpi-mimpinya untuk dapat menambah penghasilan dengan menjadi tukang ojek, belum lagi uang panjar dari tengkulak yang sebagian sudah habis untuk menambah modal dagang istrinya. Sepeda motor yang dimpikan tak dapat malah kini ia harus memutar otak untuk mencari cara mengembalikan uang itu.

Dengan berjalan lemas seiring musnahnya angan, harapan juga mimpi-mimpi merekapun berjalan pulang. Sepanjang jalan mpok Munah tak kuasa menghentikan isak tangisnya, hanya bang Samin yang terlihat berusaha tetap tabah sambil terus membujuk istrinya itu. Saat tinggal beberapa langkah lagi mereka sampai dirumah, tiba-tiba terdengar suara benturan yang sangat keras dari arah jalan raya. Sejenak mereka menghentikan langkah dan saling berpandangan, menerka-nerka dalam hati apa gerangan yang telah terjadi. Kemudian mereka mempercepat langkah menuju rumah, dijalan depan rumah terlihat beberapa orang berlarian menuju jalan raya dan tak berapa lama kemudian ada yang berlari kearah yang berlawanan sambil berteriak..
" Ada tabrakan..ada tabrakan. Anak pak Romli tabrakan...!," teriak orang itu sambil terus berlari menuju rumah pak Romli untuk memberi kabar.
" Tabrakan..!?" ujar bang Samin dan mpok Munah hampir bersamaan,
akhirnya merekapun ikut-ikutan berlari menuju jalan raya tempat kecelakaan itu terjadi.

Benar saja, sesampainya disana sudah banyak terlihat warga berkerumun tepat didepan gang. Terdengar mereka berbincang, saling berargumen dan masing-masing saling mengutarakan opini atau pendapat ikhwal kejadian itu. Ada yang prihatin dengan apa yang terjadi tetapi ada juga yang berbisik-bisik dan diam-diam mensyukuri setelah tahu siapa yang mengalami kecelakaan itu. Sebagian dari mereka mengungkapkan kalau Arfan anak pak Romli itu membawa motornya dari arah kampung menuju jalan raya dengan kecepatan yang cukup tinggi seperti yang biasa ia lakukan. Memang kondisi jalan agak menurun, entah karena rem motornya yang blong atau jalan yang licin akibat hujan yang turun tadi malam terlihat motor tetap melaju dan memotong jalur jalan raya. Pada saat itu datang sebuah truk dari arah barat juga meluncur dengan kecepatan tinggi sehingga tabrakanpun tak bisa dihindarkan. Sepeda motor yang dibawa Arfan hancur dihantam truk dan terpental kurang lebih delapan meter bersama pengendaranya, yang lebih parah lagi saat itu Arfan tidak menggunakan helm untuk melindungi kepalanya. Maka dapat dibayangkan tubuhnya tergolek ditengah jalan dengan kondisi yang mengenaskan, kepala hampir remuk terhantam aspal jalan dan darah terus mengalir membasahi sekujur tubuhnya, dari hidung, telinga juga batok kepalanya. Mpok Munah yang penasaran terus menarik lengan bang Samin dan menyeruak ditengah-tengah kerumunan orang-orang untuk melihat kondisi Arfan.

Setelah mendekat disaksikannya tubuh Arfan bersimbah darah, orang-orang yang ada disekelilingnya terlihat hanya menonton dan tak ada satupun yang berani menyentuh tubuh Arfan walau ada yang berinisiatif menutupi tubuh Arfan dengan beberapa lembar koran. Mpok Munah bergidik menyaksikan semua itu, bulu kuduknya merinding...perutnya terasa mual dan kepalanya mulai terasa pening. Hampir saja ia jatuh pingsan bila tak segera ditarik menjauh oleh bang Samin.
" Bang..., nggak usah beli motor ya..!" ujar mpok Munah dan bang Saminpun hanya mengangguk.
Selengkapnya...

