LULUH LANTAK

Sabtu, 18 Juli 2009

Mayat...mayat bergelimpangan
Serpihan...serpihan daging berhamburan
Darah...darah segar bertebaran
Racuni udara yang kuhirup..sesakkan nafas..remukkan hati..usik nurani

Lihatlah...! lihatlah...! wahai angkara murka
Tertawalah...! tertawalah...! wahai durjana
Tak adakah iba...?
Tak adakah duka...?
Sebentar lagi ada tangis..ada duka anak yatim piatu
Sebentar lagi ada tangis...ada duka istri kehilangan suami
Sebentar lagi ada tangis...ada duka suami kehilangan istri
Sebentar lagi ada tangis...ada duka keluarga kehilangan belahan jiwanya

Menangis....menangis...dan menangis
Luluh lantak....
Terhempas...terpuruk dalam lembah duka tak terperi
Beginikah seharusnya..? Selengkapnya...

BUNGA MIMPI

Minggu, 12 Juli 2009

Bungaku...
Bunga khayalan..bunga impian
Harum semerbak berselimut kabut
Pancarkan cahaya..tebarkan aroma
Undang kupu serta kumbang menari dan bernyanyi
Riuh sorak dan gemulai rumput-rumput liar
melambai seirama hembusan angin

Kaulah bungaku...
Risau hati..usik nurani
Ingin hanya terucap saat maksud tak tergapai
Jangan biarkan rumput liar melilit tapak kaki
Jangan biarkan kumbang bernyanyi nada sumbang
Jangan biarkan kupu menari-nari di kelopakmu
Jangan biarkan sarimu kuncup lalu mati

Wahai bungaku...
Aku dengar tawamu..aku dengar candamu..aku dengar kesahmu
Walau indra dan jiwa lelap tertidur tinggalkan hati terjaga
Ingin kugapai indah kelopakmu..
Ingin kuhapus airmata yang menetes..
Ingin ku hembus semilir angin tuk menyejukkanmu..

Tapi apa dayaku..aku hanya bermimpi
Karena suatu saat mimpi kan berakhir
Sadarkan diri..kita tak mesti berbagi Selengkapnya...

SAMPAN KECIL KITA

Selasa, 30 Juni 2009

Kau bagai rembulan di malam-malamku
Menikmati jeritan burung-burung hantu
Kau berlaksa setia berlaksa mengerti
Enyahkan berjuta harap berjuta asa

Aku tak pernah menebar janji
Tuk membangun indahnya bahtera untukmu
Aku tak pernah menyemai janji
Tuk sematkan mahkota bertabur asa di sudut dahimu
Kau tahu itu...
Kau pun tak pernah berharap..tak pernah meminta
Pohon yang kita tanam akan berbuah ranum
Dan akupun tahu itu...

Aku hanya mampu berikanmu sebuah sampan kecil
Dimana kita kayuh bersama lewati debur-debur ombak
Mendayung kayuh seirama gemulai riak air
Hilangkan penat dari sedih dan pedih
Sampai kita terhempas dipantai putih
Tengadah awan putih biru berarak

Hanya ada satu harap..
Suatu saat sampan itu kan kita kayuh kembali
Mengarungi debur dan gulungan ombak
Walau kita tahu sampan itu tak akan jadi bahtera Selengkapnya...

SENYUM DI BALIK KACA

Sabtu, 27 Juni 2009

Wajah itu ku tatap lagi
Setiap pagi...pagi...dan pagi
Tersenyum simpul..malu tersipu
Wajah oval..hidung bangir..rambut sebahu
Senyum tanpa kata tanpa suara
Terhalang kaca..pisahkan sapa

Pagi ini kutatap lagi wajahmu
Masih tersenyum mengundang sapa
Tapi buramnya kaca hambarkan senyum
Bagai kabut halangi pandangan
Bagai mendung halang cahaya mentari
Kembalikan lembut senyummu
Biar kusapa wajahmu..
Biar kusapa senyummu..
Biar kunikmati tawamu.. Selengkapnya...

BUKAN DISINI TEMPATMU NAK..!

Vita duduk termenung, sebagai anak kecil berumur lima tahun seharusnya kini ia bermain bersama teman-temannya dengan penuh keceriaan, berlari, melompat dan menari. Tapi itu tak dilakukan, hari-hari dilaluinya penuh kesendirian, sepi dan sunyi. Tak ada teman berbicara, tak ada teman bermain. Ia duduk dengan tangan menopang dagu, memandangi sebuah taman dari sebuah rumah kecil namun asri.

