BUKAN SKENARIO

Senin, 02 November 2009

" Hei Ton..! aku sudah sampai Pancoran nih. Kamu ada dimana ?" seru Raditya melalui handphonenya.
" Oh..kamu Dit, aku masih di kantor. Lebih baik kamu langsung saja kerumah. Awas..! kalau sampai menginap di hotel. Putus hubungan pertemanan kita " balas Anton sambil berseloroh.
" Oke bos ! beres..tapi bila aku menginap dirumahmu, nggak ganggu neraca keuangan kan ?"
" Sialan..! tenang aja deh. Bakalan aku servis abiss.." merekapun tertawa dan setelah menutup pembicaraan mereka, Raditya langsung mengarahkan kendaraannya ke arah Pejaten Pasar Minggu menuju kediaman Anton. Anton dan Raditya telah menjadi sahabat karib sejak bersekolah di salah satu SMA kota Cirebon, begitu akrabnya mereka sehingga dimana ada Anton disitu juga ada Raditya. Bolos sekolah, nongkrong bahkan tawuranpun mereka sama-sama. Dan kini setelah lulus merekapun sama-sama merantau, Anton ke Jakarta dan meniti karir di media televisi swasta sedangkan Raditya menjadi seorang pengusaha sukses di Bandung. Anton menikahi Tania gadis teman satu SMA mereka, sehingga Raditya tak canggung dengan keluarga Anton dan seringkali saat ada keperluan bisnis di Jakarta Raditya selalu bermalam di rumah keluarga Anton. Walau sebenarnya itu bukanlah keinginannya tapi semata-mata untuk menyenangkan sahabatnya saja. Sedangkan Anton memang punya kepentingan sendiri dengan meminta Raditya selalu menginap di rumahnya bila ke Jakarta, selain menunjukkan bahwa ia tak melupakan persahabatan mereka namun jauh dilubuk hatinya Raditya dianggapnya sebuah aset. Sebagai pengusaha yang sukses tentunya dari segi finansial Raditya adalah orang yang berkecukupan, dengan begitu Anton berharap Raditya dapat membantunya memecahkan masalah yang sering ia hadapi terutama bila menghadapi masalah kesulitan keuangan. Sekian tahun bekerja Anton merasa tak mengalami perubahan, jalan ditempat dan tak ada peningkatan dari segi karir maupun finansialnya. Raditya tentunya tahu hal itu sehingga ia tak segan-segan mengucurkan uang simpanan yang dimilikinya bila Anton sewaktu-waktu membutuhkan. Terakhir Raditya membantu biaya pengobatan ibu Anton yang sakit jantung akut, kini telah sembuh dan dibawa Anton ke Jakarta," agar lebih mudah mengawasinya " ujar Anton waktu itu. Padahal Anton membawa ibunya ke Jakarta karena ayahnya sendiri telah lama meninggal sedangkan adik-adiknya yang juga sudah berkeluarga merasa keberatan merawat ibu mereka yang sakit-sakitan. Waktu itu seluruh biaya pengobatan ibu Anton serta biaya membawanya ke Jakarta semua ditanggung Raditya tanpa mengharap pamrih walau Anton berjanji akan mengembalikannya dengan cara mencicil.

Setibanya di perempatan lampu merah Pasar Minggu Raditya membelokkan kendaraanya kekanan memasuki daerah Pejaten. Setelah melewati dua buah tikungan sempit sampailah ia di depan gerbang rumah Anton. Pintu gerbang dibuka oleh pembantu rumah tangga yang sudah ia kenal baik dan di beranda rumah sudah berdiri ibu Anton, Tania juga Sandra adik Tania. Ibu Anton sudah menganggap Raditya seperti anaknya sendiri, sehingga ia terlihat begitu gembira menyambut kedatangannya kembali. Raditya langsung mencium lengan ibu Anton dan kemudian memeluknya, lalu menjabat tangan Tania juga Sandra.
" Wah.. nak Adit, sudah lama sekali ya..tidak kesini. Kemana saja ?" sambut ibu Anton ramah.
" Ah..biasalah bu, dirumah banyak pekerjaan ".
" Istrimu ndak diajak toh..?"
" Ya nggak lah bu!, anak-anak kan masih sekolah. Lagipula saya kesini ada urusan pekerjaan bukan jalan-jalan " ujar Raditya sambil tertawa.
" Ya sudah sana..kamu istirahat dulu, biar Tania yang mengantarmu ".
" Biar saya saja bu..! mari..mas, saya antar !" ajak Sandra sambil melemparkan senyum.
Setelah merapihkan barang-barang bawaannya dan istirahat sejenak, Raditya kembali ke beranda depan bergabung dengan ibu Anton dan Tania yang sudah duduk disana. Merekapun berbincang diselingi senda gurau sambil menunggu Anton pulang dari kantornya. Satu jam berselang Anton pulang dan menemui mereka yang sedang asik ngobrol.
" Wah..! sedang membicarakan aku ya.." ujar Anton.
" Ihh..ge-er banget ! siapa yang membicarakan mas Anton, iya kan bu !?" balas Tania, ibu Anton hanya tersenyum-senyum saja. Raditya menghampiri Anton yang baru saja datang dan merekapun berpelukan layaknya sahabat yang lama tak jumpa.
" Sepertinya tambah gendut saja kau..Ton !" ujar Raditya sambil menepuk-nepuk perut Anton.
" Ah..bisa saja kau. Eh..bagaimana kabar mbak Silvi juga si bungsu ?" tanya Anton.
" Syukurlah..semua sehat-sehat saja "
" Oke Dit..! aku mau kebelakang dulu. Terusin deh..ngobrolnya " ujar Anton sambil berlalu ke dalam diikuti oleh Tania. Tinggal lah Raditya bersama ibu Anton meneruskan obrolan mereka.