DIA...BUNGA LIAR ( TERSENYUM )

Jumat, 05 Juni 2009

Rimba alang dan rerumputan...tahan jemari kaki
Gugur daun tercurah...hambat langkahku
Deru angin mengumpat...memaki...menghujat
Teguh hati tak perduli...tak ciutkan nyali
Kan tetap kubawa...kan tetap kujaga bungaku
Bungaku hanya tersenyum

Kubaringkan dilapang hamparan hati
Tetes embun kasih tersiram dari raga dan jiwa
Pagar-pagar hati telah terpatri
Tak sudi kumbang dan kupu menghampiri
Dahaga ini hanya milikku
Bungaku masih tersenyum

Saat mendung menggayut
Hamparan kabut halangi asa
Menggapai-gapai dalam butaku
Tapi selarik cahaya memberi jawab
Kumbang dan kupu menjamah...menghisap sari
Menggelinjang senang berkumur riang
Tak ada tolak...tak ada paksa
Bungaku tetap tersenyum

Tertegun diam dan termangu
Limbung jiwa dalam bingung dan geram
Sesal hati tak perlu simpati
Satu tanya tak perlu jawaban
Dan bungaku masih tetap tersenyum
Mengejekku dalam bimbang Selengkapnya...

MATI...!!

Selasa, 19 Mei 2009

Saat keluh tak terdengar
Saat tanya tak terjawab
Saat hasrat tak berujung

Hati rasa mati...
Jiwa rasa beku...
Raga rasa mati...

Tak ada setengah mati
Tak ada separuh mati
Yang ada...mati
Mati...ya...mati
Tapi tolong kau dengar keluh kami
Tolong kau jawab tanya kami
Sebelum aku mati..sebelum kau mati Selengkapnya...

BAHTERA RAPUH

Aku tak mengerti...
Saat kau bilang cinta tak akan cukup untuk membangun sebuah bahtera
Aku tak mengerti...
Saat kau bilang perhatian dan kasih sayang
Tak akan kuat mengayuh bahtera menembus samudera...
Tak akan mampu menghembus layar-layar yang telah terkembang
Aku tak akan mengerti..

Lalu kau biarkan layar-layar rasaku robek..tercabik-cabik
dan kemudian terbang terbawa angin laut
Lalu kau biarkan kayuh-kayuh hatiku lapuk lalu patah
dan kemudian hanyut terbawa air biru
Lalu kau biarkan dalam darahku mengalir pahitnya sesal
dan asinnya dendam tak berujung

Bahtera kita memang tersusun dan terbentuk dari serpihan-serpihan dosa dan nista
Namun jangan biarkan lagi riak-riak air menyusup diantara dinding-dinding
bahtera yang rapuh
Jangan biarkan lagi gulungan ombak menghancurkan pasak-pasak
bahtera yang keropos

Aku lelah...
Aku ingin pejamkan mata dibawah sejuknya senyum matahari pagi
Aku ingin sematkan napas terakhirku diantara lembutnya awan-awan putih yang berarak
Aku ingin benamkan ragaku diantara halusnya pasir-pasir putih
Di pulau yang kita tuju Selengkapnya...

