TAG BUKU DARI SAHABAT

Selasa, 23 Februari 2010

Saya sebenarnya tak terlalu gemar membaca buku, kalaupun saya membaca buku kebanyakan buku yang saya baca adalah buku-buku yang bersifat ringan dan menghibur  yaitu buku-buku cerita atau novel. Saya tak terlalu suka membaca buku yang agak berat dalam arti harus berfikir untuk mencerna isi bukunya seperti buku-buku yang beraroma politik ataupun sastra kelas berat semacam " Arus Balik " karya. Pramoedya Ananta Toer... Waktu kecil saya cukup gemar membaca buku-buku serial komik atau juga serial Lima Sekawan yang tokoh dan pengarangnya saya lupa, lalu beranjak dewasa saya menyukai novel-novel Mira W, Fredy. s ataupun Aghata Cristy dll.

Nah sekarang saya mendapat tag dari Mas hendro " Berita Untuk Negeri " yaitu menyebutkan buku-buku yang pernah dibaca. Agak sulit bagi saya untuk menyelesaikan tag ini karena tak banyak buku-buku yang saya baca akhir-akhir ini, lagipula saya tak terbiasa mereview buku. Untuk itu saya mohon maaf buat mas Hendro kalau tag ini terkesan saya kerjakan asal-asalan. Ini buku-buku yang pernah saya baca....



1. The Da Vinci Code ( Dan Brown )
Terbunuhnya seorang kurator senior di musium Louvre,  membawa pakar simbol Robert Langdon dan seorang wanita pemecah kode Sophie Neveu menjalani petualangan yang menegangkan dalam memecahkan teka-teki dari sebuah kode yang rumit di balik karya-karya Leonardo Da Vinci.


2. Laskar Pelangi ( Andrea Hirata )
Buku ini menceritakan perjalanan anak-anak melayu Belitong seperti Mahar, Lintang dan kawan-kawan dalam berjuang meraih cita-cita. Perjuangan beserta petualangan di dalamnya menimbulkan kelucuan sekaligus keharuan.

3. The Choice ( Ahmed Deedat )
Buku yang berisi dialog dan diskusi dari 2 agama besar di dunia yang dimaksudkan untuk mencari dan mempelajari sebuah kebenaran yang hakiki.

4. A Man Name Dave ( Dave Pelzer )
Kisah tentang keberhasilan seorang Dave Pelzer untuk membuktikan bahwa seorang anak yang tersia-siakan dan menderita bisa menemukan jati dirinya setelah dewasa. Kisah ini juga mengajarkan pada kita bahwa siapapun mempunyai kemampuan mengembangkan diri sendiri seburuk apapun pengalaman yang dimiliki.

5. Anne Of Green Gables ( Lucy M.Montgomery )
Seorang anak gadis dari panti asuhan yang bernama Anne hadir di sebuah keluarga yang mempunyai rumah yang dikenal dengan Green Gables. Padahal semula keluarga itu menginginkan seorang anak laki-laki sehingga diawal kehadirannya, Anne kurang disukai namun Anne yang penuh imajinasi menjalani kehidupannya yang seru, lucu juga sedih dalam mencari bahagia ditengah kesulitan.

6. A Thousand Splendid Suns ( Khaleed Hosseini )
Perjalanan hidup seorang wanita yang semasa kecilnya sering dipanggil Harami ( anak haram ), pencarian cinta juga sikap pasrahnya ketika terpaksa harus menikah. Lalu derita yang dirasakannya akibat perlakuan suami dijalaninya sampai suatu saat cahaya surga muncul dihadapannya.


Terus terang diantara buku-buku diatas tak ada satupun yang saya miliki namun saya cukup beruntung mempunyai seorang adik yang gemar membaca  dan mengoleksi buku yang dia pikir cukup berkwalitas. Sehingga saya berkesempatan untuk dapat membacanya.


SALAM HANGAT DAN SUKSES SELALU BUAT PARA SAHABAT
Selengkapnya...

TERUNTUK SIAPA & DIMANA

Selasa, 16 Februari 2010

Untukmu...yang entah dimana berada...
Sungguh aku tak tahu siapa namamu dan akupun tak tahu di mana kamu berada. Namun saat senja ungu menghantarkan semilir angin yang berhembus membisikkan namamu dengan lembut, aku tak bisa membohongi perasaanku bila aku mencintaimu. Cinta buta..? jelas kukatakan tidak...Mata hatiku termangu dan terpaku menatap aksara-aksara indah merangkai namamu, dadaku berdegup bagai gendang bertalu menyambut sang permaisuri hati, suara bathinku bernyanyi dan jiwaku menari-nari ikuti irama lagu-lagu rindu. Tak cukup rasanya satu buku untuk ungkapkan perasaanku padamu.


Untukmu...yang entah dimana berada...
Tak sedikitpun hatiku ragu untuk memulai meniti titian-titian khayal. Membayangkan lembutnya belaianmu, merasakan halusnya kulitmu dan mencium wangi aroma hembusan nafasmu. Kubayangkan caramu menatapku. Sinar lembut matamu menentramkan hati dan meninabobokan jiwaku. Ingin rasanya kusematkan bunga-bunga cinta di taman hatimu lalu kita berdua tersenyum dan tertawa memandangi kumbang dan kupu-kupu menari riang di taman hati...taman kita berdua.

Untukmu...yang entah dimana berada...
Aku tahu bila aku sungguh mencintaimu sebelum aku bertemu denganmu namun ijinkan aku menyemai benih-benih asa. Lalu tolong kau bisikkan pada angin senja, katakan padanya siapa dirimu dan dimana peraduanmu. Kan  kukayuh biduk-biduk hatiku...untuk menjemputmu.



