SURAU BAMBU

Kamis, 08 Oktober 2009

Pukul 02.00 dinihari, lalu lintas kendaraan terlihat sepi. Hanya sesekali saja terlihat kendaraan melintas seperti saat ini sebuah mobil BMW hitam metallic keluaran terbaru meluncur dengan kecepatan sedang. Jalan kendaraan terlihat sedikit oleng karena Ahmad si pengendara mobil itu cukup mabuk untuk dapat berkonsentrasi secara penuh dalam mengendarai mobilnya. Ya… memang dia baru saja keluar dari sebuah pub & diskotik seperti yang biasa ia lakukan di malam-malam sebelumnya. Mencari hiburan dan melarikan diri dari beban pikiran hidup juga beban pekerjaan yang tak ada habisnya dengan menenggak beberapa botol minuman keras. Malam ini ia cukup tahu diri dengan tidak membawa kendaraannya melaju kencang dan ugal-ugalan karena ia merasa cukup banyak menenggak minuman, entah karena memang dia ingin atau karena rayuan waitress cantik yang menemaninya tadi.

Ditengah perjalanan tiba-tiba Ahmad merasakan ada yang tidak beres dengan mobilnya, jalannya tersendat-sendat dan pedal gaspun seakan tak berfungsi. Iapun segera menepikan kendaraannya dijalan yang sangat sepi juga gelap karena tak ada lampu penerangan yang menerangi jalan, hanya cahaya bulan sabit yang cukup berbaik hati memberikan sedikit cahaya. Ahmad mengutuk dalam hatinya, sejenak ia terpekur didepan kemudi. Ahmad tidak tahu persis di daerah mana ia berhenti, jalan yang sepi dan gelap itu sedikit membuatnya jeri jangan-jangan ia akan jadi sasaran empuk para oknum kriminal. Keinginan untuk segera merebahkan dirinya dikasur empuk membuat Ahmad segera membuka pintu dan turun untuk memeriksa mesin mobil, sejenak ia memperhatikan lingkungan disekelilingnya. Ada perasaan aneh menyelimuti dirinya, ia merasa seakan-akan mengenali tempat ini.

Tiba-tiba terlihat olehnya cahaya berpendar dari kejauhan namun cahaya itu sebentar-sebentar menghilang dari pandangannya, cahaya apa..? darimana asalnya..? beberapa pertanyaan yangmenggayut di benaknya. Lalu seperti ada yang menuntun iapun melangkah untuk mencari dan mendekati cahaya yang ia lihat tadi. Pengaruh alkohol membuat langkahnya sedikit terhuyung, apalagi beberapakali kakinya terantuk gundukan tanah atau batu karena jalan yang gelap membuatnya kesulitan menatap jalan yang dilaluinya. Ahmad sendiri merasa cukup heran, di Jakarta yang penduduknya sangat padat dengan rumah yang berhimpitan ternyata masih ada daerah yang sepertinya belum terjamah. Karena tak dilihatnya sedikitpun tanda-tanda ada rumah didaerah itu, tak ada lampu penerangan walau lampu templok sekalipun. Ia melangkah hati-hati dan perlahan karena ia tak mau mengalami nasib konyol terperosok dan tersungkur ketanah. Dalam hatinya berharap mudah-mudahan tak ada parit atau sungai kecil ditengah jalannya.Cahaya rembulan samar-samar memperlihatkan bahwa saat ini ia berada ditengah hutan bambu. Hembusan angin yang berdesir seakan mengajak pohon-pohon bambu yang menjulang tinggi dihadapannya untuk menari, bergerak kekiri dan kekanan mengikuti irama angin. Suara berderak dari batang-batang bambu yang bergesekan juga gemerisik suara dedaunan yang tertiup hembusan angin bagai symponi yang membawanya pada ingatan akan masa lalu. Ahmad terus melangkah mendekati cahaya yang tadi dilihatnya walau terkadang langkahnya menggerus tumpukan-tumpukan daun bambu kering.

Cahaya itu masih saja terlihat ada dan hilang bergantian karena mungkin terhalang batang bambu yang terus bergerak. Semakin jauh Ahmad melangkah yang dirasa malah rumpun bambu semakin rimbun dan semakin lebat seakan tak celah diantaranya untuk menembusnya, bulu-bulu halus yang menempel pada batang bambu mulai membuat badannya sedikit merasa gatal namun tak mengurangi rasa penasarannya mendekati sumber cahaya. Ahmad mulai dihinggapi rasa putus asa namun disela-sela keputus asaannya itu tiba-tiba dilihatnya rumpun bambu didepannya bergeser dan mulai merenggang seakan memberinya jalan. Apa yang terjadi..? siapa yang berbuat..? pertanyaan-pertanyaan kembali mengusik, namun pertanyaan-pertanyaan itu tertahan dan tak mengharap jawaban karena cahaya terang benderang tiba-tiba menerpa dan menyapa ke dua bola matanya. Ahmad sempat berpaling karena matanya terlalu kaget dengan transisi dari gelap dan terang benderang yang begitu tiba-tiba, ia mengangkat kedua telapak tangannya dan diletakkan didepan matanya sebagai tameng.

