KATAMU........

Jumat, 24 Desember 2010

Katamu......
Hembusan angin membawamu kepadaku
Membias dan telusuri lekuk wajah yang membeku
Mengetuk-ngetuk dinding hati yang membatu
Mengusap kalbu yang lebam membiru

Katamu.....
Hadirmu bagai ungu dikala senja
Ikuti kehendak mentari hiasi cakrawala di penghujung hari
Tak kuasa undurkan diri perlahan menuju peraduan
Entah kapan walau kau berjanji tuk kembali

Katamu.....
Tunggu aku bila kau mau
Selengkapnya...

MENGGALI POTENSI DIRI

Sabtu, 11 Desember 2010

" Kapanpun...Dimanapun..seseorang dilahirkan, orang itu dilahirkan sebagai pemenang. Tinggal bagaimana orang tersebut dapat menggali potensi yang ada pada dirinya " ( Quote yang pernah saya lihat dan dengar dari TV One )

Ada yang menarik ketika saya melihat acara itu, saya agak lupa tepatnya kapan tapi yang pasti di acara tersebut saya mendengar sebuah cerita yang sangat memotivasi, membuat saya termenung dan bertanya-tanya...Apakah saya punya potensi ? Lalu apakah potensi dalam diri saya sudah tergali ?.
Nah cerita dalam acara itu sebagai berikut :
Dikisahkan ada seorang pengemis di negara Perancis yang pekerjaan sehari-harinya hanya berharap dari belas kasihan dari orang lain, ia berjalan selalu menunduk karena berharap suatu saat menemukan barang berharga atau uang yang tercecer di jalan. Pada suatu hari dia datang ke sebuah Festival yang segala sesuatunya harus dibayar dengan uang, tapi ada sebuah tenda dimana seseorang bisa mendapakan ramalan secara gratis. Masuklah si pengemis ke dalam tenda dan kemudian sang peramal mengatakan bahwa seharusnya dia ( si pengemis ) bukanlah orang yang miskin karena garis tangan dan tanggal lahirnya sama dengan Napoleon Bonaparte. Si pengemis tidak percaya apa yang diucapkan sang peramal tapi ketika ada festival lain dan juga bisa mendapatkan ramalan gratis, sang peramalnya mengatakan hal yang sama dengan peramal sebelumnya. Sejak saat itu si pengemis mulai berubah, ia mulai memperbaiki sikapnya, pola pikirnya dan coba mengenali potensi yang ada dalam dirinya lalu berbuat sesuatu dengan potensi itu dan kemudian membuatnya menjadi orang yang lebih baik juga sukses. ( Entah benar atau tidak, saat itu sang narasumber dalam acara itu juga mengatakan bahwa si pengemis itu sempat menjadi orang terkaya ke 4 di Perancis )

Cerita tersebut rasanya bukan mengajarkan kita untuk percaya pada sebuah ramalan, tapi menganggap ramalan tersebut sebagai sebuah sugesti positif bagi diri kita untuk mengenali dan menggali potensi yang ada dalam diri lalu memanfaatkan potensi tersebut sebaik-baiknya.
Bagaimana dengan sahabat, apakah potensi dalam diri anda sudah benar-benar tergali ?
Selengkapnya...

HAMPA.............................

Jumat, 05 November 2010

Play and feel it....


Sayangku...........

Entah darimana aku memulai, lidahku begitu kelu untuk ungkapkan semua rasa, tanganku bergetar untuk bisa lukiskan perasaanku saat ini. Garam yang kautabur diatas lukaku kini mulai terasa perih menusuk walau kucoba menahan pekik namun tak bisa kuhindari air mata yang mulai menetes. Sayangku.....Aku tak mau lagi menghiasi bibirku dengan umpat dan cacimaki, akupun tak mau hanya karena ini aku meletakkan amarah pada ujung-ujung jari. Aku sudah lelah menghapus noda-noda di kanvas cinta kita, aku sudah letih simpan bara api amarah, dendam dan kebencian dalam lubuk hati. Rasanya sia-sia saja aku mencoba cairkan hati yang dulu sempat beku dan membatu....kini semuanya tak ada gunanya lagi.

Sayangku...........
Rasaku padamu tak pernah mati dan tak akan pernah mati. Walau tiap detik lenguhan manjamu pada yang lain terus mengiang ditelingaku, racuni otakku dan bayangi langkah-langkahku. Selalu kuhindari tarian keputus asaan yang terus menggodaku tapi tak bisa kuhindari pasrah yang datang menyergap dengan nyanyian sendu dan mulai berharap malaikat datang menjemput kesendirianku. Lakukan saja apa yang mau...kejar apa saja yang kau inginkan dan tak perlu kauhiraukan aku. Aku kan dapat bertahan walau hati penuh sayat, namun pintaku...jauhkan kabut pekat beracunmu dari dahan dan kelopak bunga-bunga yang kita tanam. Mereka masih begitu rapuh.

Sayangku..............
Dinding hati ini kembali buram dan hampa, namun tak akan kuhapus bercak bertuliskan namamu. Biarlah tetap bersemayam disitu. Apa yang telah kau lakukan dan apa yang akan kau lakukan kan kuanggap guratan pena pada nisan dari hati yang akan mati. Aku hanya berharap...kau masih mau bergandeng tangan merawat mawar-mawar yang kita tanam lalu saksikan mereka tumbuh dan berbunga...tebarkan harum yang menyejukkan jiwa. Sayangku....hanya itu yang kuinginkan.
Selengkapnya...

ENTAH BAGAIMANA CARANYA...?