Dariku...yang mencintaimu.




Setelah membaca postingan mba Reni yang berisi surat ungkapan kasih sayangnya terhadap putri tercinta ( sepertinya untuk ikut lomba ), tiba-tiba sekelebat ide melayang-layang di pelupuk mata yang sudah mulai terkantuk-kantuk. Menurut Suhu dalam tulis menulis...apa yang ada di benak diungkapkan saja atau mengalir sajalah...Jadi begini deh hasilnya kalau posting sambil ngantuk-ngantuk. Tapi ini bukan untuk kompetisi...
Selengkapnya...

KETIKA AJAL MENJEMPUT CINTA

Selasa, 09 Februari 2010

Seorang lelaki setengah baya dengan rambut yang mulai memutih dan bertubuh tirus terlihat sedang duduk terpaku dalam diam. Dari tempat ia duduk matanya tak lepas barang sedetikpun menatap jembatan yang berdiri kokoh membelah arus sungai Ciliwung. Jembatan yang belum lama berselang diresmikan bapak Lurah Srengseng Sawah dibangun untuk menggantikan sebuah jembatan gantung yang telah berpuluh-puluh tahun menjadi sarana penghubung desanya dengan desa atau daerah lainnya. Sebuah jembatan gantung yang tak akan dapat dilupakan seumur hidupnya, jembatan yang mengubah jalan hidupnya, jembatan yang membuat ia kini duduk termenung disini…saat ini.


“ Ayolah Marni..kita harus segera pulang, hari sudah mulai menjelang larut malam. Saya khawatir, ayahmu akan murka nantinya..” Bujuk Jumadi kepada Marni yang bersikeras tak mau pulang karena hendak menemui kekasihnya.
“ Sebentar saja kang…! Ayah tak akan marah kok…akang tenang saja “ balas Marni.
“ Tapi Marni…kamu diijinkan kesini hanya untuk mengaji dan itu sudah kamu lakukan. Sekarang…pulanglah “ Bujuk Jumadi lagi. Ia sangat pantas untuk merasa khawatir karena pak Parmin.. ayah marni menugaskannya untuk mengawal dan menjaga Marni “ Ingat Madi…jaga dia baik-baik ! jangan biarkan kulitnya yang halus tergores barang setitikpun dan satu lagi, jangan sampai pulang larut malam. Tepat jam 21.00 Marni harus sudah ada tepat di hadapanku !” Kata-kata pak Parmin teriang kembali di telinganya. Jumadi mendekatkan jam tangan kearah matanya, cahaya yang remang-remang sedikit menyulitkannya melihat jam. 10 menit telah berlalu dari pukul 20.00, Jumadi menghela napas dengan berat.
“ Ya sudah kang…akang tunggu saja dimulut jembatan, saya tak akan lama..! “ Ujar Marni sambil berlalu meninggalkan Jumadi yang tidak bias berbuat apa-apa.

Jumadi duduk pada sebuah batu besar dipinggir jalan dekat mulut jembatan gantung. Sekilas matanya menatap jembatan yang hanya terbuat dari tali kawat baja dan bilah-bilah bambu sebagai alasnya, lalu matanya menatap cahaya dari obor yang sengaja dipasang penduduk dimulut jembatan. Cahaya itu kini terlihat bagai menari-nari ditiup sang angin malam, tariannya seakan sedang menghibur hati Jumadi yang saat ini sedang gelisah. Detik demi detik berlalu, keringat dingin mulai membasahi kening dan sekujur tubuh Jumadi. Jalan yang sepi serta gelap malam yang hanya diterangi lembutnya sinar rembulan dan sedikit cahaya dari obor tadi menjadikan suasana malam terasa begitu mencekam. Suara riak air dari arus sungai dan juga nyanyian jangkrik-jangkrik seakan tak mampu sedikitpun menghibur hatinya. Jumadi kembali melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Sudah terbayang jelas dalam benaknya akan kemurkaan pak Parmin ayah Marni. Jumadi bergidik…rasa takut mulai menjalari jiwanya, ia tahu benar pak Parmin akan melakukan apapun demi Marni anak kesayangannya. Ingin rasanya ia menyusul Marni, tapi dimana..?

Dalam kegelisahan dan kebingungannya yang semakin memuncak, tiba-tiba terdengar olehnya derap suara langkah tergesa. Perlahan sosok Marni yang sedang ditunggu-tunggunya mulai terihat. Hati Jumadi terasa sedikit lega namun kelegaan itu dengan cepat berubah menjadi sebuah kebingungan disertai kekhawatiran. Marni terus berlari tanpa sedikitpun menghiraukan Jumadi yang sejak tadi menunggunya. Yang lebih membingungkan Jumadi, Marni berlari sambil menangis terisak-isak.
“ Ada apa Marni ? hey..tunggu…tunggu…!” Tanya Jumadi sambil berusaha menahan Marni.
“ Lepaskan aku kang.., lepaskan..! dia memperkosaku…dia memperkosaku..!” Tangis Marni semakin keras sambil berusaha melepaskan cekalan tangan Jumadi.
“ Apa….siapa !? Tanya Jumadi, ia bingung sekaligus terkejut mendengar ucapan Marni.
Marni berhasil melepaskan diri dan iapun langsung berlari menuju jembatan, Jumadi langsung mengejar. Jembatan gantung itupun bergoyang dahsyat saat dua anak manusia berkejaran diatasnya, tepat ditengah jembatan Jumadi berhasil mencekal tubuh Marni yang masih terus menangis.
“ Lepaskan aku kang…! Sudah tak ada gunanya lagi…aku sudah ternista…” Rengek Marni disela tangisnya.
“ Tenang..tenangkan dirimu dan jelaskan padaku…” Ujar Jumadi setengah berteriak.
“ Dia memperkosaku kang…aku sudah kotor. Aku mau mati saja…!!”
“ Ya..tapi siapa…siapa yang memperkosamu ?” Tanya Jumadi dengan nada geram sambil mengguncang-guncang bahu Marni.