Didalam taman banyak terdapat permainan untuk anak-anak seumur dirinya, ada sebuah jungkat-jangkit, peluncur, kuda-kudaan dari kayu juga ayunan yang menghadap langsung kesebuah kolam renang keluarga. Kolam renang itu dipagari oleh pagar kayu bercat putih yang kelihatan belum kering benar, mungkin pemiliknya berharap pagar itu berfungsi sebagai pengaman anak-anak yang bermain di situ.

Hari mulai senja, sinar mataharipun mulai terhalang rimbunnya dedaunan. Angin semilir berhembus meniup dan menghantarkan daun-daun kering melayang, mengayun pelan sebelum jatuh terhempas ke tanah. Vita masih mematung dalam duduknya, biasanya sore hari seperti ini ada seorang gadis kecil hampir sebaya dengannya bermain sendiri di taman itu.

Seperti halnya Vita gadis kecil itu juga selalu sendirian, tak ada teman bermain dan hanya pengasuhnya yang terlihat mendampingi dan mengawasinya bermain. Sesekali ibunya menemani itupun hanya bisa dihitung dengan jari sedangkan ayahnya tak pernah sempat mendampingi karena dilihatnya selalu sibuk bekerja, berangkat pagi dan pulang hampir larut malam.

Gadis kecil itupun seorang pemurung dan pendiam karena setiap bermain di taman ia hanya duduk termenung di ayunan tanpa sedikitpun mengayunkannya, tak tampak sedikitpun keceriaan di wajahnya. Wajahnya selalu bersandar ketali ayunan sambil menatap kolam renang itu, entah apa yang ia pikirkan.

Vita terkadang merasa kasihan dengan gadis kecil itu, pengasuhnya pun terlihat jahat sekali. Seringkali membentak bahkan terkadang memukul untuk memaksa gadis kecil itu memenuhi keinginannya. Bahkan suatu kali gadis kecil itu menangis saat jatuh terguling dari atas kuda-kudaan, padahal yang Vita lihat gadis kecil itu hanya ingin makanan yang ada ditangan pengasuhnya kalaupun diberi makanan itu dijejalkan kemulut gadis kecil itu dengan kasar. Bila ibunya melihat, bukanlah membela gadis kecil itu tapi malah ikut memarahi bahkan memukulnya sehingga gadis kecil itu menangis meraung-raung dan memanggil-manggil ayahnya. Terkadang ia juga menyebut nama seseorang, entah siapa..Vita tak tahu. Tapi ia merasa pernah mendengar nama yang disebut-sebut gadis kecil itu entah kapan ? dimana ? ia juga tak tahu.

Suatu kali di saat-saat seperti itu gadis kecil itu melihat dan menatap ke arah Vita, tatapan matanya kosong dan wajahnya tampak memelas seakan-akan minta pertolongan kepada Vita. Tapi karena Vita merasa ia juga hanya anak kecil yang seumur dengan gadis kecil itu, rasanya ia tak akan sanggup membantu. Tenaganya tentu tak akan kuat melawan pengasuh gadis kecil itu apalagi bila ibunya ikut membantu sudah pasti ia tak akan sanggup.

Hati Vita tergugah akan penderitaan gadis kecil itu, pernah ia menerobos pagar dan masuk ke taman itu untuk menemani juga mengajak gadis kecil bermain. Paling tidak ia berharap bisa berbagi keceriaan dengan gadis kecil itu tapi sungguh Vita kaget dan tak mengerti, karena saat ia mencoba mendekati dan berbicara dengannya gadis itu malah seperti ketakutan..tangannya terlihat gemetar dan wajahnyapun berubah pucat. Lalu gadis kecil itupun berlari pergi dan masuk kedalam rumah, Vita tak tahu apakah karena ancaman pengasuh atau ibunya agar tidak bermain dengan anak-anak lain sebayanya atau karena gadis kecil itu tak terbiasa dengan orang asing..?.

Suatu sore Vita kembali mencoba kembali mengajak gadis kecil itu bermain walau dilihatnya sang pengasuh ada disitu mengawasinya, tetapi gadis kecil itu tetap ketakutan dan pengasuhnyapun menarik tangan gadis itu dengan kasar untuk menghindarinya sambil membentak dan memaki Vita. " Pergi sana..! tempatmu bukan disini " maki pengasuh itu yang membuat daun telinga Vita terasa panas. Walau kesal dan marah Vita diam saja karena memang taman ini bukan miliknya, ayunan, peluncur dan kuda mainan semua milik gadis kecil itu. Ibu gadis kecil yang mengetahui Vita ada disitu juga marah dan mengusirnya lalu menarik gadis kecil berlalu masuk rumah meninggalkan Vita.