MANDUL

Minggu, 17 Mei 2009

Wajah Aldi terlihat begitu sumringah saat kembali menjejakkan kakinya dipintu masuk kantor sejak seminggu yang lalu tak ia sambangi saat ia mendampingi istrinya melahirkan anak kedua mereka. Apalagi saat teman-teman satu kantor yang tak sempat datang berkunjung saat kelahiran anaknya itu menyalami dan memberi ucapan selamat kepadanya, sungguh merupakan kebahagian dan kebanggaan tersendiri baginya. Sebagai seorang lelaki sekaligus seorang suami terasa kebahagiannya begitu lengkap, bagaimana tidak ? sejak anak pertamanya yang perempuan mulai beranjak besar, ia telah lama mendambakan seorang anak laki-laki dan kini yang ia damba-dambakan telah hadir kedunia. " Sungguh Maha Pemurah Tuhan telah mengabulkan segala keinginanku," Ucap syukurnya. Saat kelahiran anak keduanya itu segala kebutuhan untuk istrinya saat melahirkan dan segala kebutuhan si jabang bayi semua Aldi siapkan sendiri. Sangat berbeda dengan kelahiran anak pertamanya karena saat itu segala sesuatunya masih banyak yang membantu, baik orang tuanya sendiri maupun orang tua dari istrinya. Hal itu bisa dimaklumi karena bagi mereka anak pertama Aldi itu adalah juga cucu pertama mereka, Aldi adalah anak pertama dari tiga bersaudara sedangkan istrinya merupakan anak tunggal.Sehingga seringkali terlihat dan terkesan agak lucu saat ibu kandungnya juga ibu mertuanya saling berebut menggendong cucu pertama mereka. Sekarang situasinya sangat jauh berbeda karena baik ibu kandung Aldi maupun ibu mertuanya tidak bisa mendampingi saat anak keduanya lahir kedunia. Ibu kandungnya kebetulan sedang sakit sedangkan ibu mertuanya telah meninggal dua tahun yang lalu, bapak mertuanyapun tak bisa hadir karena agak sibuk mengurus bisnisnya di Surabaya tapi berjanji akan menengok cucunya saat ada kesempatan. Praktis hanya bapaknya saja yang turut mendampingi Aldi di rumah sakit saat masa persalinan istrinya, namun hal itu tak menyurutkan kegairahannya menyambut kelahiran si jabang bayi apalagi ia telah mengetahui bahwa yang akan lahir berkelamin laki-laki dan Aldipun sangat bersemangat menanti kelahiran anak yang ditunggu dan didamba-dambakan kehadirannya, karena tiga tahun menanti dirasakannya begitu lama dan kini iapun bahagia...sangat bahagia.
" Hei..Aldi !, selamat ya..! laki-laki atau perempuan...?," sapa temannya Randy saat mereka berpapasan di pintu masuk.
" Makasih...laki-laki..!," jawab Aldi sambil menebar senyum." Wah hebat..!, sudah sepasang sekarang..!," timpal Yuda sahabatnya yang lain. Aldi masih tetap mengumbar senyum sambil membalas jabatan tangan Yuda juga teman-teman yang lain. Namun didepan Yuda ada perasaan tak enak hati bercampur iba bila ia terlihat terlalu bergembira dengan kelahiran anaknya sehingga ia berusaha bersikap biasa-biasa saja untuk menjaga perasaan Yuda karena sahabatnya itu yang juga sudah menikah sampai saat ini belum juga dikaruniai anak sejak pernikahannya tujuh tahun yang lalu. Tentunya Yuda juga ingin merasakan kebahagiaan yang Aldi rasakan saat ini dan itu tergambar jelas dari raut wajahnya dan nada getir dari ucapannya tadi. Yang mungkin lebih menyakitkan bagi Yuda adalah sudah menjadi rahasia umum bila teman-teman kantornya menganggap ia mandul, terkadang gunjingan-gunjingan negatif sering sering dialamatkan kepadanya walau tidak pernah diungkapkan secara terang-terangan. Namun sesungguhnya Yuda telah mengetahui dan mendengar gunjingan-gunjingan itu yang seakan-akan mengolok dirinya, tapi untungnya ia cukup bijak menanggapinya dengan kepala dingin, lagipula ia merasa tak ada untungnya ia menanggapi apalagi marah karena memang itu kenyataan yang ia harus hadapi. Sebagai sahabat, Aldi cukup mengerti apa yang dirasakan Yuda dan sering menanggapi keluh kesah Yuda dengan selalu membesarkan hatinya untuk tetap bersabar dan terus berdoa, barangkali saat ini Yang Maha Kuasa belum mengijinkannya untuk memiliki keturunan. Sebenarnya Yuda sudah cukup berusaha dengan memeriksakan dirinya bersama istri ke rumah sakit dan secara medis sebenarnya Yuda dinyatakan sehat begitu pula istrinya, tak ada masalah sehingga mereka sebenarnya masih berpotensi untuk memiliki anak. Selain ke dokter, Yudapun sempat berusaha menemui orang pintar di daerah Banten Jawa Barat yang sudah terkenal mumpuni dalam hal menangani keluhan para pasiennya terutama yang menyangkut masalah sulit mendapat keturunan. Namun sudah sekian lama hasilnya belum juga tampak, malah justru Aldi yang saat itu juga ikut mengantar kini bertambah anaknya. Dan sejak usaha terakhirnya itu belum ada lagi usaha yang Yuda lakukan, sepertinya ia sudah pasrah dan sejak itu pula Yuda tak pernah berkeluh kesah atau bertukar pikiran dengan Aldi tentang keinginannya untuk mempunyai anak. Namun di suatu kesempatan Aldi pernah mengutarakan usul agar Yuda mengangkat anak asuh ataupun mencoba mengikuti program bayi tabung, tetapi Yuda menolak untuk mengangkat anak asuh dengan alasan bila ia mengangkat anak asuh ada kekhawatiran dalam dirinya bahwa nantinya ia tidak sungguh-sungguh mencintai dan menyayangi anaknya itu sebagaimana layaknya anak dari darah dagingnya sendiri. Sedangkan untuk mengikuti program bayi tabung, ia belum mau memikirkan hal itu lebih jauh selain karena biayanya mahal ia juga masih berharap dapat memiliki anak yang lahir dari proses yang normal dan alami. Dan sejak saat itu Aldi berusaha tidak membicarakan hal-hal yang bisa menyinggung perasaan Yuda terutama mengenai masalah anak hingga beberapa bulan kemudian.