Marni hanya menangis dan menangis, disatu kesempatan ia melepaskan diri lagi dari Jumadi dan dalam sekejap ia meloncat kearah sungai. Jumadi begitu terkejut dengan perbuatan nekat Marni, ia sempat melompat dan merengkuh baju yang dikenakan Marni namun baju itu sobek dan tubuh Marnipun meluncur deras di jantung arus sungai yang mengalir deras diiringi teriakan Jumadi…” Marniiii….Marniiiii…!!” Teriakan Jumadi tak ada gunanya lagi, tubuh Marni telah tenggelam dalam pelukan arus sungai yang ganas. Gelapnya malam membuat Jumadi tak mampu melihat tubuh Marni, ia hanya bisa mendengar suara berdebur saat pertama kali tubuh Marni menyentuh permukaan air. Jumadi terpaku lemas tak berdaya, seluruh tenaganya seakan tersedot oleh rasa keterkejutannya, ia seakan-akan tak percaya dengan apa yang baru saja ia alami. Rasa bingung, rasa sesal, rasa kehilangan dan juga rasa ketakutan yang luar biasa akan kemurkaan pak Parmin membuat tubuhnya bergetar hebat. Berdiripun rasanya ia tak mampu, seakan lututnya tak mampu lagi menopang tubuh. Kini Jumadi hanya bisa memegang kawat baja jembatan sambil menangisi kebodohannya.


* * * * * * * * *

Lelaki setengah baya itu berusaha bangkit dari duduknya. Dengan bantuan sebuah tongkat kayu, perlahan ia mengangkat tubuhnya yang ringkih. Kedua kakinya mulai bergetar saat tubuhnya sudah berdiri tegak kemudian ia melangkah perlahan menuju jembatan. Warga yang melintas diatas jembatan agak sedikit heran dengan gerak-gerik lelaki setengah baya itu. Sejak sebulan yang lalu setelah keluar dari penjara, lelaki setengah baya itu memang selalu ada di sekitar jembatan sejak pagi hingga menjelang petang setiap harinya. Matanya selalu menatap kearah jembatan, apa yang diinginkannya dan apa yang dipikirkannya tak seorangpun tahu. Ia hanya melihat dan menatap dari kejauhan, tak sekalipun ia mendekati jembatan apalagi melewatinya tapi tidak kali ini.

Beberapa langkah lagi, kaki dari lelaki setengah baya itu sampai di mulut jembatan. Langkah gemetar dari kaki-kaki kurusnya membuat hati sebagian warga yang melihat merasa trenyuh. Langkah-langkah kaki itu seakan membuka mata hati mereka dan mulai meyakinkan mereka bahwa lelaki setengah baya yang dipanggil pak Jumadi itu bukanlah pembunuh Murni. Tapi apapun yang ada di benak warga semuanya tak berarti dan tak akan merubah apapun, setidaknya itu yang ada dibenak pak Jumadi saat ini. Kini ia telah berdiri tepat ditengah jembatan dan matanya lurus menatap arus air di bawahnya.
“ Marni…cukup sudah 25 tahun aku menangisi kebodohanku, menyesali ketololanku. Aku menyesal tak mampu menjagamu…aku menyesal tak mampu menyelamatkan hidupmu, maafkan aku Marni…maafkan aku ! Dan kali inipun rasanya cukup sudah aku memendam rasa dan asa padamu, kali ini kuberanikan diri untuk mengungkapkan bahwa aku sangat mencintaimu…sejak dulu dan sampai kapanpun. Semoga engkau mendengar suara hatiku…Marni. Namun bila tidak, biarlah angin senja membawa serbuk-serbuk sari cintaku lalu menaburkannya pada kelopak bunga-bunga nirwana…dan biarkan, biarkan bersemi selamanya “.

Warga memang tak terlalu memperdulikan apa yang dilakukan pak Jumadi diatas jembatan, namun saat terdengar suara air berdebur dan pak Jumadi tak terlihat lagi diatas jembatan, mereka panik dan berhamburan menuju jembatan. Nyawa pak Jumadi tak dapat terselamatkan, titik-titik airmata mengiringi kepergian pak Jumadi namun jasad pak Jumadi terlihat tengah tersenyum, tersenyum karena kini ia akan menjemput cintanya. Dengan ajalnya ia akan menjemput cinta Marni.



Kampung Sawah, 07 Februari 2010
Selengkapnya...

TELUR ATAU AYAM ?

Sabtu, 06 Februari 2010

Membaca beberapa postingan dari para sahabat mengenai industri sinetron di dunia pertelevisian kita atau yang terakhir membaca postingan Mas Slamet yang berisi tanggapan yang beragam mengenai tayangan sinetron, saya ikut tergelitik untuk ikut menanggapi atau ikut nimbrung untuk berkomentar...


Sebenarnya memang agak heran juga melihat tayangan-tayangan sinetron sekarang yang cenderung mengabaikan logika serta realitas kehidupan nyata dan bahkan seringkali terkesan mengada-ada dalam alur-alur ceritanya, namun yang mengherankan lagi dengan tayangan semacam itu tetap saja banyak penonton yang menggemarinya.

Saya memang tidak antipati terhadap tayangan semacam itu dan juga tidak mau menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini, karena para produser sinetron tidak akan membuat atau melanjutkan tayangan seperti itu bila tak ada penonton yang menyukainya ( rating rendah ) dan dari pihak penonton, mereka tidak akan menonton tayangan seperti itu bila tak ada produser yang membuatnya.