Vita merasa sakit hati dan geram, rasanya ia seperti gembel berpenyakit menular yang tak diinginkan kehadirannya. Ingin rasanya ia berlari meninggalkan tempat itu tapi kuda mainan itu menarik perhatiannya. Sudah lama ia tak merasakan asiknya bermain dengan mainan itu lalu iapun menaiki dan mengayunkan kuda-kudaan itu tanpa perduli dengan beberapa pasang mata yang mengawasinya dari balik jendela. Mungkin mereka mengawasi Vita karena takut mainan gadis kecil itu akan dibawanya. Angin semilir mengibas-ngibaskan rambutnya yang panjang saat kuda-kudaan di ayunkan dengan kencang seakan mengejek orang-orang yang mengawasinya.

* * * * * * * * * *

Sejak kejadian itu, gadis kecil yang setiap hari bermain di taman tidak lagi kelihatan batang hidungnya padahal Vita masih setia menunggu untuk dapat bermain dengannya. Barangkali memang benar dugaan Vita sebelumnya bila ia dianggap sebagai anak yang mengidap penyakit menular sehingga gadis kecil itu masih dilarang ibu tirinya untuk main ditaman sebelum kuman-kuman penyakit hilang dari taman itu.

Sore ini bukanlah gadis kecil yang datang bermain ke taman tetapi malah seorang lelaki tua berpakaian serba hitam yang muncul. Lelaki tua itu tak pernah dilihat Vita sebelumnya, apakah lelaki itu kakek gadis kecil itu ? paman atau familinya yang lain ? Vita tak tahu. Walau lelaki tua itu berperawakan kekar dengan kumis yang melintang di bawah hidung tetapi lelaki tua itu mempunyai kebiasaan yang aneh menurut Vita, setiap sore ia membakar arang pada beberapa wadah yang terbuat dari tanah liat. Setelah arang dibakar, wadah-wadah itu ia tempatkan disetiap sudut rumah dan satu lagi diletakkan persis di bawah ayunan yang ada di taman. Vita tak tahu apa maksud dari tingkah laku lelaki tua itu , kadang-kadang terlihat ia komat-kamit sendiri seperti orang gila atau seperti berbicara dengan orang lain..entah dengan siapa ia berbicara.

Sesekali Vita juga melihat lelaki tua itu menari-nari sambil bernyanyi dengan kata-kata yang tak jelas maknanya, Pikir Vita lelaki itu tampaknya memang kurang waras. Rasanya Vita ingin tertawa melihat semua itu tapi nyanyian lelaki tua itu sungguh tidak mengenakkan, gendang telinganya tiba-tiba terasa panas ditambah asap-asap yang mengepul dari arang yang dibakar membuat dadanya sesak dan sulit bernapas. Dan Vitapun segera menyingkir jauh-jauh setiap kali melihat lelaki itu membakar arang dan mulai bernyanyi.

Situsi itu membuatnya sulit untuk masuk ke taman dan bermain, ia hanya bisa melihat dari kejauhan sambil berharap lelaki tua yang kurang waras itu segera menyingkir dari rumah itu. Hampir seminggu lamanya situasi itu berlangsung dan selama itu pula Vita tidak melihat gadis kecil itu bermain di taman, mungkin ia juga merasa seperti Vita yang tak kuat menghirup asap arang atau mendengar nyanyian orang gila itu.

Tapi sore ini lelaki tua itu tak muncul lagi, tak ada lagi arang yang di bakar dan tak ada lagi nyanyian yang menyakitkan gendang telinga. Yang kini tinggal hanyalah harumnya bunga-bunga yang ada di taman dan lembutnya semilir angin yang berhembus.

Dan baru sore inilah Vita melihat kembali gadis kecil itu pergi ke taman seorang diri tapi ia tak terlihat memainkan mainan yang ada, ia hanya bersandar di pagar kayu yang mengelilingi kolam. Ditangan kirinya tergenggam seikat bunga berwarna merah, bunga mawar kesukaan Vita. gadis kecil itu terlihat melemparkan helai demi helai kelopak bunga ke tepi kolam, wajahnya masih saja terlihat sedih dan air matanya menetes membasahi pipi.
" Maafkan aku kak..maafkan aku. Aku tak sengaja " ujarnya disela-sela tangis sambil terus memandangi air kolam. Vita tak mengerti apa maksud ucapan gadis kecil itu, mengapa ia menyebut-nyebut kakaknya.. ? siapa kakaknya.. ? selama ini ia tak pernah melihat bila gadis kecil itu mempunyai seorang kakak.