Ketika matanya mulai bisa menyesuaikan diri dilihatnya sebuah bangunan yang hampir semua bagiannya terbuat dari bahan bambu terlihat nyata dihadapannya. Matanya juga menangkap sekumpulan anak-anak berpakaian muslim duduk berjejer rapih dihadapan seorang tua berpakaian serba dengan selembar sorban melilit dikepalanya. Duduk bersila sambil mendengar dan memperhatikan satu persatu anak dihadapannya melapalkan ayat-ayat suci alquran, terkadang ia menghentikan bacaan anak-anak itu untuk memperbaiki ucapan yang salah lalu memintanya untuk mengulang sampai ayat yang dibaca terucap dengan benar. Apa yang dilihat Ahmad seperti sebuah kegiatan belajar mengaji yang dilakukan anak-anak dengan orang tua itu sebagai guru mengajinya. Ahmad tertegun menyaksikan apa yang ada dihadapannya, ia berusaha mengumpulkan ingatan yang ada dikepalanya. Ia merasakan pernah mengalami apa yang dilihatnya itu dan orang tua itupun seakan-akan pernah dikenalnya, entah kapan dan dimana ? ia tak ingat sama sekali.

Walau kecakapan dan kemampuan murid-murid membaca ayat-ayat suci itu terdengar berbeda-beda namun terdengar lebih banyak yang masih kesulitan membaca dengan benar. Hanya segelintir saja yang sudah cakap dalam melapalkan ayat-ayat alquran itu dan alunannya pun meresap kedalam kalbu bagi yang mendengarnya. Salah satunya adalah anak murid laki-laki yang terlihat memakai baju koko warna coklat. Orang tua itu terlihat tersenyum bahkan sesekali menganggukkan kepalanya tanda senang mendengar kecakapan anak itu membaca namun begitu orang tua itu tetap memberi nasehat saat anak itu menyelesaikan bacaannya. Ada juga beberapa murid perempuan yang cakap dalam membaca, salah satunya yang berkerudung putih. Seperti saat mendengarkan murid laki-laki membaca, kali inipun ia tersenyum dan manggut-manggut juga memberi nasehat murid perempuan itu setelah selesai membaca. Tampaknya orang tua itu cukup puas mengetahui kemampuan murid-muridnya sudah mulai meningkat walau ia masih harus cukup bersabar dan tekun mengajari murid-murid yang tertinggal.
Sejenak orang tua itu melirik jam dinding yang menggantung di para-para bambu, ia menyelesaikan kegiatan mengaji untuk dilanjutkan esok hari.