Tapi justru itulah yang bagi saya agak membingungkan, ibarat menjawab pertanyaan " Mana yang lebih dahulu, Telur atau Ayam ? ". Seperti halnya dengan dunia sinetron, mana yang kita harapkan lebih dulu untuk memulai. Apakah lebih dulu mengharapkan para produser mempunyai niat baik untuk hanya dan selalu membuat tayangan sinetron yang bermutu dan mendidik ? ataukah lebih dulu mengharapkan para penonton untuk hanya menonton tayangan sinetron yang bermutu baik dan mengabaikan tayangan yang bermutu rendah dan kacangan ?.

Lalu bagaimana pula, bila kembali ada pertanyaan...Apakah memang produser-produser sinetron kita hanya mempunyai pemikiran yang berorientasi bisnis untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dan tidak mempunyai Sense of Education terhadap sinetron-sinetron yang mereka buat. Ataukah para penonton atau kebanyakan dari kita yang memang mempunyai selera terhadap tayangan sinetron seperti itu. Rasa-rasanya makin sulit saya menjawabnya. Soal selera memang berpulang pada pribadi masing-masing. Bagaimana dengan sahabat ?
Selengkapnya...

TAG & MOTIVASI

Rabu, 03 Februari 2010

Semalam saya baru saja menyelesaikan baca buku yang berjudul A Man Name Dave karya dari Dave Pelzer, sebuah buku lama milik adik yang saya pinjam. Sebenarnya postingan ini bukan bermaksud untuk mereview isi buku tetapi di saat merasa terpuruk dan merasa gagal, kadangbutuh sesuatu yang bisa membangkitkan motivasi dan semangat. Spirit dan motivasi memang saya dapatkan dari buku ini.


Tokoh utama dalam buku ini adalah  pengarangnya sendiri. David nama panggilannya ,mengisahkan perjalanan hidupnya yang keras karena sejak kecil mendapat siksaan yang bertubi-tubi dan penuh kebencian dari ibu kandungnya sendiri. Namun berkat ketabahan & keteguhannya menjalani hidup telah menjadi seseorang yang kuat dan sukses di saat ia dewasa. Barangkali tidak semua orang bisa menjadi seorang David tetapi dari alur cerita yang menggambarkan ketabahannya dalam menjalani hidup, sikap menerima dan memaafkan seorang David membuat saya berpikir bahwa apa yang telah saya alami belumlah sebanding bahkan tak berarti apa-apa jika di bandingkan dengan apa yang dialami seorang David.

Spirit dan motivasi juga saya dapatkan dari blog para sahabat yang seringkali berisi postingan yang sarat makna dan motivasi, diantaranya blog " BERPIKIR POSITIF " milik Pak Munir Ardi. Kali ini beliau yang berprofesi sama seperti ayah saya mengirimkan tag sebagai sarana mempererat tali silaturahim.
Inilah jawaban dari tag your self kiriman pak Munir :

1. Where is your cell phone?
Lebih sering di saku baju & celana
2. Relationship?
Siapa saja yang mau diajak bersahabat
3. Your hair?
Setengah gondrong ( kalau potong pendek/cepak rambut berdiri seperti bulu landak )
4. Work?
Perusahaan penerbit & percetakan surat kabar
5. Your sisters?
Eka Rosmaliana & Yuli Hartati ( keduanya guru ikuti jejak ayah )
6. Your favorit thing?
Sendal Jepit
7. Your dream last night?
Tidak ingat
8. Your favorit drink?
Air putih 
9. Your dream car?
Mobil angkot ( buat tambah-tambah penghasilan )
10. Your shoes?
Sepatu Hitam
11. Your fears?
Tidak bisa membahagiakan orang-orang tercinta
12. What do you want to be in 10 years?
Menikmati hidup & menjadi penulis sungguhan
13. Who did your hang out with last week?
Bersama anak melihat pemancing ikan di danau Universitas Indonesia
14. What are you not good at?
Banyak, terutama pidato
15. One of your wish list item?
Bisa membahagiakan orang-orang tercinta
16. Where you grew up?
Srengseng Sawah ( Jakarta pinggiran atau perbatasan Jakarta-Depok )
17. Last thing you did?
Makan siang
18. What are you wearing?
Di tempat kerja formal, dirumah celana buntung + kaos oblong
19. Your computer?
Komputer rakitan
20. Your pet?
Ikan mas Koki
21. Your life?
Mengalir seperti air
22. Missing ? (hilang)
Sendal jepit kesayangan ( terbawa arus air hujan )
23. What are you thinking right now?
Apa yang saya akan jawab pada tag ini
24. Your car?
Tamiya
25. Your kitchen?
Tidak besar, yang penting muat kompor

26. Your favorit color?
Hitam & Biru  tua

27. Last time you laugh?
Saat anak bilang " Pa..sini deh..Rara berisikin.." ( maksud dia bisik-in )
28. Last time you cried?
Sedih saat adik operasi usus buntu
29. Love?
Keluarga
30. So who wants to share their ONEs? how about?
Dengan siapa saja melalui tulisan
31. Person elected to the tag (tag ini saya wariskan kepada)
ferdi, gerry satya, ibnu mas, dadan suryana, cupu kisruh

Begitulah sedikit tentang saya, untuk Pak Munir semoga berkenan dan semoga tali silaturahim tetap terjalin erat.
Selengkapnya...

STREEEEEEESSSSSS...!!!