Hari telah meninggalkan senja, selimut malampun telah terbentang menyelimuti hamparan langit. Cahaya temaram bulan sabit tak mampu menandingi cahaya-cahaya yang berpendar dari lampu-lampu jalan dan rumah-rumah yang cukup padat di selatan Jakarta itu. Dengan ditemani istrinya, Anton masih berbincang-bincang dengan Raditya di beranda depan itu sedangkan ibu Anton dan Sandra sudah pergi tidur sejak tadi. Topik yang mereka perbincangkan juga bermacam-macam, dari kenangan mereka selama di SMA lalu tentang pekerjaan juga soal rumah tangga. Seperti biasa obrolan mereka begitu hangat, akrab diselingi canda dan tawa.
" Eh..sorry Ton !, sebelumnya aku minta maaf. Mungkin aku hanya menginap satu malam saja disini " ujar Raditya tiba-tiba.
" Lho..memangnya kenapa Dit ?"
" Besok aku ada meeting di hotel Borobudur dengan beberapa kolegaku, dan kemungkinan sampai larut malam. Aku pikir daripada aku capek bolak-balik lebih baik sekalian saja aku menginap disana. Kamu nggak keberatan kan ?"
" Ya..nggak apa-apa sih. Berapa hari meetingnya ?"
" Tergantung !, bila agenda yang akan kami bahas bisa selesai besok berarti cuma satu hari. Tapi bila belum selesai pastinya dilanjutkan keesokan harinya ".
" Oh..begitu, ya..deh !".
Setelah rasa kantuk mulai menyerang dan mata mulai terasa berat mereka sepakat untuk beristirahat. Raditya menuju ruang tidur yang terletak di lantai dua bersebelahan dengan ruang kerja Anton yang biasa ia gunakan saat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kantor atau hanya sekedar membaca buku-buku yang memang cukup banyak dan tertata rapih di rak buku. Raditya membuka gorden jendela kamar lebar-lebar, kemudian memandangi kerlap-kerlip lampu dari beberapa rumah. Juga terlihat olehnya beberapa kendaraan yang lewat karena memang rumah Anton hanya beberapa meter saja dari jalan raya alternatif yang menghubungkan Pasar Minggu ke Kalibata atau Mampang Prapatan. Walau pemandangan yang ia lihat tak seindah jika dibandingkan dengan pemandangan yang ada di Bandung, tapi itu cukup membuatnya senang. Ia merebahkan tubuhnya perlahan dan mencoba memejamkan mata, sedang Anton dan istrinya masih menonton televisi di ruang tidur mereka. Jarum jam terus berdetak, malam pun mulai merambat menapaki ujung hari. Waktu telah menunjukkan hampir tengah malam, ketika sebuah bayangan keluar dari kamar dan menutup pintunya kembali perlahan. Dengan sangat hati-hati dan berusaha tidak menimbulkan suara, bayangan itu berjalan perlahan menuju sebuah kamar lain lalu mengetuk daun pintunya.
" Kok lama sayang..?" tanya seseorang di balik pintu, sedangkan yang ditanya tak menjawab, ia hanya tersenyum lalu tanpa berlama-lama merekapun bersatu dalam pelukan.


* * * * * * * * * *

Setelah berpisah di perempatan Tugu Pancoran, Anton dan Raditya berpisah. Anton melanjutkan perjalanan ke arah Grogol menuju tempat kerjanya sedang Raditya memilih jalan Tebet Raya untuk menuju ke Hotel Borobudur. Dalam perjalanan Anton bersiul-siul gembira, karena merasa skenario yang telah ia susun jalannya sudah terbuka, suatu rencana busuk yang telah ia rencanakan dengan matang. Sebenarnya rencana itu telah ia siapkan saat Raditya mengabarkan akan datang ke Jakarta, sayangnya saat ia basa-basi menawarkan untuk menginap di rumahnya Raditya mengiyakan. Padahal ia mengharapkan Raditya menolak, karena jika menginap di rumahnya rasanya mustahil menjalankan skenario yang ia inginkan. Saat ini Anton sedang dirundung masalah yang cukup membuatnya pusing tujuh keliling. Ia terlibat hutang yang cukup besar pada seseorang, karena hobinya bersenang-senang dan main judi membuatnya terperangkap dalam situasi yang ia sendiri tak sanggup menyelesaikannya. Anton sudah beberapakali didatangi oleh Debt Collector yang datang untuk menagih hutang-hutangnya.

Terinspirasi oleh berita-berita yang begitu gencar ditayangkan televisi yaitu tentang seseorang yang terbunuh dan melibatkan seorang pejabat negara, Anton mendapat ide gila, busuk dan keji. Ia merencanakan untuk memeras seseorang dan orang yang akan ia peras adalah Raditya, sahabatnya sendiri. Ia tahu betul akan pribadi Raditya, Anton yakin Raditya akan mengorbankan apapun yang ia miliki untuk menjunjung harkat dan martabat keluarga, satu kelebihan dari pribadi Raditya yang akan dijadikan titik lemah oleh Anton. Ia berencana mengumpankan seorang wanita pada Raditya dan berharap umpannya mengena. Kemudian ia akan mengabadikannya dengan foto ataupun video kamera. Dengan itulah Anton akan memeras Raditya dan tentunya Anton yakin Raditya akan memenuhi semua permintaannya karena tak ingin keharmonisan keluarganya hancur berantakan.

