Play and feel it....
Sayangku...........
HAMPA.............................
Jumat, 05 November 2010
ENTAH BAGAIMANA CARANYA...?
Rabu, 13 Oktober 2010
Entah bagaimana caranya rasa itu datang kembali
Entah bagaimana caranya kasih yang terkubur perlahan mulai bangkit
Entah bagaimana caranya kenangan itu kembali mengusap dinding hati yang mulai kusam
Tatapan matamu kembali menghujam jantungku
Senyum manismu bagai tuak yang kembali memabukkanku
Harum wangi tubuhmu kembali membiusku
Kini kau hadir kembali di depan mataku
Walau tubuhmu hanya bisa kupeluk dengan tatap dan senyuman
Dadaku bertabuh ikuti irama langkah tertatihmu
Hadirmu bagai lilin yang menerangi malam lalu perlahan mulai redup seiring langkahmu yang kian jauh
Tak bisakah kau berhenti sejenak tuk genggam tanganku dan rasakan rapuh kulitku
Tak bisakah kau berhenti sejenak tuk rasakan gemuruh didadaku
Tak bisakah kau berhenti sejenak tuk dengarkan kata yang tak pernah terucap dari bibirku
Aku mencintaimu....sangat mencintaimu
Tapi kau telah berlalu
Kini entah bagaimana kuungkapkan isi hati
" Kek....! Kok..bengong sih ? Nenek yang tadi lewat itu siapa ? "
Selengkapnya...
NURANI TIKUS
Selasa, 14 September 2010
Apakah para tikus-tikus itu masih punya nurani ?
DITEPI WAKTU
Sabtu, 28 Agustus 2010
T'lah kuhirup selaksa debu di terik siang
T'lah kuhisap manisnya temaram malam
T'lah terjatuhku di jalan terjal berbatu
T'lah terhempasku oleh ganasnya gelombang samudera waktu
Saat terlihat aksara menari tanpa makna
Saat mahkota mulai memudar dan memutih
Masihkahku diijinkan menunggu mawarku tumbuh dan berbunga
Masihkahku diijinkan menjaga kuncupnya yang mulai berbuah
Masihkahku diijinkan menyapaMU lalu terpejam diharibaan dengan senyuman
Selengkapnya...
TAK JUA SIRNA
Kamis, 05 Agustus 2010
Penat kurasa, sirami benih-benih kasih yang tak jua tumbuh
Lelah hati, cabuti gulma keraguan yang tumbuh subur
Aroma yang kuhirup hanya hanya dendam dan kebencian
Dusta dan kebohongan racuni air yang kuteguk
Tak kuingkari kini kusetengah hati
Duri yang tertancap dihati masih tersisa
Luka tergores relakan tetes darah bawa serta empati larungi telaga sunyi
Tak bisa kuelak debur ombak mengikis batu karang
Tak bisa kuhapus aksara dalam kata
Sakit yang kurasa tak jua sirna
Tak kuharap keindahan hiasi mimpi malam
Aku hanya ingin terpejam dan terlelap barang sejenak
Bertukar pedih dengan kelembutan pembaringan
Selengkapnya...
KURELAKAN DIA BAHAGIA
Kamis, 29 Juli 2010
Dan kini Ferdi mencoba untuk mulai menikmati kehidupan barunya. Mencoba menyepi dan menjauh dari hiruk-pikuk ibukota dengan membeli sebidang tanah di suatu daerah yang sejuk nan asri. Sebenarnya ini sudah lama diidam-idamkannya, tinggal didaerah yang sejuk, sepi dan jauh dari keramaian. Mendengar gemericik air dari sungai yang mengalir begitu menentramkan jiwanya. Suasana seperti itu membantunya untuk mengeluarkan ide-ide yang ada dalam benak untuk dijadikan sebuah tulisan, satu hoby yang kini mulai mengisi hari-harinya. Selain itu, dengan dibantu beberapa karyawannya ia membuat beberapa kolam ikan sebagai sumber penghasilan. Bagi Ferdi, apapun akan dilakukannya dan cacat ditubuh tak akan menghalanginya untuk berbuat sesuatu.
* * * * * *
Sambil bersandar di jok mobilnya yang lembut, Heni memandangi pemandangan yang dilewatinya. sesekali ia tersenyum dan melirik Kusuma, suaminya yang sedang mengendarai mobil. Heni memang terlihat begitu sumringah karena hari-harinya sebagai pengantin baru selalu diisi dengan kebahagiaan, setidaknya itu yang dirasakannya kini. Apalagi ia merasa sangat beruntung memiliki seorang suami yang lembut dan penuh perhatian seperti Kusuma. Barangkali memang pembawaan dari suaminya itu yang berprofesi sebagai seorang dokter yang kesehariannya harus bersikap sabar dan perhatian terhadap pasien-pasiennya. Hari ini Kusuma mengajak Heni memancing, padahal ia sendiri sama sekali tidak mempunyai hoby memancing. Kusuma hanya ingin menyenangkan hati Heni karena ia tahu istrinya itu sangat suka memancing. Sedangkan bagi Heni, sebenarnya memancing justru mengingatkannya pada sosok Ferdi. Mantan kekasih yang meninggalkannya begitu saja tanpa kabar juga pesan, dan karena Ferdilah ia menyukai dan mendapatkan kesenangan dari memancing. Tapi Heni tak mau larut dalam kenangan itu.
" Selamat pagi Mas Anton..!" Sapa Kusuma ramah. Lelaki yang disapa perlahan menolehkan kepalanya dan memutar kursi rodanya. Heni terkesiap dan terpaku, Ferdi...? rasanya tak percaya ia dapat melihat kembali wajah yang begitu dikenalnya. Iapun langsung bergidik ngeri melihat parut diwajahnya dan bertambah terkejut ketika melihat kedua belah kakinya buntung sebatas lutut. Mengapa Ferdi ? Apa yang terjadi ? Pertanyaan yang langsung menghiasi benaknya. Terkejut karena pertemuannya kembali dengan Ferdi dan juga shock melihat keadaannya, membuat Heni limbung dan kemudian tak sadarkan diri. Ferdi hanya bisa terpaku melihat itu karena iapun tak menyangka sama sekali bisa bertemu dengan Heni kembali, namun hanya satu yang diharapkannya.... " Semoga Kusuma hanya menganggap Heni pingsan karena shock melihat fisikku dan bukan shock karena bertemu kembali denganku mantan kekasihnya, dia tak perlu tahu itu. Aku tak mau merusak kebahagiaan mereka " Gumam Ferdi dalam hati.
Selengkapnya...