Sabtu, 30 Januari 2010

Banyak yang bilang hidup manusia itu bagaikan roda yang berputar, kadang ada diatas...kadang ada dibawah juga bisa diibaratkan grafik keuntungan...kadang bisa melesat naik...kadang bisa turun drastis. Begitu juga dengan pekerjaan, bisa saja kita berusaha keras dan maksimal namun hasil akhir tetaplah tidak bisa kita pungkiri...

Saat diatas, hati dilingkupi perasaan senang, bahagia dan juga puas. Apa yang telah dilakukan, apa yang menjadi target pribadi ataupun resolusi sepertinya berjalan dengan benar, baik ataupun sangat baik. Namun saat di bawah, hati dilingkupi rasa sedih, kecewa ataupun merasa gagal. Terkadang pada saat itu nalar tak lagi mempertanyakan apakah yang telah kita lakukan sudah baik atau tidak..!? atau sudah benar atau tidak..!? tetapi malah cenderung menyalahkan orang lain ataupun lingkungan ( tidak semua orang ). Bahkan hal-hal yang kecil dan sebenarnya bukan hal yang subtansial atau berhubungan langsung dengan pekerjaan tiba-tiba berubah menjadi hal-hal yang bisa memicu tensi darah menjadi naik. ( lantai rumah berdebu, ruang kantor ada asap rokok, AC mati, hujan turun, jalan becek dan hal-hal sepele lainnya yang kini berubah menjadi masalah besar )

Rasa kecewa & kecewa yang bertumpuk menjadikan seseorang mudah terserang stress dan cara pelampiasannya pun bermacam-macam, ada yang berteriak, memaki lalu memukul. Tapi ada juga yang diam, menyepi, berdo'a & berkomunikasi dengan Tuhan ataupun mencari seseorang yang bisa diajak berbagi.

MANA YANG BIASA ANDA LAKUKAN ??

Saya?  biasanya saya diam, merenung, berdo'a lalu menumpahkan uneg-uneg lewat tulisan seperti contoh dibawah ini ( Re-Post postingan orang stresss...! )


SIAPA YANG GILA...!?

Ha..ha..ha..
Seorang lelaki setengah baya begitu menikmati tawanya
Tawa bagaikan stroberi merah ranum berselimut lelehan keju Swiss
Begitu lama ia tertawa sehingga tawanya kini terdengar mulai berirama
Kadang ha..ha..ha, kadang he..he..he, kadang hi..hi..hi

Seorang sahabat bertanya " Hai sahabat apakah kau begitu bahagianya, sehingga kau tidak bisa menghentikan tawamu..?"
Ha..ha..ha bahagia..? apakah tertawa itu hanya karena bahagia..? apakah karena bahagia aku harus tertawa..? ha..ha..ha
Tahukah kau kawan..aku tertawa karena kesedihanku, karena kegalauanku dan karena keresahanku..

Mengapa aku tertawa...?
Karena hanya ini yang bisa kulakukan..he..he..he..
Aku tak mampu mengusir kesedihanku karena istriku selingkuh...
Aku tak mampu menahan rasa galauku karena gajiku tak naik..naik..
Aku tak mampu mengabaikan keresahanku akan nasib anak-anakku kelak..

Sang sahabat berkata " Tapi kalau kau terus tertawa, kau bisa gila..!"
He..he..he gila..? apakah tertawa itu bisa membuat aku gila..? apakah aku bisa gila hanya karena aku tertawa..?
Tahukah kau kawan..aku tak bisa gila karena aku tertawa
Aku bisa gila bila kepalaku tak kuat berpikir..
Otakku terlalu kecil menampung pikiran yang sebenarnya tak perlu dipikir..

Sang sahabat berlalu pergi.." aku bisa gila dengarkan ocehanmu..!"
Dan sejak kepergian sang sahabat, tawa sang lelaki itupun berangsur pelan..
Sang sahabat ternyata membawa sebagian tawanya
Menjepit urat leher dan menyadarkannya dari candu tawa
Sang lelakipun mulai menata kesedihannya
Berkompromi dengan kegalauan dan keresahannya

Namun tiba-tiba sang sahabat tertawa, kakaknya tertawa, orangtuanya tertawa, gurunya tertawa, bosnya tertawa, anak buahnya tertawa...
Buat apa kau pikirkan istrimu yang tak setia..kuno..!
Diluar sana masih banyak gadis yang mengharap belaianmu..hi..hi..hi
Buat apa kau harus galau karena gajimu tak naik..kuno..!
Masih banyak uang yang bisa kau dapat dari korupsi..he..he..he
Buat apa kau resah memikirkan masa depan anakmu..kuno..!
Sebentar lagi kiamat akan datang..ha..ha..ha

Sang lelaki terpekur bingung..
" Sebenarnya siapa sih yang gila..!"

Mudah-mudahan yang sempat baca, tidak ikut GILA...! 

Selengkapnya...

DUH...KATENI

Rabu, 20 Januari 2010




           
Hujan rintik-rintik  yang turun membasahi bumi seakan turut mengiringi kesedihan dan kepedihan Kateni yang begitu mendalam. Pakaian serba hitam juga kerudung yang menutupi helai-helai rambutnya belum juga ia lepaskan. Ia masih duduk bersimpuh di ruang depan kamar kostnya yang tak berkursi, matanya menatap sendu pada daun jendela seraya memandangi bulir-bulir air hujan yang mengetuk-ngetuk kaca lalu mengalir meliuk-liuk kebawah seakan berlomba dengan air mata yang mengalir perlahan dari pipinya. Disela isak tangisnya yang tertahan, terselip tanya dalam benaknya. Haruskah aku menangis..?, pantaskah bila aku menangisinya..? . Pertanyaan-pertanyaan senada juga sering hinggap dalam rongga-rongga dadanya di beberapa hari terakhir, pantaskah aku mencintainya..?. Cinta..? kata itu serasa aneh bila keluar dari mulutnya yang mungil, rasanyapun kini selalu asam atau pahit dan tak sekalipun manis. Sebuah kata yang selama dua tahun belakangan  coba ia kubur dalam-dalam di perut bumi atau ia larung di samudera lautan yang luas, kata-kata itu telah ia hapus dari lembar-lembar diary hatinya. Kata-kata itu telah mati dan hangus terbakar rasa amarah karena dikhianati Herman, suaminya.