Sebenarnya Anton sempat ragu menjalankan rencana itu karena sempat terpikir olehnya bila meminta pertolongan secara baik-baikpun rasanya Raditya tak keberatan. Anton juga ragu karena ia tidak tahu persis apakah Raditya termasuk lelaki yang mudah terpesona oleh kecantikan dan kemolekan tubuh seorang wanita. Namun semua keraguan itu sirna karena sifat serakah dan rakus telah membutakan mata hatinya, skenario yang telah ia susun tetap akan dijalankan sesuai rencana. Hubungannya yang luas dengan dunia gemerlap membuat Anton tak menemui kesulitan untuk mendapatkan seorang wanita cantik untuk dijadikan umpan dan lingkungan kerja di dunia pertelevisian juga memudahkannya mendapat kamera video mini untuk merekam pertemuan wanita itu dengan Raditya. Dan terakhir, juru foto yang ditugaskan untuk mengabadikan rencana jahatnya itu ia temui atas rekomendasi seorang temannya. Semuanya direncanakan dengan hati-hati, wanita dan sang juru foto akan dibayar cukup besar karena ia tak ingin skenario yang ia buat justru berbalik padanya. Dia juga mengajak seoarang bawahannya yang loyal untuk di jadikannya kaki tangan dalam menjalankan skenarionya itu.

Di lain tempat Raditya juga merasa senang namun juga tak enak hati telah membohongi Anton. Karena sebenarnya ia tak punya agenda untuk mengadakan meeting dengan koleganya di hotel Borobudur, tujuan sesungguhnya adalah dapat dengan bebas bertemu dengan seseorang untuk menghabiskan waktu bersama. Menghembuskan buih-buih hasrat yang sekian lama terpendam dan bergejolak dalam dada, lama terpatri dan terkungkung dalam ikatan sakral perkawinan. Dering handphone membuyarkan lamunan Raditya..
" Eh..Dit, sudah sampai mana ?"
" Aku baru sampai Gondangdia Ton..!" bohong Raditya padahal ia masih di jalan Tebet Raya.
" Nanti kalau sudah dapat kamar, beritahu aku ya..! kabari juga kapan kembali ke Bandung, barangkali aku bisa menyempatkan waktu untuk berkunjung sebelum kamu pulang " ujar Anton sambil meyeringai licik. Padahal ia hanya perlu tahu di kamar mana Raditya akan tinggal demi memudahkannya menjalankan skenario. Sedangkan Raditya berpikir, " wah..jika kau datang, bisa buyar rencanaku Ton.." namun ia coba tetap bersandiwara.
" Ya! beres Ton, tapi jika mau datang kabari aku juga ya. Aku nggak enak jika kamu datang aku masih sibuk meeting "
" Oke..!" merekapun sama-sama tersenyum penuh kemenangan.
Setelah menutup pembicaraan mereka, Raditya segera menghubungi seseorang. Tak sampai setengah jam merekapun bertemu dan langsung meluncur ketempat tujuan. Hari masih pagi namun arus kendaraan sudah mulai terlihat padat, di beberapa titik malah sudah terjadi kemacetan yang memang sudah menjadi pemandangan lumrah di jalan-jalan ibukota. Luapan asap knalpot kendaraan serta kemacetan yang ada, dengan cepat menjadikan suhu udara menjadi panas, sepanas gelora hasrat kedua insan yang dimabuk asmara.

Anton mulai menjalankan skenarionya, melalui kaki tangannya ia mengirim juru foto ke hotel Borobudur dengan membekalinya satu foto close-up Raditya. Tujuannya untuk mensurvei tempat juga mengenali targetnya terlebih dahulu sebelum wanita yang akan dijadikan umpan ia kirim. Semuanya sudah ia perhitungkan dengan matang dan mencoba menghindari setiap celah yang sekiranya akan menggagalkan skenarionya.
Menjelang petang Anton terlihat tengah menikmati sebatang rokoknya, menghisap lalu menghembuskan asapnya perlahan. Hatinya sedang gelisah, sebentar-sebentar ia bangkit dari duduknya dan mondar-mandir didepan meja kerja. Dalam hati ia bertanya-tanya " apakah skenario yang telah ia susun rapi berjalan sesuai rencana ?". Namun kegelisahannya seakan terhapus dan mulai tersenyum saat membayangkan setumpuk uang dalam koper berada di hadapannya.
" Tok..tok..tok !" tiba-tiba ketukan pada daun pintu membuyarkan lamunannya.
" Masuk..!"
Perlahan daun pintu terbuka, Iwan seorang bawahan yang dijadikan kaki tangan dalam menjalankan rencananya masuk. Kepalanya tertunduk dan wajahnya terlihat pucat pasi, di tangannya tergenggam sebuah amplop coklat. Anton agak bingung melihat tingkah laku Iwan, sempat terpikir kalau skenarionya gagal.
" Ada apa dengan kamu ? rencana saya gagal ?"
" Ti..ti..tidak bos..!" jawab Iwan gugup.
" Lalu mengapa kamu terlihat gugup seperti itu ?" Tanya Anton lagi. Iwan tak menjawab, dengan tangan sedikit gemetar ia menyodorkan amplop coklat yang dipegangnya.
" Apa ini..?" tanya Anton sambil menerima amplop itu lalu segera membukanya, matanyapun terbelalak. Giginya gemeletuk menahan amarah yang meluap-luap. Tangannya dengan cepat membuka lembaran-lembaran foto yang ada ditangannya. Ia seakan-akan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, beberapa pose dari foto itu memperlihatkan kemesraan Raditya dengan seorang wanita.  Yang menyesakkan dadanya adalah Raditya bermesraan bukan dengan wanita yang sengaja ia umpankan, melainkan dengan Tania...istrinya !. Wajahnyapun merah padam, darahnya menggelegak, napasnya mulai sesak. Tangannya terkepal meremas foto-foto itu, lalu pukulannya mendarat keras di meja kerjanya. " Bruakkk...!!"
" Bangsaaaaat..!! bajingaaaaan....!!"

