DIMANA DIAN..?

Sabtu, 25 Juli 2009

Cerita ini dibuat beberapa hari setelah peristiwa ditemukannya korban mutilasi di Kebagusan. Sudah cukup lama..tapi tak apalah, sayang kalau cuma jadi file tak berguna.

Andi merenung di dalam kamar kostnya yang pengap. Sambil merebahkan badan matanya menerawang kelangit-langit kamar yang mulai menghitam dan berhiaskan satu dua sarang laba-laba kecil. Cahaya matahari menyeruak disela-sela tirai jendela yang sengaja tak dibukanya walau hari sudah menjelang siang. Sejak di PHK dari tempat kerjanya empat bulan yang lalu, tak banyak yang ia lakukan. Kebanyakan kerjanya hanya merenung da merenung, mau pulang kampung rasanya tak mungkin karena ia tahu persis tak banyak juga yang bisa dilakukan disana...Paling-paling jadi buruh tani seperti bapak yang penghasilannya tak seberapa. Lagipula ia akan merasa malu sekali bila harus kembali kekampung sedangkan seluruh teman-teman sepermainannya sudah merantau dan sukses di Jakarta. Dan iapun tak mau menanggung beban pikiran kedua orang tuanya yang sampai saat ini masih membanting tulang walau kulit telah berhias keriput.

Sesekali ia menyibukkan diri dengan mencorat-coret kertas untuk menulis puisi hanya sekedar mengisi waktu luang juga menyalurkan hobi yang memang sejak SMP ia lakoni.Bila sedang tak memiliki inspirasi, Andi menyambangi teman-temannya untuk sekedar berkumpul sakaligus mencari informasi barangkali ada lowongan kerja baru untuknya. Tapi hari ini rasanya ia begitu malas melakukan aktivitas apapun, tidak corat-coret puisi dan tidak juga berkumpul dengan teman-temannya.

Beban pikiran yang dipikulnya kian hari terasa kian berat saja, menganggur bagai hantu siang bolong yang membuat dengkul gemetar bagi seorang perantau seperti dirinya. Ia merasa seperti kehilangan jati diri saat dipaksa menanggalkan status karyawan yang telah disandangnya beberapa tahun. Dan kini beban pikirannya mulai bertambah saat orang tua Dian, kekasih yang telah dipacarinya selama dua tahun itu melarang mereka melanjutkan hubungan mereka. Masalahnya cuma satu..ia seorang penganggur. Sedih rasanya mendapati kenyataan bahwa orang tua Dian masih melihat materi sebagai ukuran layak atau tidaknya seseorang menjadi kekasih atau suami Dian kelak, walau dalam hati ia tak mengingkari orang tua mana yang ingin melihat anaknya sengsara. Padahal dua bulan sebelum dirinya mendapat surat PHK, orang tua Dian pernah mendesaknya untuk segera meresmikan hubungannya dengan Dian. Tapi kini sikap orang tua Dian berbalik tiga ratus enam puluh derajat dengan menolaknya mentah-mentah hanya karena ia seorang penganggur.

Sungguh menyakitkan..dan Andi hanya bisa menghela nafas panjang bila mengingat hal itu. Dari salah satu sisi hati nuraninya dan mengikuti egonya sebagai seorang lelaki barangkali akan bersorak atas penolakan orang tua Dian. Barangkali yang akan merasa lebih sakit adalah Dian karena dia telah menyerahkan segalanya pada Andi, kamar kost dan hotel murah yang banyak bertebaran di Jakarta adalah saksi bisunya. Tapi Andi bukanlah seorang pegecut, disisi hati nuraninya yang lain merasa tak mudah untuk melupakan Dian begitu saja. Hubungan yang ia jalin bukan hanya berlandaskan nafsu belaka, rasa cinta dan sayangnya pada Dian adalah tulus. Tapi bila Dian pada akhirnya mengikuti kemauan orang tuanya iapun hanya pasrah, ia tak mau memaksakan kehendaknya sendiri.