“ Bila kamu terus seperti ini, sebaiknya kamu berhenti saja..!” Bentak Herman yang menuduh Kateni berselingkuh dengan teman kerjanya.
“ Ya Tuhan,..kamu tidak percaya mas..?, aku pulang malam karena memang ada pekerjaan. Silahkan kamu tanya pada Pak Aceng..!”
“ Hallah..!! nggak usah banyak alasan. Kenapa mesti tanya pak Aceng..? atau malah pak Aceng yang jadi teman selingkuhmu..” Ucapan suaminya itu bagai palu godam yang menghantam dadanya, napasnya terasa mulai sesak. Hatinya terasa begitu sakit mendengar tuduhan suaminya yang tak berdasar dan sama sekali tak benar. Air matanya mulai mengalir membasahi pipi, matanya menatap sayu wajah suaminya .
“ Kamu tega mas..! demi Tuhan..aku tidak akan melakukan hal seperti itu, buat apa..?” Ujar Kateni lirih sambil menahan tangisnya.
“ Mana aku tahu..! cuma kamu dan laki-laki pecundangmu yang tahu.., sudahlah..nggak usah pura-pura menangis. Bila memang kamu tak melakukannya, ya... sudah berhenti saja, beres kan..?”
“ Ya Tuhan mas..kamu tahu sendiri kan, bila di Jakarta cari pekerjaan begitu sulit.  Lalu bila aku berhenti kerja, bagaimana keluarga kita bisa makan..? bagaimana biaya sekolah Dita yang sebentar lagi masuk SMP. Bila kamu saat ini bekerja mungkin tak masalah bila aku berhenti, tapi kamu sekarang menganggur. Bagaimana aku mengharapkanmu..?’
“ Oh.. jadi sekarang kamu merasa yang paling berjasa membiayai sekolah Dita. Hanya karena aku kini seorang penganggur kamu lupa siapa kamu, kamu mulai sombong...!” Ujar Herman marah karena merasa tersudut.
“ Demi Tuhan..bukan begitu mas. Maksudku...”
“ Sudah...! aku tak mau dengar lagi ocehanmu. Bila memang menurutmu aku tak berharga lagi sebagai suamimu, aku pergi. Aku sudah muak...! Ujar Herman sambil menyambar beberapa potong pakaian yang kemudian dimasukkannya ke dalam tas ransel. Kateni mencoba mencegah niat Herman namun dengan kasar suaminya itu menghempaskannya ke sudut kamar lalu pergi sambil membanting pintu.
“ Mas...!! “ Pekik Kateni, namun Herman tak lagi memperdulikannya. Kateni hanya bisa menatap kepergian suaminya itu dengan berurai air mata.
            Bukan sekali ini saja suaminya berperilaku seperti, marah-marah lalu pergi dari rumah dan baru dua atau tiga hari kemudian kembali. Katenipun hanya bisa menangis dan tak tahu harus berbuat apa, ia tak mengerti jalan pikiran suaminya. Menyuruhnya berhenti bekerja hanya karena perasaan cemburunya sungguh-sungguh tidak masuk nalar Kateni. Tak pernah terlintas dalam benaknya , apalagi membayangkan ia melakukan tindakan menjijikkan itu. Dadanya begitu sesak bila memikirkan semua itu, kini ia hanya bisa menangis untuk mengurangi beban perasaannya. Satu bulan berlalu, tak terdengar sedikitpun kabar mengenai keberadaan Herman suaminya. Kateni masih sempat bertanya kesana kemari, mulai dari sanak saudaranya sampai kepada teman-teman dekat Herman tapi semuanya nihil. Dua bulan..tiga bulan tak jua ada kabar, Katenipun mulai pasrah. “ Barangkali memang mas Herman tidak mau hidup bersamaku lagi “ Pikir Kateni. Namun ketika terdengar kabar bila Herman telah menikah lagi, tetap saja Kateni limbung dan tak berdaya.