Sungguh..! bukan ini skenario yang ia inginkan.



Lenteng Agung' 08



Selengkapnya...

SURAU BAMBU

Kamis, 08 Oktober 2009

Pukul 02.00 dinihari, lalu lintas kendaraan terlihat sepi. Hanya sesekali saja terlihat kendaraan melintas seperti saat ini sebuah mobil BMW hitam metallic keluaran terbaru meluncur dengan kecepatan sedang. Jalan kendaraan terlihat sedikit oleng karena Ahmad si pengendara mobil itu cukup mabuk untuk dapat berkonsentrasi secara penuh dalam mengendarai mobilnya. Ya… memang dia baru saja keluar dari sebuah pub & diskotik seperti yang biasa ia lakukan di malam-malam sebelumnya. Mencari hiburan dan melarikan diri dari beban pikiran hidup juga beban pekerjaan yang tak ada habisnya dengan menenggak beberapa botol minuman keras. Malam ini ia cukup tahu diri dengan tidak membawa kendaraannya melaju kencang dan ugal-ugalan karena ia merasa cukup banyak menenggak minuman, entah karena memang dia ingin atau karena rayuan waitress cantik yang menemaninya tadi.

Ditengah perjalanan tiba-tiba Ahmad merasakan ada yang tidak beres dengan mobilnya, jalannya tersendat-sendat dan pedal gaspun seakan tak berfungsi. Iapun segera menepikan kendaraannya dijalan yang sangat sepi juga gelap karena tak ada lampu penerangan yang menerangi jalan, hanya cahaya bulan sabit yang cukup berbaik hati memberikan sedikit cahaya. Ahmad mengutuk dalam hatinya, sejenak ia terpekur didepan kemudi. Ahmad tidak tahu persis di daerah mana ia berhenti, jalan yang sepi dan gelap itu sedikit membuatnya jeri jangan-jangan ia akan jadi sasaran empuk para oknum kriminal. Keinginan untuk segera merebahkan dirinya dikasur empuk membuat Ahmad segera membuka pintu dan turun untuk memeriksa mesin mobil, sejenak ia memperhatikan lingkungan disekelilingnya. Ada perasaan aneh menyelimuti dirinya, ia merasa seakan-akan mengenali tempat ini.

Tiba-tiba terlihat olehnya cahaya berpendar dari kejauhan namun cahaya itu sebentar-sebentar menghilang dari pandangannya, cahaya apa..? darimana asalnya..? beberapa pertanyaan yangmenggayut di benaknya. Lalu seperti ada yang menuntun iapun melangkah untuk mencari dan mendekati cahaya yang ia lihat tadi. Pengaruh alkohol membuat langkahnya sedikit terhuyung, apalagi beberapakali kakinya terantuk gundukan tanah atau batu karena jalan yang gelap membuatnya kesulitan menatap jalan yang dilaluinya. Ahmad sendiri merasa cukup heran, di Jakarta yang penduduknya sangat padat dengan rumah yang berhimpitan ternyata masih ada daerah yang sepertinya belum terjamah. Karena tak dilihatnya sedikitpun tanda-tanda ada rumah didaerah itu, tak ada lampu penerangan walau lampu templok sekalipun. Ia melangkah hati-hati dan perlahan karena ia tak mau mengalami nasib konyol terperosok dan tersungkur ketanah. Dalam hatinya berharap mudah-mudahan tak ada parit atau sungai kecil ditengah jalannya.Cahaya rembulan samar-samar memperlihatkan bahwa saat ini ia berada ditengah hutan bambu. Hembusan angin yang berdesir seakan mengajak pohon-pohon bambu yang menjulang tinggi dihadapannya untuk menari, bergerak kekiri dan kekanan mengikuti irama angin. Suara berderak dari batang-batang bambu yang bergesekan juga gemerisik suara dedaunan yang tertiup hembusan angin bagai symponi yang membawanya pada ingatan akan masa lalu. Ahmad terus melangkah mendekati cahaya yang tadi dilihatnya walau terkadang langkahnya menggerus tumpukan-tumpukan daun bambu kering.

Cahaya itu masih saja terlihat ada dan hilang bergantian karena mungkin terhalang batang bambu yang terus bergerak. Semakin jauh Ahmad melangkah yang dirasa malah rumpun bambu semakin rimbun dan semakin lebat seakan tak celah diantaranya untuk menembusnya, bulu-bulu halus yang menempel pada batang bambu mulai membuat badannya sedikit merasa gatal namun tak mengurangi rasa penasarannya mendekati sumber cahaya. Ahmad mulai dihinggapi rasa putus asa namun disela-sela keputus asaannya itu tiba-tiba dilihatnya rumpun bambu didepannya bergeser dan mulai merenggang seakan memberinya jalan. Apa yang terjadi..? siapa yang berbuat..? pertanyaan-pertanyaan kembali mengusik, namun pertanyaan-pertanyaan itu tertahan dan tak mengharap jawaban karena cahaya terang benderang tiba-tiba menerpa dan menyapa ke dua bola matanya. Ahmad sempat berpaling karena matanya terlalu kaget dengan transisi dari gelap dan terang benderang yang begitu tiba-tiba, ia mengangkat kedua telapak tangannya dan diletakkan didepan matanya sebagai tameng.