Pada kenyataannya Cinta dan kasih sayang Dianpun tak surut, ia membangkang dari keinginan orang tuanya. Sehingga hubungan mereka masih terjalin walau kini dijalani dengan sembunyi-sembunyi. Dering handphone membuyarkan lamunan Andi.
" Mas..! kamu dimana ?"
" Biasa...ditempat kost. Memang kenapa..?"
" Jangan kemana-mana ya..! aku mau kesana "
" Lho..! kamu nggak kerja..?"
" Ah...lagi malas mas"
" Ya..sudah, aku tunggu. Tapi bawain koran hari ini ya.." pinta Andi yang disanggupi Dian. Hati Andi kembali riang, benang-benang kusut dari pikirannya seakan telah terurai. Sambil bersiul-siul ia segera merapikan kamar kost dan tempat tidurnya karena kamar ini kembali akan menjadi saksi bisu ritual purba pertautan dua hati yang tak terpisahkan.

* * * * * *

" Orang-orang sudah banyak yang sinting ya mas.." ujar Dian.
" Lho.. memangnya kenapa ?"
" Coba baca deh..!" lanjut Dian sambil menyerahkan surat kabar yang tadi dibacanya kepada Andi. Mata Andi segera menangkap headline berita di halaman depan yang berhuruf besar dan tebal " KORBAN MUTILASI DALAM KOPER ". Andi menggeleng-gelengkan kepalanya saat membaca isi berita tentang ditemukannya mayat terpotong-potong korban mutilasi di daerah Kebagusan Jakarta Selatan. Juga ada berita yang tak kalah seramnya yaitu ditemukan sosok mayat wanita tersangkut pada tepi jurang di daerah Ciomas Bogor, kondisi mayat begitu mengenaskan. Selain tubuh tak tertutup sehelai benangpun, seluruh tubuhnya juga hangus terbakar sehingga hampir tak kelihatan wujud dan rupa dari jasad tersebut. Benar apa yang dikatakan Dian, orang-orang sudah mulai sinting...! karena begitu mudahnya mereka menghilangkan nyawa orang lain dengan cara keji dan sadis tanpa sedikitpun rasa kemanusiaan. Entah terbuat dari apa hati orang-orang itu...

Andi tercenung setelah membaca berita itu. Dalam pikirannya ia melihat dibalik semua itu ternyata pelaku-pelaku kriminal sudah sedemikian pintar. Mereka semakin tahu bagaimana caranya menghilangkan jejak dengan melenyapkan segala sesuatu yang bisa menjadi petunjuk bagi para aparat kepolisian untuk mengungkap suatu peristiwa pembunuhan. Dari barang-barang milik korban, kartu identitas juga ciri-ciri fisik dari korban sebisa mungkin dilenyapkan. Sehingga aparat kepolisian akan menemui kesulitan dan walaupun terungkap kemungkinan itu akan membutuhkan proses atau waktu yang cukup lama. Dan Andi kembali tercenung seperti ada sesuatu yang sedang ia pikirkan. Tak lama kemudian ia terlihat tersenyum-senyum sendiri sehingga membuat Dian yang sejak tadi memperhatikannya menjadi terheran-heran. Mengapa berita yang ia anggap menyeramkan justru membuat Andi tersenyum-senyum seperti itu..?

Berita-berita pembunuhan masih menghiasi media cetak maupun media elektronik, bahkan terkesan mereka saling berlomba-lomba menelusuri kasus-kasus tersebut sebagai komoditas yang membuat tiras media cetak bertambah ataupun menaikkan rating dan mengeruk iklan bagi televisi yang menayangkan berita-berita secara sporadis atau bahkan mengemasnya secara exklusif. Setiap hari berita-berita itu dikupas berulang-ulang, ada sebagian msyarakat yang muak dengan kondisi tersebut namun lebih banyak yang justru makin penasaran untuk mengetahui kelanjutan dari kasus-kasus tersebut. Diantara mereka juga bertanya-tanya apakah kasus tersebut segera terungkap atau malah aparat kepolisian tak sanggup untuk mengungkapnya.

Entah fenomena apa yang melanda negeri ini..apakah karena himpitan ekonomi yang kian berat ? sehingga membuat sebagian masyarakat mudah kehilangan akal sehatnya. Mudah marah..tersinggung dan sering mengambil jalan pintas dari permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi. Atau malah pemberitaan yang gencar dari media cetak ataupun media elektronik secara tidak sengaja justru jadi pembelajaran bagi sebagian masyarakat yang imannya telah luntur.