* * * * * * * *
            Dua tahun telah berlalu, Kateni berusaha tegar menghadapi suratan takdir yang telah digariskan untuknya. Ia merasa harus kuat dan tabah menjalani hidupnya sendiri, rengek Dita akan baju seragam dan buku baru menguatkan tekadnya untuk terus melangkah walau apa yang terjadi. Walau terkadang hatinya gamang dengan status yang disandangnya, bila ia dianggap seorang istri tapi tak ada seorang suami yang mendampinginya dan bila ia dianggap janda tak sekalipun terbetik kabar bila Herman menggugat atau mengurus perceraian mereka. Di lingkungan tempat kontrakan maupun di tempat kerja gunjingan bila Kateni kini hidup sendiri mulai terdengar, dan itu mulai dirasakannya beberapa hari yang lalu. Namun Kateni tetap berusaha untuk menutup rapat-rapat apa sesungguhnya yang telah terjadi, dan seringkali ia harus menutup telinganya rapat-rapat bila ada tetangga atau teman lelaki yang menggodanya.
            Hari masih pagi saat Kateni mulai melangkahkan kakinya menuju tempat bekerja, ia sudah bangun dari tidurnya sejak subuh tadi. Walau ia sudah terbiasa tidak menyiapkan sarapan untuk anaknya atau membuatkan kopi untuk suaminya tetapi masih membuat Kateni bingung apa yang harus dikerjakannya pagi ini. Sejak suami meninggalkannya, hidup terasa begitu sepi baginya. Niat untuk mengajak anaknya ke Jakarta agar dapat menemaninya ia urungkan karena rasanya ia tak sanggup memenuhi biaya sekolahnya. Karena merasa tak ada lagi yang harus dilakukan dirumah ia memutuskan untuk berangkat kerja saja “ Ah..biarlah aku berangkat lebih awal, barangkali disana ada yang dapat aku kerjakan..” Pikir Kateni. Kateni bekerja sebagai pembantu ditempat usaha fotocopy, tapi teman-temannya sendiri sering menjulukinya PU atau pembantu umum. Karena selain pekerjaannya menjaga kebersihan ruko, lalu menyediakan minuman untuk para pekerja ruko yang berjumlah 7 orang terkadang ia juga diminta melayani pekerjaan fhotocopy bila pekerjaan yang ada begitu padat dan tak terpegang oleh pegawai yang lain.
            Tepat pukul 06.30 wib, Kateni telah tiba didepan ruko. Terlihat mas Joko yang menjadi orang kepercayaan pak Aceng sang pemilik ruko sedang membuka rolling door. Mas Joko memang dipercaya pak Aceng untuk menjaga ruko dan ia selalu tidur di ruko setiap harinya. Hanya pada hari sabtu sore ia kembali kerumahnya di Bogor untuk menemui anak dan istrinya. Selama kerja beberapa tahun di tempat itu, Kateni baru menyadari dan baru kali ini memperhatikan perawakan mas Joko yang ternyata cukup gagah dan wajahnyapun tampan. Tiba-tiba ia merasakan dadanya berdebar, suatu perasaan yang telah lama tak dirasakannya. Dan saat mas Joko meminta dibuatkan segelas kopi tiba –tiba ia merasa gugup dan wajahnya langsung bersemu merah karena malu sendiri.
            Dan pagi ini Kateni merasakan sesuatu yang lain dalam dirinya, entah karena datang lebih pagi membuatnya lebih santai dalam menyiapkan minum pegawai atau karena merasakan sesuatu yang berbeda dari mas Joko. Sehingga keesokan harinya ia kembali berangkat lebih pagi seperti sebelumnya, ia ingin mas Joko kembali memintanya dibuatkan segelas kopi. Ada rasa senang dan ada kepuasan tersendiri bila dapat membuat mas Joko senang. Karena seringnya pertemuan antara mereka berdua saja, keduanyapun tak canggung lagi untuk saling bertegur sapa atau berbincang. Dan beberapa hari kemudian  terlihat mereka berdua sedang berbincang serius. Kateni sudah tidak canggung lagi untuk mengungkapkan keluh kesah yang ada dalam dirinya pada mas Joko, terlihat mata Kateni berkaca-kaca seperti menahan tangis..
“ Saya turut prihatin dengan apa yang telah mba Teni alami, tapi saya pikir mba harus kuat dan tetap tabah. Bila dalam pikiran mba selalu ada anak, saya yakin mba pasti bisa..” Ujar mas Joko mencoba bijak.
“ Iya mas..saya sudah mencobanya selama dua tahun ini, tapi tetap saja terasa berat mas apalagi saya seorang perempuan..”
“ Saya yakin bisa mba..tergantung kemauan. Saya saja bisa..” Ujar Joko lagi.
“ Maksud mas Joko..?” Tanya Kateni bingung dengan ucapan mas Joko barusan.  Joko tak langsung menjawab, ia tersenyum sambil menghirup kopi hangatnya.
“ Saya juga pernah mengalami apa yang mba alami sekarang, saya juga pernah merasakan kepedihan yang sama..” Kateni agak terkejut mendengar ucapan mas Joko, ia tak menyangka mas Joko pernah mengalami hal yang sama dengannya. “ Apakah karena hal itu maka kini mas Joko menjadi seorang yang pendiam..? “ Tanya Kateni dalam hati.
“ Kenapa bengong.., mba tidak percaya..? “
“ Emmm.. saya cuma minta maaf, barangkali saya secara tak sengaja membuka luka lama mas Joko “
“ Oh..nggak masalah mba ! walau masih tersisa dendam dihati, tapi saya dapat melupakannya kok dan saya yakin mba Teni juga bisa..”
Dan sejak itu Kateni merasa menemukan teman bicara, teman berbagi kesedihan dan kepedihan. Ia juga merasa menemukan tempat dimana ia dapat menuangkan dan mengungkapkan segala keluh kesah tentang kepedihannya, kesedihannya juga kebingungannya. Dan segala keluh kesahnya seringkali ditanggapi secara bijak oleh mas Joko sehingga Katenipun merasa nyaman saat berbicara dengannya.