Rabu, 13 Oktober 2010

Entah bagaimana caranya rasa itu datang kembali
Entah bagaimana caranya kasih yang terkubur perlahan mulai bangkit
Entah bagaimana caranya kenangan itu kembali mengusap dinding hati yang mulai kusam

Tatapan matamu kembali menghujam jantungku
Senyum manismu bagai tuak yang kembali memabukkanku
Harum wangi tubuhmu kembali membiusku
Kini kau hadir kembali di depan mataku
Walau tubuhmu hanya bisa kupeluk dengan tatap dan senyuman
Dadaku bertabuh ikuti irama langkah tertatihmu
Hadirmu bagai lilin yang menerangi malam lalu perlahan mulai redup seiring langkahmu yang kian jauh

Tak bisakah kau berhenti sejenak tuk genggam tanganku dan rasakan rapuh kulitku
Tak bisakah kau berhenti sejenak tuk rasakan gemuruh didadaku
Tak bisakah kau berhenti sejenak tuk dengarkan kata yang tak pernah terucap dari bibirku
Aku mencintaimu....sangat mencintaimu
Tapi kau telah berlalu
Kini entah bagaimana kuungkapkan isi hati


" Kek....! Kok..bengong sih ? Nenek yang tadi lewat itu siapa ? " Selengkapnya...

NURANI TIKUS

Selasa, 14 September 2010

Disebuah hutan rimba yang luas dan subur, para satwa terlihat mulai gelisah. Hal itu disebabkan karena wakil-wakil dari satwa yang mereka pilih untuk menyampaikan aspirasi mereka kini semuanya telah berubah jadi tikus-tikus berkepala besar ( mau menang sendiri ), bertelinga tebal ( tidak mau mendengar ) dan berhidung kecil ( kepekaan sosialnya rendah ). Dari gajah yang dulu bijaksana, kura-kura yang alim dan pendiam kemudian kancil yang pintar, kini semuanya berubah menjadi tikus-tikus yang rakus. Tak ada yang berani menentang mereka tak terkecuali singa si raja hutan, para satwa jelata maklum dan berpikir " Barangkali sang singa takut bila mengusik tikus-tikus, mereka malah akan menggerogoti makanannya ". Dan kini, penguasa rimba seakan-akan bukanlah sang singa tetapi para tikus.

Para tikus mempunyai lubang ekslusif ditengah rimba. Disanalah mereka berkumpul, semula untuk membuat langkah-langkah mensejahterakan satwa-satwa yang telah memilih mereka tapi kini di lubang itu hanya menjadi tempat mereka mencicipi butir-butir upeti dari para satwa. Lubang itu terlihat begitu sepi saat membahas masalah-masalah yang dihadapi para satwa tetapi sekejap menjadi begitu ramai saat pembagian jatah upeti. Sering terdengar adu argumen, gontok-gontokan atau bahkan baku pukul untuk memperebutkan upeti atau menghujat kejelekan-kejelekan dari kelompok tikus yang lain. Para satwa jelata hanya bisa mengurut dada.

Kini para tikus berencana membuat lubang baru yang lebih besar, lebih mewah serta dilengkapi fasilitas-fasilitas yang serba lux. Para satwa mulai menjerit, mengaduh, mengerang bahkan menghiba agar niat itu dibatalkan. Mereka khawatir, upeti-upeti yang diminta akan lebih besar dan banyak lagi. Tapi para tikus tak mau mendengar. Dikepala mereka sudah terbayang, datang kelubang bisa berleha-leha sambil berenang. Dalam kamar yang luas dengan diam-diam bisa juga memelihara gundik atau ruangan yang sejuk bisa melancarkan negoisasi dengan para koruptor. Bahkan satwa-satwa dari rimba tetangga yang telah menghina martabat dan secara agresif mulai merampas jengkal demi jengkal tanah rimba tak mereka hiraukan, tak satupun dari para tikus itu yang berteriak, berargumen seperti saat mereka membela kepentingan kelompok mereka.

Para satwa jelata memendam amarah, bahkan ada yang berteriak...
" Jangan hanya lubang yang besar, perabot lengkap atau kolam renang ! sekalian saja buat kompleks pemakaman, biar kalau mati tak usah lagi merepotkan para satwa jelata !!"

Apakah para tikus-tikus itu masih punya nurani ?
Selengkapnya...

DITEPI WAKTU

Sabtu, 28 Agustus 2010

T'lah kuhirup selaksa debu di terik siang
T'lah kuhisap manisnya temaram malam
T'lah terjatuhku di jalan terjal berbatu
T'lah terhempasku oleh ganasnya gelombang samudera waktu

Saat terlihat aksara menari tanpa makna
Saat mahkota mulai memudar dan memutih
Masihkahku diijinkan menunggu mawarku tumbuh dan berbunga
Masihkahku diijinkan menjaga kuncupnya yang mulai berbuah
Masihkahku diijinkan menyapaMU lalu terpejam diharibaan dengan senyuman Selengkapnya...

TAK JUA SIRNA

Kamis, 05 Agustus 2010

Penat kurasa, sirami benih-benih kasih yang tak jua tumbuh
Lelah hati, cabuti gulma keraguan yang tumbuh subur
Aroma yang kuhirup hanya hanya dendam dan kebencian
Dusta dan kebohongan racuni air yang kuteguk

Tak kuingkari kini kusetengah hati
Duri yang tertancap dihati masih tersisa
Luka tergores relakan tetes darah bawa serta empati larungi telaga sunyi
Tak bisa kuelak debur ombak mengikis batu karang
Tak bisa kuhapus aksara dalam kata
Sakit yang kurasa tak jua sirna

Tak kuharap keindahan hiasi mimpi malam
Aku hanya ingin terpejam dan terlelap barang sejenak
Bertukar pedih dengan kelembutan pembaringan Selengkapnya...