Ketika matanya mulai bisa menyesuaikan diri dilihatnya sebuah bangunan yang hampir semua bagiannya terbuat dari bahan bambu terlihat nyata dihadapannya. Matanya juga menangkap sekumpulan anak-anak berpakaian muslim duduk berjejer rapih dihadapan seorang tua berpakaian serba dengan selembar sorban melilit dikepalanya. Duduk bersila sambil mendengar dan memperhatikan satu persatu anak dihadapannya melapalkan ayat-ayat suci alquran, terkadang ia menghentikan bacaan anak-anak itu untuk memperbaiki ucapan yang salah lalu memintanya untuk mengulang sampai ayat yang dibaca terucap dengan benar. Apa yang dilihat Ahmad seperti sebuah kegiatan belajar mengaji yang dilakukan anak-anak dengan orang tua itu sebagai guru mengajinya. Ahmad tertegun menyaksikan apa yang ada dihadapannya, ia berusaha mengumpulkan ingatan yang ada dikepalanya. Ia merasakan pernah mengalami apa yang dilihatnya itu dan orang tua itupun seakan-akan pernah dikenalnya, entah kapan dan dimana ? ia tak ingat sama sekali.

Walau kecakapan dan kemampuan murid-murid membaca ayat-ayat suci itu terdengar berbeda-beda namun terdengar lebih banyak yang masih kesulitan membaca dengan benar. Hanya segelintir saja yang sudah cakap dalam melapalkan ayat-ayat alquran itu dan alunannya pun meresap kedalam kalbu bagi yang mendengarnya. Salah satunya adalah anak murid laki-laki yang terlihat memakai baju koko warna coklat. Orang tua itu terlihat tersenyum bahkan sesekali menganggukkan kepalanya tanda senang mendengar kecakapan anak itu membaca namun begitu orang tua itu tetap memberi nasehat saat anak itu menyelesaikan bacaannya. Ada juga beberapa murid perempuan yang cakap dalam membaca, salah satunya yang berkerudung putih. Seperti saat mendengarkan murid laki-laki membaca, kali inipun ia tersenyum dan manggut-manggut juga memberi nasehat murid perempuan itu setelah selesai membaca. Tampaknya orang tua itu cukup puas mengetahui kemampuan murid-muridnya sudah mulai meningkat walau ia masih harus cukup bersabar dan tekun mengajari murid-murid yang tertinggal.
Sejenak orang tua itu melirik jam dinding yang menggantung di para-para bambu, ia menyelesaikan kegiatan mengaji untuk dilanjutkan esok hari.

Ia berbicara dengan anak laki-laki yang berkoko coklat tadi, entah apa yang di bicarakan. Orang tua itu bangkit dari duduk silanya lalu menuju sebuah bedug yang terletak sisi kiri surau itu, sebentar kemudian suara pukulan bedug itu berdentam lalu kemudian diikuti suara azan yang mengalun mengajak para muslimin dan muslimat menghentikan kegiatan sejenak untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Alunan suara azan mengalun merdu meresap ke dalam relung sukma dan begitu menggetarkan hati Ahmad ternyata di kumandangkan anak laki-laki itu. Ahmad tertunduk, alunan azan itu menyadarkan dirinya bahwa kini ia begitu kotor dan begitu nista. Telah lama ia mengabaikan suara panggilan itu, telah lama ia meninggalkan semuanya hingga perasaannya kini diliputi rasa penyesalan yang begitu mendalam. Satu persatu orang datang untuk sholat berjamaah yang kemudian dipimpin orang tua berjubah putih itu sebagai imamnya. Selesai sholat matanya tertuju pada anak laki-laki berkoko coklat itu, pastilah orang tuanya merasa amat bangga. Matanyapun tak lepas menatap saat anak itu melangkah pulang sampai kemudian lenyap dari pandangan mata.
“ Anak itu adalah kau Ahmad..!” sebuah suara yang tiba-tiba terdengar dari arah belakang dan kemudian terasa seseorang menepuk bahunya. Ahmad terkejut bukan kepalang, ia langsung menoleh kearah suara itu datang dan dilihatnya orang tua berjubah putih itu tersenyum kepadanya. Mulutnya terasa terkunci, ia seakan tak sanggup mengucap satu patah katapun. Bukan karena takut tapi karena ia tiba-tiba mengenali betul siapa orang tua itu, segera tangannya meraih tangan orang tua itu lalu menciumnya.
“ Sudah lama kau tidak menyambangi suraumu ini nak, kemana saja kau selama ini..?”
“ Ya.. pak haji, sa..sa..saya !” Ahmad tak mampu meneruskan kata-katanya, air matanya menetes. Teguran lembut dari pak haji secara tak langsung seakan menghujam dadanya dan penyesalan yang begitu dalam kembali dirasakannya.
“ Saya tahu apa yang kau rasakan nak..! juga masalah-masalahmu. Tetapi seharusnya agama yang telah kau pelajari dan ayat-ayat alquran yang telah kau baca bisa menjadi pedoman dan mampu menuntunmu ke jalan yang diridhoi Tuhan, bukan jalan sesat yang kini kau ambil.. ‘’
‘’ Maafkan saya pak haji, saya tidak kuat.. !. Beban hidup saya terasa begitu berat ‘’
‘’ Beban yang kau rasakan itu ..hanya ujian nak !, Tuhan tak akan memberi ujian kepada hambanya bila hambanya itu tak mampu menghadapinya. Seharusnya kamu mampu.. ! ‘’ ujar pak haji masih dengan suara lembutnya. Ahmad hanya bisa tertunduk, air matanya mulai menetes saat menyadari bahwa dirinya begitu lemah dalam menghadapi cobaan hidup yang menderanya.
‘’ Sudahlah nak ! tak ada yang perlu kau sesali. Sekarang pulanglah, bersihkan dirimu dan kembalilah kesurau ini. Alunkanlah lagi ayat-ayat alquran dan dekatkanlah dirimu pada Allah niscaya segala ujian dan cobaan akan kamu hadapi dengan mudah. Satu lagi pesan saya, tolong kau rawat surau ini dan tolong kau jaga sebaik-baiknya “ ujar pak haji sambil menepuk-nepuk bahu Ahmad, ia hanya mengangguk perlahan kemudian mencium lengan pak haji saat orang itu beranjak kembali menuju surau. Sesaat kemudian alunan merdu ayat-ayat suci alquran kembali terdengar, meresap kedalam relung hati dan meninabobokan Ahmad.