Masyarakat Jakarta kembali geger, belum lagi terungkap kasus-kasus pembunuhan sebelumnya kini kasus yang sama terulang lagi. Kali ini peristiwa terjadi di kawasan Jakarta Timur tepatnya di sebuah hotel transit dekat terminal Pulo Gadung.Kondisi mayat sangat mengenaskan bahkan ini terkesan lebih sadis dari peristiwa pembunuhan sebelumnya. Bagaimana tidak..! mayat tersebut ditemukan dalam keadaan hangus terbakar dan yang lebih mengerikan lagi, sebelum dibakar mayat tersebut sudah dalam keadaan terpotong-potong. Sungguh biadab..! masyarakat yang mengetahui dan mendengar kejadian tersebut bergidik dan dipenuhi kengerian yang amat sangat. Merekapun dipenuhi rasa ketakutan, jangan-jangan mereka atau keluarga mereka akan jadi korban berikutnya bila pelaku dari kasus-kasus yang terjadi tak segera terungkap. Aparat kepolisian bergerak cepat, dari langkah awal penyelidikan di tempat kejadian ditemukan beberapa barang bukti yang mengarah pada indetitas korban. Dari barang-barang yang tertinggal serta kartu identitas yang ditemukan di tempat kejadian, aparat kepolisian menduga bila korban adalah Dian Maharani.

Sontak berita itu membuat geger keluarga Dian terutama ibunya, ia tak henti-hentinya meraung menangisi Dian anaknya. Walaupun mayat wanita tersebut belum tentu Dian tapi dari barang-barang yang ditemukan membuat keluarga yakin bila itu adalah Dian. Apalagi terhitung dua hari ini Dian tak kembali kerumah dan tidak diketahui keberadaannya. Seluruh pelosok Jakarta sudah ditelusuri diantaranya rumah teman-teman dekat Dian, kantor tempatnya bekerja dan terakhir menyambangi tempat kost Andi mantan kekasihnya.Sayangnya ditempat kost juga tak ditemukan Andi, karena menurut pemilik tempat kost..Andi beberapa hari lalu pamit untuk pulang kekampungnya.

Berita ditemukannya mayat wanita dengan identitas Dian Maharani seakan menjawab teka-teki hilangnya Dian selama dua hari ini. Betapa hancur hati orang tua, kerabat juga teman-teman dekat Dian. Walau hidup dan matinya semua makhluk yang ada dimuka bumi ini adalah Kuasa Tuhan namun rasanya siapapun tak mudah menerima dengan ikhlas dengan cara Dian menjemput ajalnya.

Sementara itu disebuah pelosok kampung di daerah Jawa Barat, dengan dibantu seorang aparat desa setempat yang berperan sebagai penghulu sepasang muda-mudi sedang dinikahkan secara siri. Mempelai wanita tidak menampakkan sedikitpun wajahnya karena ditutupi cadar hitam pekat, sedangkan mempelai pria tak henti-hentinya mengumbar senyum....

10 komentar:

Ansgarius mengatakan...

bagus mas ceritanya....misterius

Noor's blog (inside of me) mengatakan...

Makasih komennya..makasih juga dah mau mampir, salam kenal

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

apakah Andi telah membunuh seseorang yg mirip Dian? Padahal, Dian masih hidup dan mereka menikah diam2?

btw, aku pilih teh manis aja deh.makasih ya...udah diminum nih.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

ktp dian diletakkan di dekat mayat itu kan? jadi orang berpikir itu adalah Dian. toh, tubuhnya sudah termutilasi jadi gak bisa keliatan siapa sebenarnya wanita itu. tapi kalo diotopsi bisa ketahuan lho, apakah orang itu Dian atau bukan.

Noor's blog (inside of me) mengatakan...

Benar mba..! mayat Dian atau bukan bisa ketahuan dari otopsi..di cerita juga ada kalimat " walaupun terungkap kemungkinan akan membutuhkan proses atau waktu yang cukup lama..". makasih komengnya.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

haloo....mampir lagi bawa jus stroberi award nih.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

tgl 1 Agustus baru bisa diambil jus stroberi awardnya ya.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

ada award untukmu ya. cek di artikel Award ala Fanny Fredlina.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah, jadi bingung mo koment apa nih. blm ada yg baru sih.

Noor's blog (inside of me) mengatakan...

Eh..maaf ya mba..lagi sibuk ngurusin blog yang satu lagi. Mba boleh deh kasih koment disana, blognya dah siap dikritik ko..! he..he

Posting Komentar