“ Sabar dong bu.., aku juga sedang memikirkan itu “
“ Bagaimana aku bisa sabar, kamu mau anakmu kekurangan gizi karena tak minum susu. Lagipula uang tak akan datang kalau kamu cuma berpikir, ya..dicari dong mas..!”
“ Apa yang kau katakan benar..tapi kamu tahu sendiri hutangku sudah menumpuk dimana-mana. Aku harus cari dimana lagi..?”
“ Lho..kamu kok tanya sama aku. Kamu kan kepala keluarga.., usaha dong..! Mencuri kek, merampok kek...masa bodoh ! Aku nggak mau tahu, yang penting ada uang. Jangan sampai aku beranggapan kamu tak becus jadi kepala keluarga...!” Ujar istrinya sambil berlalu.
* * * * * * * * * *
Samar-samar terdengar azan shubuh berkumandang, lelaki itu terbangun. Namun seperti biasa lelaki itu malas membuka matanya karena suara azan itu dianggapnya hanya bunyi alarm yang mengusik tidurnya. Dan saat suara azan itu tak terdengar lagi, iapun memeluk guling dan kembali meneruskan mimpinya. Namun kali ini ia tak bisa memejamkan matanya kembali karena ia merasa tak bisa menggerakkan kedua kakinya, kakinya seperti kaku dan mati rasa. Perlahan ia membuka matanya lalu samar-samar ia melihat kaki tertimbun sebuah gundukan dari ujung jari sampai ke pangkal paha. Dalam cahaya yang remang-remang matanya menatap lamat-lamat benda apa yang menimbun kedua belah kakinya. Dan iapun terbelalak saat menyadarai bahwa gundukan itu adalah gundukan uang. Lelaki itu mengucek-ngucek kedua bola matanya lalu mencubit pipinya, ah..ini bukan mimpi..! Hatinyapun melonjak kegirangan.
* * * * * * * * *
Cahaya mentari mulai menampakkan diri dari balik rimbunnya pepohonan. Kokok ayam jantan sudah tak terdengar sejak tadi dan kini berganti nyanyian riang burung-burung kecil menyambut pagi. Lelaki itu melangkahkan kakinya menuju mesjid. Tetapi tak lama lelaki itupun kembali di dera rasa bingung dan selaksa tanya hinggap dalam benaknya. Bagaimana bila ditanya asal muasal uang ini ? Bagaimana kalau mereka tak percaya ? Apakah mereka akan menuduhku seorang pencuri atau perampok ?. Di tengah kebingungannya, lelaki itu berpapasan dengan beberapa warga. Mereka terperangah saat lelaki itu berjalan linglung kearah jalan raya.
‘’ Mas, jangan kesana mas… ! ‘’ Ujar salah satu dari mereka sedikit panik. Sang lelaki terlihat ketakutan, ia berpikir kalau orang-orang itu akan merampas uangnya. Tapi niat untuk lari tertahan karena orang itu telah memegang tasnya, sang lelaki berusaha menarik tasnya.
‘’ Lepaskan..lepaskan ! ini uangku...ini uangku...lepaskan ! ‘’ teriak sang lelaki parau.
‘’ Tenang mas..tenang. Kami tak akan mengambil uangmu, kami hanya ingin mengajakmu pulang ‘’ Ujar orang itu untuk membujuknya.
‘’ Bohong.. ! pasti kalian bohong. Tolong…Tolong ! ada perampok…’’ Teriak sang lelaki sambil menangis. Lalu terjadi tarik menarik antara sang lelaki dengan orang-orang itu. Tak lama kemudian tas butut itupun putus dan robek menjadi dua, semua isinyapun berhamburan. Sang lelaki tak dapat menguasai keseimbangan saat tasnya putus, ia terhuyung-huyung dipinggir jalan raya. Brakkk..!! Tiba-tiba sebuah mobil truk menghantam tubuh sang lelaki dan orang-orang itu hanya bisa terpana.
* * * * * * * * * *
Tubuh sang lelaki terbujur kaku di ruang tamu rumahnya. Disekelilingnya beberapa orang sedang khusyuk mengaji, seorang wanita terlihat menangis sesegukkan karena telah di tinggalkan suaminya pergi ke alam baka. “ Kita memang susah mas.., tapi mengapa harus berakhir seperti ini..” Gumam sang istri disela tangisnya. Sang istripun sangat menyesal bila ingat ia tak bisa membantu meringankan beban suaminya saat terkena PHK di kantornya. Begitu berat beban yang ditanggung suaminya, sehingga sejak dua bulan lalu suaminya jadi orang yang sangat pendiam, suka bicara sendiri dan tertawa sendiri. Tingkahnyapun semakin tak waras, semalam suntuk ia menggunting lembar-lembar kertas koran menjadi lembar-lembar kertas berbentuk lembar uang. Dan sang lelaki hampir saja mengamuk saat istrinya memintanya tidur. Sesal memang tak akan mengembalikan suami ke pelukannya, ia hanya berharap semoga suaminya kini menjadi lebih tenang. Karena kini suaminya tak lagi menanggung beban hidup.
Kampung sawah
13 Oktober 2009