“ Pak...bangun pak ! sedang apa bapak disini..?” ujar seseorang sambil mengguncang-guncangkan bahu Ahmad. Perlahan Ahmad membuka kelopak matanya namun ia begitu kaget saat mengetahui dirinya tertidur di sebuah pintu masuk komplek pertokoan. Yang membangunkannya ternyata security dari komplek itu dan Ahmad cukup beruntung karena masih memakai lengkap pakaian kerjanya dengan dasi yang melilit di leher sehingga security masih cukup sopan membangunkannya. Bila ia berpakaian gembel barangkali ia sudah dimaki, dibentak dan diusir layaknya anjing buduk yang di harapkan kehadirannya disitu. Matanya nanar menatap ke sekeliling, tak ada lagi surau, tak ada lagi rimbunnya pohon bambu dan tak ada lagi sosok pak haji terlihat. Yang ada hanya deretan ruko dan perkantoran yang gersang tak berpohon, di belakangnya berdiri rumah-rumah pemukiman yang berhimpit-himpitan. Sungguh begitu kontras dengan apa yang dilihatnya tadi malam atau sebelum ia jatuh tertidur.

Satu tahun kemudian Ahmad datang kembali ketempat itu, kali ini tempat itu telah berdiri sebuah masjid megah dengan beberapa rumpun bambu yang sengaja ditanam disisi kiri dan kanan masjid itu. Ahmad tersenyum puas, dari kejauhan dilihatnya sosok pak haji berdiri didepan masjid dan melambaikan tangan padanya sambil tersenyum walau sesaat kemudian menghilang. Sekali Ahmad memandangi masjid megah yang telah dibangunnya serta rumpun bambu yang melambai-lambai kearahnya. Ia kembali tersenyum, baginya masjid ini tetaplah surau bambunya.


Kampung Sawah
Minggu, 08 Juli 2009
Selengkapnya...

HARI MASIH MENDUNG

Senin, 05 Oktober 2009

Hari masih mendung pak...!
Turunkan layang-layang dari langit
Simpan...!, lindungi..! dan beri kehangatan
Tegakah..? melihat ia tercabik-cabik tetes hujan
Ibakah...? melihat ia luluh lantak lalu terhempas

Hari masih mendung bu...!
Tinggalkan telenovela picisan, angkat jemuran
Rapikan...!, simpan..! dan lindungi
Tegakah..? melihat ia basah kuyup dan kedinginan
Ibakah...? melihat ia terhempas angin dan jatuh berkubang lumpur kembali



Hari masih mendung pak..!
Hentikan menghitung amplop-amplop yang tak muat di saku
Hari masih mendung bu...!
Hentikan paduan suara sumbangmu, bila tak tahu kenapa..? dan mengapa..?

Jangan biarkan nasib bagai layang-layang yang bisa dimainkan sesuka hati
Jangan biarkan nasib bagai jemuran yang tak pernah kita tahu kedinginankah..? atau kepanasankah..?
Lihat...! lihatlah, wahai yang terhormat
Lihat...! and do something..!!
Selengkapnya...

I HAVE NO IDEA...!!

Selasa, 29 September 2009

Sehabis libur hari raya, pekerjaan yang ada malah bertumpuk. Mau tak mau harus pilih-pilih mana pekerjaan yang jadi prioritas untuk di selesaikan terlebih dahulu. Hal itu berdampak nggak mood untuk menulis ( ngga punya ide orisinil ), namun karena ingin hubungan dengan sahabat-sahabat tetap terjalin maka dengan " terpaksa " saya copas sebuah cerita untuk up date blog saya ini. Mudah-mudahan berkenan...

" SAYA AYAH KORBAN...!! "

Jatuhnya korban pada arus mudik tahun ini diperkirakan meningkat jika di bandingkan tahun-tahun sebelumnya. Untuk mendapatkan berita terkini, seorang wartawan foto dari sebuah surat kabar dikirim ke titik rawan kecelakaan pada jalur Pantura.