Vita mendekati gadis kecil itu perlahan, ia berpikir inilah kesempatannya untuk dapat mengajaknya bermain. Tiba-tiba pengasuh gadis kecil itu datang dan langsung merengut tangannya, karena keinginannya untuk dapat bermain dengan gadis kecil itu Vitapun mencoba menahan. Pengasuh itu terlihat marah lalu mengucapkan kata-kata yang bahasanya tak di mengerti oleh Vita, sedangkan gadis kecil itu hanya bisa menjerit dan menangis sambil memanggil-manggil ayahnya. Tak berapa kemudian ayah dan ibunya berhamburan keluar kemudian berlari menghampiri tapi Vita tetap tak mau melepaskan pegangannya.

Namun Vita tiba-tiba terhenyak saat merasakan ada sesuatu yang menyentuh punggungnya. Iapun segera berbalik dan melihat seorang kakek tua berpakaian serba putih dengan rambut panjang yang juga putih memegang pundak sambil tersenyum kepadanya.

" Vita..jangan kau ganggu lagi adikmu nak.., lepaskan tangannya.. " ujar kakek tua itu dengan lembut.
" Tapi dia harus main denganku kek, akibat perbuatannya sehingga aku jadi seperti ini " rengek Vita.
" Sudahlah nak..! dia tak sengaja saat ayunan yang ia naiki menghantam pelipismu. Lagipula itu salahmu juga karena bermain kuda-kudaan terlalu dekat. Percayalah..adikmu sangat menyayangimu, lagipula tempatmu bukan disini lagi.." sambung kakek tua itu masih dengan suara lembut.

Vita ingin berontak tetapi suara lembut dari kakek tua itu menyejukkan hatinya, ia percaya apa yang diucapkan kakek tua itu. Vitapun tak mengelak saat kakek itu menggamit lengannya dan mengajak pergi. Dilihatnya gadis kecil itu masih menangis dipelukan ayah dan ibunya, merekapun menatap Vita dengan wajah yang menyiratkan rasa kesedihan yang mendalam.

Air mata kesedihanpun satu persatu menetes mengiringi kepergian Vita dan iapun merasakan kesedihan yang sama. Namun hatinya kini sudah terasa lega dan ia berusaha tersenyum sambil melambaikan tangan tanda perpisahan pada mereka saat kakek itu menuntunnya menyongsong cahaya lembut nan benderang menuju kehidupannya yang baru.
Selengkapnya...

BELAHAN JIWA

Jumat, 19 Juni 2009

Te...dung wa..wa..wa
Te...dung wa..wa..wa
Satu persatu aksara terangkai lugu
Ketulusan hati mencerna maksud
Bijak sambut tawa dan tangismu

Te...dung wa..wa..wa
Te...dung wa..wa..wa
Jengkal demi jengkal langkah tertatih
Tangis menyertai jatuhmu
Tawa menyertai tarimu

Te...dung wa..wa..wa
Te...dung wa..wa..wa
Celotehmu hangatkan sanubari
Sejukkan kepala dari penat berpikir
Lekatkan pasak-pasak...kokohkan tiang-tiang
Bahtera yang mulai rapuh


T'rus lah kau melangkah
T'rus lah kau berceloteh
Pelukku kan terus menghangatkanmu
Raga dan hati kan terus menyertaimu

Selengkapnya...

JIWAKU TERBINGKAI SEPI

Kamis, 18 Juni 2009

Sahabat...
Bagai bisikan angin nan lembut
Suara mesin itu kudengar..
Bagai nyanyian jangkrik
Deru kendaraan itu kudengar..
Bagai kicauan burung-burung
Jerit tangis dan canda riang bocah-bocah..kudengar
Aku terhempas di rimba kesunyian
Jiwaku kembali terbingkai sepi..

Sahabat...
Langkahku tertatih di sela rimbunnya onak berduri
Terlalu banyak nista yang kuhirup
Terlalu banyak dusta yang kutelan
Meracuni darahku..menyayat urat-urat nadiku
Aku limbung..aku terhuyung..aku terhempas
Di lumpur hidup kehampaan
Berontak hanya kan membuatku makin tenggelam
Kucoba bertahan dalam diam

Sahabat...
Ijinkan penaku menyapamu
Ijinkan hatiku bernyanyi dalam penjara sepi
Ijinkan aku tenggelam dalam senyuman Selengkapnya...