* * * * * * * * * *

" Hei...!, bagaimana kabar anakmu..? sudah bisa apa sekarang..!?," tanya Yuda suatu pagi dan sedikit mengagetkan Aldi.

" Oh..kau Yud..!, ya alhamdulillah..sekarang sudah mulai belajar merangkak..,"

" Wah..cepat juga ya..!, eh..ngomong-ngomong aku mau membicarakan sesuatu, sibuk..nggak..?".

"Oh..nggak..!, tapi ada apa sih..sepertinya serius bener..?,"

" Serius sih..nggak, cuma setelah kupikir-pikir aku merasa ingin mencoba usul yang pernah kau utarakan beberapa waktu lalu, " ujar Yuda setengah berbisiksambil menarik tangan Aldi sedikit menjauh dari teman-temannya.

" Usul yang mana Yud..!?,"

" program bayi tabung..!,"
" Oh..yang itu, baguslah..!, tapi bagaimana dengan istrimu..?," tanya Aldi

" Dia sih..setuju-setuju saja, bahkan cukup antusias..," tapi sekarang aku butuh bantuanmu, masalahnya aku juga istriku belum mengerti benar proses dalam menjalani program bayi tabung itu. Bagaimana..kau bisa bantu..?"

" Wah..sebenarnya aku juga nggak tahu banyak tentang itu, bagaimana kalau kita cari tahu langsung di rumah sakit yang mempunyai fasilitas untuk program tersebut..!?" usul Aldi.

" Ya..aku setuju..!" ujar Yuda, dan merekapun sepakat sepulangnya dari kantor mereka akan singgah ke sebuah rumah sakit.

Dengan diantar Aldi, Yudapun akhirnya mengunjungi sebuah rumah sakit yang cukup ternama di ibukota untuk konsultasi dan mengetahui lebih jauh mengenai program bayi tabung seperti yang ingin mereka ketahui. Saat konsultasi dengan dokter yang menangani program bayi tabung, mereka mendapat penjelasan secara terperinci dan mendetail mengenai langkah-langkah yang harus dijalani dalam pelaksanaan program tersebut. Pada kesempatan itu, dokter juga mengatakan bahwa program ini belum menjamin seratus persen berhasil. Untuk itu dokter menganjurkan Yuda untuk menjaga kesehatan jasmani maupun rohani terutama kesiapan mental, dijelaskan pula bahwa langkah pertama yang akan dilakukan pihak rumah sakit yaitu mengadakan pemeriksaan untuk mengetahui tingkat kesuburan pasangan suami istri yang melaksanakan program tersebut, hal itu penting dilakukan untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya. Karena sudah berada di rumah sakit maka segera saja ia memeriksakan tingkat kesuburannya tanpa menunggu istrinya yang mungkin baru akan diajaknya esok hari. Sedangkan Aldi yang semula berniat hanya untuk mengantar Yuda, entah iseng atau hanya dorongan untuk memenuhi rasa keingin tahuannya saja iapun ikut-ikut mendaftarkan diri untuk memeriksa tingkat kesuburannya juga.