Suatu saat sang wartawan melihat kerumunan orang memenuhi tepi jalan raya sehingga menimbulkan kemacetan arus lalu lintas, naluri jurnalistiknya tergerak.." pasti ada kecelakaan..!" pikir sang wartawan dalam hati. Namun sesampainya di tempat kejadian, sang wartawan kesulitan menerobos kerumunan orang-orang yang menonton walau ia sudah mengatakan bahwa ia wartawan. Diluar kerumunan sang wartawan berpikir keras bagaimana caranya untuk dapat menerobos kerumunan agar bisa mendapat foto sang korban.
Akhirnya ia mendapat ide...

" Minggir...minggir !! saya ayah korban...saya ayah korban, beri saya jalan..." teriak sang wartawan. Benar saja...orang-orang yang berkerumun dengan seketika memberinya jalan, dalam hati sang wartawan terkekeh.." he..he ideku ternyata manjur juga...!". Namun orang-orang yang memberinya jalan memandang sang wartawan dengan tatapan aneh..." Ah..masa bodoh orang mau bilang apa ! yang penting ideku berhasil..." pikir sang wartawan sambil tersenyum.

Ketika sampai ditengah kerumunan, sang wartawanpun terpana saat melihat seekor anak monyet tergeletak tak berdaya. Selengkapnya...

AWARD DARI SAHABAT

Minggu, 13 September 2009

Dari kisah Adam Dan Hawa yang kita tahu, sudah terlihat karakter sosial dari manuasi yaitu " tidak baik, bila manusia harus hidup sendirian ". Sebagian besar dari kita akan lebih senang bergaul atau bersosialisasi dengan orang lain jika dibandingkan harus hidup sendirian. Tak ada batasan bagi kita untuk bersahabat " dengan siapa kita bersahabat..?". Seorang filsup dari perancis ( Bacon ) berpendapat bahwa ada efek positif dari sebuah persahabatan yaitu efek kegembiraan, kesenangan atau bisa dibilang memotong kesedihan menjadi dua atau beberapa bagian. Dengan begitu seorang sahabat sebenar-benarnya sahabat dapat meringankan rasa sakit kita dan meringankan beban kita, juga dapat menguatkan kita, menjaga kita atau membantu kita. Dan tanpa kita tahu, seorang sahabat bahkan bisa menyelamatkan hidup kita.

Itu sekilas arti sahabat yang saya kutip dari beberapa sumber. Nah..bicara mengenai teman atau sahabat dari dunia maya, banyak yang menganggap itu hanya sebuah ilusi, tidak nyata atau hanya untuk kesenangan semata tapi bagi saya sahabat adalah sahabat tak perduli darimana dan dengan cara apa saya bersahabat.
Dan kali ini saya kembali dapat hadiah award dari sahabat Seti@wan Dirgant@ra ( pak Iwan )...







Ada juga hadiah award yang saya dapat secara tak sengaja karena mengikuti kuis iseng-iseng berhadiah dari mba Henny C Prasetya. Award yang imut, lucu dan cantik secantik yang buat...he..he..




Karena saya ingin punya banyak sahabat maka saya tak ingin memiliki award-award untuk disimpan sendiri maka award-award tersebut kembali saya hibahkan ke sahabat-sahabat antara lain :

Mba Fanny ( Sang Cerpenis Bercerita ) - Kabasaran Soultan - Bunda Elly ( New Soul ) - Mba Reni ( The Others ) - NURANURANIKU - Mba Dewi ( My Heart Soul Blog ) - AISHALIFE-LINE - BrenciA KerenS - Buwel - namaku Wendy - An4k SinGKonG - Pelangi Anak - A-chen - Gomel - Yudi WS - Neng Aia - Vie-three.

Khusus untuk Pak Iwan & Ibnu mas'ud saya hibahkan award kreasi dari mba Henny C Prasetya

Bagi yang namanya tercantum dan yang belum tercantum ( mohon maaf ) silahkan diambil award-award diatas bila berkenan. semoga tali silaturahim dan persahabatan dapat terus terjalin erat... Selengkapnya...

AWARD LAGI DARI MBA FANNY

Jumat, 04 September 2009

Wah..! beberapa hari ini blog saya " hanya ilusi & Uneg-uneg " di hujani award oleh sahabat ( untung belum kebanjiran..he..he ). Kali ini yang memberi award adalah duet penyanyi..eh..duet blogger kawakan yaitu mba Fanny & mba Fanda dengan F2 blognya. Namun ada PR yang harus saya kerjakan terlebih dahulu.
Nah..ini PR yang pertama yaitu puisi..

Ketika jari jemari menelusuri hamparan kertas..
Terpampang lekak-lekuk garis yang membentuk rupa berskala..
Kau pasti tahu kawan..
Terlihat gugusan-gugusan pulau terpampang..
Terlihat lautan-lautan luas membentang..
Terlihat dataran besar..dataran kecil terhampar
Begitu banyak..begitu luas..begitu besar..
Dengan hanya satu nama..INDONESIA..

Ayo kita rawat...!
Ayo kita pelihara...!
Ayo kita jaga...!
Jangan biarkan tangan-tangan kekar menjamahnya
Jangan biarkan tapak-tapak kotor menjelajahinya
Dan..
Jangan biarkan kita terpukul..baru kita memukul
Jangan biarkan kita terinjak..baru kita bertindak



Itu sekilas puisi yang terkesan asal tapi paling tidak sedikit menyuarakan isi hati..jiaaah.