            Namun apa yang telah menjadi hukum alam tetaplah tidak bisa dipungkiri, kedekatan keduanya menumbuhkan perasaan yang sebenarnya saling mereka pendam, cinta..nafsu..entahlah..?. Namun bagi Hati Kateni yang sebelumnya bagai batu karang yang sekian lama di hantam dan dihempas deburan-deburan ombak kenestapaan dan kepedihan akhirnya luruh saat hembusan angin cinta mendera. Belaian dan sentuhan kasih sayang yang sejak lama didambakannya kini mengalir lewat tangan dan bibir mas Joko yang membuat ia lupa dengan semua yang menjadi beban di pikirannya. Kepedihan, kesedihan seakan terhempas dan  berangsur-angsur menghilang dan iapun mulai tenggelam dalam kenikmatan secawan hasrat yang memabukkan. Gelora birahi hampir saja membakar nalar serta nilai-nilai kepatutan, beruntung gelora itu padam saat yang tepat. Mereka tersentak dan terkejut mengetahui kesalahan yang telah mereka perbuat. Sambil tersipu Kateni segera merapikan pakaiannya sedang mas Joko perlahan meninggalkan Kateni sambil berulang kali mengucapkan kata maaf. Kateni duduk tercenung di ruang dapur yang sempit..” Duh gusti..! apa yang telah saya lakukan..” Kutuknya dalam hati. Apa yang telah dilakukannya sama saja sebuah pembenaran dari apa yang telah dituduhkan suaminya dua tahun lalu, dan apa yang telah dilakukannya adalah penistaan dari sumpah yang pernah ia ucapkan. Iapun merasa malu dengan mas Joko, “ Setelah apa yang terjadi..apa yang dia pikirkan tentang diriku ?. Mungkinkah dia berpikir bahwa aku hanya wanita murahan yang dengan mudah dijamah seorang lelaki. Duh seandainya mas Joko berpikiran seperti itu betapa malunya aku, tidak..! ini tidak akan terulang..! “ Janjinya dalam hati. Namun semakin ia berusaha menepati janjinya dan tak memikirkan apa yang telah ia lakukan namun semakin besar pula keinginannya untuk mengulanginya lagi. Apa yang ada di pikiran mas Joko tentang dirinya kini tak diperdulikannya lagi, baginya menuntaskan hasrat yang telah terpendam sekian lama menjadi hal yang terpenting. Tak ada lagi sekat-sekat kokoh yang membatasi antara nafsu dan norma-norma, walaupun ada kini hanya dibatasi sekat tipis yang mudah rapuh.      
            Diantara rasa senang dan bahagia yang ia rengkuh dari mas Joko, seringkali ia menangis dan sangat menyesali betapa rapuh dirinya. Selaksa tanya juga menggayut dalam benaknya,  salahkah aku bila coba menggapai sedikit asa..?. Salahkah aku bila masih berharap..?. Disisi lain Kateni juga merasa amat berdosa, barangkali apa yang telah dilakukannya telah mengganggu kehidupan orang lain terutama istri mas Joko. Barangkali juga apa yang dirasakannya saat mengetahui suaminya berhubungan dengan orang lain kini bisa saja sedang dirasakan istri mas Joko. “ Duh..gusti..! mengapa nasib terasa begitu tak adil bagiku..”  Keluh Kateni dalam hati. Malam semakin larut, tawa riuh beberapa anak muda yang asik bermain kartu kini tak terdengar lagi, namun Kateni tetap saja tak dapat memejamkan mata. Kateni dihadapkan pada sebuah dilema untuk memutuskan apa yang seharusnya ia lakukan. Memutuskan kedekatannya dengan mas Joko dengan konsekwensi musnahnya segala asa untuk menggapai kebahagian yang ia dambakan. Lalu hidupnya akan kembali diisi dengan hari-hari sepi tanpa semangat hidup. Atau tetap mempertahankan hubungannya dengan mas Joko walau hari-harinya akan diisi perasaan bersalah dan berdosa. Kedua pelupuk matanya kian lama kian lemah untuk tetap terjaga, kantuknya mulai menyerang namun ia sudah mempunyai satu keputusan sebelum terlelap tidur.
            Hari ini Kateni berangkat ke tempat kerja agak siang, selain karena semalam ia tidur agak larut saat ini  ia juga kehilangan gairah untuk bekerja. Hanya satu yang masih bisa menyeret langkahnya ke tempat kerja yaitu mas Joko, hari ini ia harus bertemu mas Joko untuk mengatakan apa yang telah ia putuskan semalam. Ketika akan sampai ke depan jalan raya, tiba-tiba terdengar suara mendecit lalu disusul suara benturan yang cukup keras. Kateni cukup terkejut mendengar suara tersebut namun tak tahu apa yang terjadi, beberapa orang terlihat berlarian menuju asal suara sehingga iapun turut mempercepat langkahnya. Dari kejauhan ia melihat banyak orang berkerumun persis didepan ruko tempatnya bekerja. “ Ada apa..? “ tanya Kateni dalam hati ketika melihat orang-orang yang berkerumun. Sampai didepan ruko Kateni melihat sebuah mobil toyota avanza ringsek menabrak sebuah warung kecil yang terletak persis di depan ruko, begitu juga dengan warungnya yang kini sudah tak berbentuk lagi. Namun hatinya kembali bertanya-tanya saat melihat mba Eka yang menjadi kasir ditempatnya bekerja sedang menangis tersedu-sedu, Katenipun mendekatinya dan bertanya apa yang terjadi. “ Mas Joko meninggal mba...!” Jawab mba Eka sambil tersedu. Laksana petir disiang bolong yang menyambar jantungnya, Katenipun roboh pingsan tanpa sempat berkata apa-apa. Setelah siuman barulah Kateni mengetahui kejadian yang sebenarnya, mas Joko tertabrak mobil yang berusaha menghindari tabrakan dengan motor yang berjalan zig-zag di depannya. Saat itu mas Joko sedang membeli rokok dan tak sempat menghindar karena kejadian yang begitu tiba-tiba. “ Duh..gusti ! mengapa mas Joko harus meninggal bila hanya untuk memisahkan aku dengannya. Padahal hari ini aku sudah memutuskan untuk menghentikan hubunganku dengannya, berpisah tanpa ada tangis..tanpa ada yang disakiti, tapi kini...? “ Tangis Kateni kembali menggema dan memang hanya ini yang bisa ia lakukan..menangis dan menangis...



Kp. Sawah, 12 September 2009






Selengkapnya...