Beberapa hari kemudian Aldi kembali mengantar Yuda beserta istrnya kembali ke rumah sakit tersebut selain untuk memeriksakan istrinya Yuda tapi juga ingin mengetahui hasil pemeriksaan yang telah dilakukan beberapa hari yang lalu. Hari mulai beranjak siang, Yuda dan istrinya duduk di ruang tunggu setelah menyelesaikan sesi pemeriksaan dan kemudian menunggu Aldi yang saat itu mendapat giliran untuk bertemu dokter. Tak lebih dari setengah jam Aldipun keluar dari ruang dokter namun ada yang aneh dengan Aldi, wajahnya terlihat pucat pasi, raut mukanya seperti baru saja melihat sesuatu yang mengerikan dan kini ia terlihat seperti orang yang linglung. Tanya dan teguran dari Yuda dan istrinya seperti tak ia hiraukan, hanya menoleh sebentar lalu kemudian berlalu dengan langkah gontai namun sebentar kemudian Aldi melangkah lebih cepat dan setengah berlari meninggalkan Yuda dan istrinya yang saling berpandangan kebingungan. Dengan wajah muram Aldi meninggalkan rumah sakit itu dan kemudian tancap gas menuju ke rumah sakit besar lainnya, entah apa yang ia lakukan.

Keesokan harinya, dikantor perangai Aldi berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak seperti biasanya, ia menjadi seorang yang pemurung dan mudah tersinggung sehingga sama sekali tidak bisa diajak bergurau. Hal itu membuat teman-temannya di kantor menjadi bertanya-tanya apa sesungguhnya yang telah terjadi dengan Aldi, Yudapun bungkam saat ditanyakan perihal Aldi dan hanya mengangkat bahunya sambil menggeleng tidak tahu, bahkan Yuda sendiripun terlihat sekali berusaha menjaga jarak dengan Aldi sekalipun hanya untuk sekedar tegur sapa karena Yuda tahu betul sifat Aldi dan saat-saat seperti itu tak ada gunanya mendekati Aldi. Sedangkan Aldi terlihat lebih banyak membisu, hanya sepatah..dua patah kata keluar dari mulutnya itupun hanya seputar pekerjaan dan tak lebih dari itu. Keadaan seperti itu berlangsung beberapa hari, hingga sampai hari keempat tak seperti biasa Aldi datang agak pagi dan kemudian terlihat mengerjakan tugas kantor dengan tergesa-gesa. Setelah satu persatu teman kerjanya datang dengan segera ia merapikan berkas-berkas di meja kerjanya lalu iapun beranjak dari tempat duduknya dan pergi. Belum genap sepuluh langkah ia berpapasan dengan Yuda dan iapun pamit keluar kantor.

" Yud..aku keluar dulu..!", ujarnya

" Mau kemana Al..?, tanya Yuda tanpa sedikitpun mendapatkan jawaban. Yuda sebenarnya tak mau ambil pusing dengan sikap Aldi namun ia merasa ada sesuatu yang membuatnya tiba-tiba menjadi khawatir. Yuda tak tahu Aldi akan pergi kemana, rupanya Aldi menuju rumah sakit yang beberapa hari lalu ia kunjungi dan sengaja ia datang agak pagi karena ia ingin mengetahui lebih cepat apa yang ingin ia ketahui. Ternyata ia melakukan pemeriksaan ulang dan dirumah sakit lain tentang tingkat kesuburan dirinya, hasil pemeriksaan di rumah sakit pertama yang ia lakukan bersama Yuda membuatnya jengkel dan marah. " Tidak masuk akal..!?", pikirnya saat itu. Kini ia ingin pemeriksaan yang kedua hasilnya seperti yang ia harapkan dan menganggap hasil dari pemeriksaan yang pertama adalah bohong belaka.