Terlepas dari tindakan negara tetangga yang membuat keruh suasana, mungkin sebagai anak bangsa saya juga sedikit mengkritik kinerja aparat pemerintah dalam menjaga aset dan warisan budaya Indonesia, mengapa..? karena hanya baru-baru ini saja terdengar pemerintah pusat dan pemerintah daerah sibuk mendata warisan budaya kita..lho kemarin ngapain aja..?
Ah..sudahlah! terlalu berat bagi saya untuk bicara politik, namun barangkali lebih mudah bagi saya bila di buat sebuah perumpamaan..
" Saya bayangkan bila seseorang, taruhlah saya beri nama Pendi. Dia mempunyai
kekasih yang bernama Yuli. Barangkali banyak yang sudah tahu bila Yuli itu kekasihnya Pendi,tapi mungkin juga tak banyak yang tahu Yuli itu kekasihnya Pendi.
Dalam keseharian selama menjadi kekasih, perhatian Pendi terhadap Yuli terasa begitu kurang kalau boleh dibilang tak ada perhatian. Jangankan berkunjung di setiap malam minggu, untuk sekedar menelpon untuk menanyakan..bagaimana kabarmu..?, kamu sehat..?, kamu senang..? kamu sedih..?..itupun tak dilakukan. Suatu saat ada seseorang memberi perhatian lebih, entah sudah tahu atau belum tahu Yuli sudah punya kekasih..entah sengaja atau tidak sengaja merebut Yuli dari kekasihnya.
Lalu apakah Pendi mesti marah..? Ya mestilah..bahkan harus ? Namun apa yang harus Pendi jawab seandainya Yuli bertanya..pantaskah kamu marah..? "
Wadoh..jadi pusing sendiri nih..( ini gara-gara mba fan-fan nih..he..he )
Ya sudahlah..! itu PR yang no.1

PR no. 2 yaitu menghibahkan kembali award yang telah diterima ke blogger sahabat, dan kali ini untuk menguatkan tali silaturahmi saya kirimkan award ini untuk :
1. Mas Abd. Basid ( Pena Pagi )
2. Mas Seti@wan Dirg@ntara ( Fatamorgana )
3. Bang Kabasaran Soultan ( Kabasaran )
4. Bunda Elly ( Life With Your Own Vision )
5. Mba Aisha ( AISHALIFE-LINE )
6. Mba Dewi ( My Heart Soul Blog )
7. Mba Reni ( The Others ) )
8. BrenciA KerenS ( Brencia and her Thought )
9. Henny Y Caprestya ( Just ME, My Self, and I )
10. Nura ( NURANURANIKU )

Nah..bagi yang berminat silahkan di ambil... Selengkapnya...

SIAPA YANG GILA..?

Kamis, 03 September 2009

Ha..ha..ha..
Seorang lelaki setengah baya begitu menikmati tawanya
Tawa bagaikan stroberi merah ranum berselimut lelehan keju Swiss
Begitu lama ia tertawa sehingga tawanya kini terdengar mulai berirama
Kadang ha..ha..ha, kadang he..he..he, kadang hi..hi..hi

Seorang sahabat bertanya " Hai sahabat apakah kau begitu bahagianya, sehingga kau tidak bisa menghentikan tawamu..?"
Ha..ha..ha bahagia..? apakah tertawa itu hanya karena bahagia..? apakah karena bahagia aku harus tertawa..? ha..ha..ha
Tahukah kau kawan..aku tertawa karena kesedihanku, karena kegalauanku dan karena keresahanku..

Mengapa aku tertawa...?
Karena hanya ini yang bisa kulakukan..he..he..he..
Aku tak mampu mengusir kesedihanku karena istriku selingkuh...
Aku tak mampu menahan rasa galauku karena gajiku tak naik..naik..
Aku tak mampu mengabaikan keresahanku akan nasib anak-anakku kelak..

Sang sahabat berkata " Tapi kalau kau terus tertawa, kau bisa gila..!"
He..he..he gila..? apakah tertawa itu bisa membuat aku gila..? apakah aku bisa gila hanya karena aku tertawa..?
Tahukah kau kawan..aku tak bisa gila karena aku tertawa
Aku bisa gila bila kepalaku tak kuat berpikir..
Otakku terlalu kecil menampung pikiran yang sebenarnya tak perlu dipikir..

Sang sahabat berlalu pergi.." aku bisa gila dengarkan ocehanmu..!"
Dan sejak kepergian sang sahabat, tawa sang lelaki itupun berangsur pelan..
Sang sahabat ternyata membawa sebagian tawanya
Menjepit urat leher dan menyadarkannya dari candu tawa
Sang lelakipun mulai menata kesedihannya
Berkompromi dengan kegalauan dan keresahannya

Namun tiba-tiba sang sahabat tertawa, kakaknya tertawa, orangtuanya tertawa, gurunya tertawa, bosnya tertawa, anak buahnya tertawa...
Buat apa kau pikirkan istrimu yang tak setia..kuno..!
Diluar sana masih banyak gadis yang mengharap belaianmu..hi..hi..hi
Buat apa kau harus galau karena gajimu tak naik..kuno..!
Masih banyak uang yang bisa kau dapat dari korupsi..he..he..he
Buat apa kau resah memikirkan masa depan anakmu..kuno..!
Sebentar lagi kiamat akan datang..ha..ha..ha

Sang lelaki terpekur bingung..
" Sebenarnya siapa sih yang gila..!"
Selengkapnya...