Saat tiba gilirannya keruangan dokter, dadanya berdegup kencang. Kakinya tiba-tiba menjadi berat untuk melangkah, rasanya ia tidak siap mendengar kemungkinan terburuk dari hasil pemeriksaan yang sebenarnya ia tunggu-tunggu sejak beberapa hari yang lalu. Namun seperti halnya pada saat menerima hasil pemeriksaan yang pertama, sekeluarnya Aldi dari ruang dokter terlihat wajahnya memerah, samar-samar terlihat air mata menggenangi pelupuk matanya lalu iapun berlalu meninggalkan ruang dokter. Sejenak ia berhenti dan duduk di bangku ruang tunggu, matanya menerawang kelangit-langit entah apa yang ia pikirkan. Sebentar kemudian ia meremas-remas rambut dikepalanya, terlihat sekali ia menahan geram, sesal serta amarah yang meluap-luap lalu ia beranjak dan melangkah gontai menyusuri lorong rumahsakit. Sambil melangkah ia mengeluarkan handphonenya dan menghubungi Yuda. Yuda yang memang sedari tadi terlihat gelisah menunggu kabar dari Aldi segera mengangkat handphonenya.

" Yud..aku minta maaf.., sampaikan juga maafku ke temen-temen yang lain..!", ucap Aldi dengan nada agak tersenggal menahan sesak didadanya.

" Maaf..?, tunggu..tunggu..! apa yang harus dimaafkan Al..!?", tanya Yuda bingung. Tapi Aldi meneruskan ucapannya tanpa menghiraukan apa yang ditanyakan Yuda.

" Sampaikan juga pada istriku dan katakan padanya bahwa aku tak siap dan tidak bisa menjadi ayah dari anak-anaknya..", ujar Aldi lagi. Sesaat Yuda sempat terperangah mendengar ucapan Aldi itu.

" Lho..maksudmu apa Al ?, anaknya..anakmu juga kan..!?".

" Tidak Yud..!, mereka bukan anakku..!".

" Eh..tunggu Al..!, apa..?", terlambat..Aldi sudah mematikan handphonenya, Yuda mencoba menghubungi kembali tapi tak dijawab. Yuda sedikit agak panik, hatinyapun kembali was-was dan kegelisahan Yuda sempat terbaca oleh teman-teman sekantor, merekapun bertanya-tanya dan ingin tahu apa yang sebenarnya dialami Aldi karena mereka sempat menguping pembicaraannya tadi namun Yuda masih berusaha menutupinya.

Tepat pukul 11.00 siang, disalah satu sudut ruang kantor beberapa karyawan terlihat serius menyaksikan breaking news dari salah satu stasiun televisi swasta yang menayangkan langsung berita kecelakaan mobil dari tempat kejadian. Kecelakaan menimpa sebuah mobil Toyota corona yang jatuh terguling dari atas jalan tol Tanjung Priuk. Menurut beberapa saksi mata yang diwawancarai, mobil melaju sangat kencang dari arah Tanjung Priuk ke arah cawang. Sebelum jatuh dan terguling, mobil sempat menyerempet sebuah truk didepannya lalu mobil oleng kekiri dan kemudian mobil berguling-guling beberapa kali hingga akhirnya melompati pagar beton jalan tol dan meluncur deras kebawah jalan tol dan jatuh persis ditengah jalan protokol. Yuda terkesiap menyaksikan tayangan itu, dilihatnya mobil itu persis sekali dengan mobil milik Aldi walaupun tak terlihat lagi bentuknya karena sudah dalam kondisi rusak parah. Dengan berdebar-debar ia menunggu kamera memperlihatkan plat nomer kendaraan itu untuk memastikan bahwa itu benar-benar mobil Aldi.

" Astaga..!!, itu Aldi..!", ujarnya setengah berteriak. Teman-teman yang lainpun terperangah, lalu tanpa basa-basi Yudapun berlari keluar kantor.

" Aku ikut Yud..!", ujar salah satu temannya, dan dalam sekejap ruang kantor menjadi ramai dengan isak tangis teman-teman Aldi setelah mereka juga yakin bahwa yang mengalami kecelakaan itu adalah Aldi teman sejawat mereka. Selang beberapa menit kemudian, Yuda dan Budi sampai ditempat kejadian yang kebetulan letaknya tak begitu jauh dari kantor mereka di daerah Tebet. Di sekeliling tempat kejadian sudah banyak orang berkerumun menyaksikan kecelakaan tragis itu, arus kendaraanpun menjadi macet karena kendaraan itu jatuh persis di tengah jalan protokol. Terlihat beberapa petugas berusaha keras mengeluarkan pengendara mobil dengan memotong badan mobil karena pengemudinya dalam keadaan terjepit didepan kemudinya dan sulit untuk ditarik keluar. Yuda mencoba merangsek kedepan mendekati mobil itu namun di halang-halangi seorang petugas.

" Itu teman saya pak..!" ujar Yuda sedikit histeris.

" Maaf pak..! nanti saja..sekarang biarkan kami yang bekerja...!", balas petugas itu tegas.
Yudapun hanya bisa menatap dari kejauhan tapi terlihat jelas bahwa pengemudi kendaraan itu adalah benar Aldi. Hatinya tersayat pedih menyaksikan Aldi yang kaku tak bergerak dengan wajah dan sekujur tubuhnya bersimbah darah sementara para petugas masih bekerja keras untuk mengeluarkannya. Yudapun tak kuasa menahan sedih dan harunya, tanpa disadari airmatanyapun menetes apalagi saat ingat beberapa hari lalu dirumah sakit tempat ia menjalani program bayi tabung. Setelah Aldi keluar dari ruang dokter dan tanpa basa basi meninggalkannya begitu saja, Yuda berinisiatif menanyakan perihal Aldi kepada dokter yang memeriksa. Dengan beberapa alasan yang diutarakan Yuda, dengan sidikit terpaksa akhirnya dokter itu memberi sedikit penjelasan perihal Aldi, " dari pemeriksaan laboratorium yang telah kami lakukan terhadap saudara Aldi, kami bisa menyimpulkan bahwa tingkat kesuburan sperma dari saudara Aldi sangat rendah dan maaf kalau boleh saya bilang bahwa saudara Aldi mandul karena secara alamiah bisa dikatakan sperma saudara Aldi tak akan mampu membuahi sel-sel telur dalam rahim seorang wanita". Yuda sedikit terhenyak mendengar pernyataan dari dokter itu.
" Maaf..dok !, apakah kemandulannya disebabkan adanya penurunan tingkat kesuburan karena bertambahnya usia dok..?", tanya Yuda lagi.
" Kami belum melakukan pemeriksaan lebih lanjut, tetapi bila melihat tingkat kesuburan dari saudara Aldi saya merasa kemungkinan besar kemandulannya akibat adanya kelainan anatomi atau bisa dikatakan sejak lahir ". Yuda kembali tertegun, begitu banyak pertanyaan yang ada di benaknya saat itu...bagaimana dengan kedua anaknya..?, siapa ayah mereka sesungguhnya...? karena tanpa bermaksud mengingkari kuasa Tuhan rasanya Aldi tak mungkin bisa mempunyai anak. Itu mungkin juga yang menjadi tanda tanya besar bagi seorang Aldi, Yudapun maklum bila kemudian Aldi begitu terpukul menerima kenyataan bahwa ia seorang pria mandul dan lebih terpukul lagi setelah menyadari kenyataan bahwa selama ini ia merasa bahwa istrinya telah membohonginya.



Selengkapnya...

TANYAKANLAH

Jumat, 15 Mei 2009

Tuan tanyakanlah pada sebatang pena itu
Mengapa seorang lelaki menjadi seorang pecundang
Tanyakanlah...!
Tuan tanyakanlah juga pada selembar kertas lusuh dan kusam
Mengapa seorang lelaki kehilangan harga diri
Tanyakanlah...!

Lalu Tuan tanyakanlah pada tetes-tetes tinta yang mulai mengering kusam
Mengapa seorang lelaki terdiam membisu
Tanyakanlah...!

Namun...Jangan tanyakan pada lelaki itu
Mengapa tak berdasi...tak bermobil...tak berharta
Seorang lelaki menjadi seorang pecundang...
Seorang lelaki kehilangan harga diri...
Seorang lelaki terdiam membisu...
Jangan tanyakan...! Selengkapnya...