Ia berbicara dengan anak laki-laki yang berkoko coklat tadi, entah apa yang di bicarakan. Orang tua itu bangkit dari duduk silanya lalu menuju sebuah bedug yang terletak sisi kiri surau itu, sebentar kemudian suara pukulan bedug itu berdentam lalu kemudian diikuti suara azan yang mengalun mengajak para muslimin dan muslimat menghentikan kegiatan sejenak untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Alunan suara azan mengalun merdu meresap ke dalam relung sukma dan begitu menggetarkan hati Ahmad ternyata di kumandangkan anak laki-laki itu. Ahmad tertunduk, alunan azan itu menyadarkan dirinya bahwa kini ia begitu kotor dan begitu nista. Telah lama ia mengabaikan suara panggilan itu, telah lama ia meninggalkan semuanya hingga perasaannya kini diliputi rasa penyesalan yang begitu mendalam. Satu persatu orang datang untuk sholat berjamaah yang kemudian dipimpin orang tua berjubah putih itu sebagai imamnya. Selesai sholat matanya tertuju pada anak laki-laki berkoko coklat itu, pastilah orang tuanya merasa amat bangga. Matanyapun tak lepas menatap saat anak itu melangkah pulang sampai kemudian lenyap dari pandangan mata.
“ Anak itu adalah kau Ahmad..!” sebuah suara yang tiba-tiba terdengar dari arah belakang dan kemudian terasa seseorang menepuk bahunya. Ahmad terkejut bukan kepalang, ia langsung menoleh kearah suara itu datang dan dilihatnya orang tua berjubah putih itu tersenyum kepadanya. Mulutnya terasa terkunci, ia seakan tak sanggup mengucap satu patah katapun. Bukan karena takut tapi karena ia tiba-tiba mengenali betul siapa orang tua itu, segera tangannya meraih tangan orang tua itu lalu menciumnya.
“ Sudah lama kau tidak menyambangi suraumu ini nak, kemana saja kau selama ini..?”
“ Ya.. pak haji, sa..sa..saya !” Ahmad tak mampu meneruskan kata-katanya, air matanya menetes. Teguran lembut dari pak haji secara tak langsung seakan menghujam dadanya dan penyesalan yang begitu dalam kembali dirasakannya.
“ Saya tahu apa yang kau rasakan nak..! juga masalah-masalahmu. Tetapi seharusnya agama yang telah kau pelajari dan ayat-ayat alquran yang telah kau baca bisa menjadi pedoman dan mampu menuntunmu ke jalan yang diridhoi Tuhan, bukan jalan sesat yang kini kau ambil.. ‘’
‘’ Maafkan saya pak haji, saya tidak kuat.. !. Beban hidup saya terasa begitu berat ‘’
‘’ Beban yang kau rasakan itu ..hanya ujian nak !, Tuhan tak akan memberi ujian kepada hambanya bila hambanya itu tak mampu menghadapinya. Seharusnya kamu mampu.. ! ‘’ ujar pak haji masih dengan suara lembutnya. Ahmad hanya bisa tertunduk, air matanya mulai menetes saat menyadari bahwa dirinya begitu lemah dalam menghadapi cobaan hidup yang menderanya.
‘’ Sudahlah nak ! tak ada yang perlu kau sesali. Sekarang pulanglah, bersihkan dirimu dan kembalilah kesurau ini. Alunkanlah lagi ayat-ayat alquran dan dekatkanlah dirimu pada Allah niscaya segala ujian dan cobaan akan kamu hadapi dengan mudah. Satu lagi pesan saya, tolong kau rawat surau ini dan tolong kau jaga sebaik-baiknya “ ujar pak haji sambil menepuk-nepuk bahu Ahmad, ia hanya mengangguk perlahan kemudian mencium lengan pak haji saat orang itu beranjak kembali menuju surau. Sesaat kemudian alunan merdu ayat-ayat suci alquran kembali terdengar, meresap kedalam relung hati dan meninabobokan Ahmad.

“ Pak...bangun pak ! sedang apa bapak disini..?” ujar seseorang sambil mengguncang-guncangkan bahu Ahmad. Perlahan Ahmad membuka kelopak matanya namun ia begitu kaget saat mengetahui dirinya tertidur di sebuah pintu masuk komplek pertokoan. Yang membangunkannya ternyata security dari komplek itu dan Ahmad cukup beruntung karena masih memakai lengkap pakaian kerjanya dengan dasi yang melilit di leher sehingga security masih cukup sopan membangunkannya. Bila ia berpakaian gembel barangkali ia sudah dimaki, dibentak dan diusir layaknya anjing buduk yang di harapkan kehadirannya disitu. Matanya nanar menatap ke sekeliling, tak ada lagi surau, tak ada lagi rimbunnya pohon bambu dan tak ada lagi sosok pak haji terlihat. Yang ada hanya deretan ruko dan perkantoran yang gersang tak berpohon, di belakangnya berdiri rumah-rumah pemukiman yang berhimpit-himpitan. Sungguh begitu kontras dengan apa yang dilihatnya tadi malam atau sebelum ia jatuh tertidur.

Satu tahun kemudian Ahmad datang kembali ketempat itu, kali ini tempat itu telah berdiri sebuah masjid megah dengan beberapa rumpun bambu yang sengaja ditanam disisi kiri dan kanan masjid itu. Ahmad tersenyum puas, dari kejauhan dilihatnya sosok pak haji berdiri didepan masjid dan melambaikan tangan padanya sambil tersenyum walau sesaat kemudian menghilang. Sekali Ahmad memandangi masjid megah yang telah dibangunnya serta rumpun bambu yang melambai-lambai kearahnya. Ia kembali tersenyum, baginya masjid ini tetaplah surau bambunya.


Kampung Sawah
Minggu, 08 Juli 2009

24 komentar:

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

cerita yg bagus dan menyentuh. sebelum terlambat memang seharusnya kita segera bertobat.

Ibnu Mas'ud mengatakan...

ceritanya bagus mas....

Dian Atika mengatakan...

..two thumbs up..deskriptif dan ada hikmahnya..keren2..yang paragraf awalnya dapet inspirasi dr mana Bang Noor?..

bluethunderheart mengatakan...

nice sahabat
salam hangat selalu

Ibnu Mas'ud mengatakan...

Mampir agi bang noor

Ibnu Mas'ud mengatakan...

Mampirrr lagi mas Noor

Noor's blog (inside of me) mengatakan...

@ Mpok Dian : Inspirasi..? he..he

@ Mas Ibnu : kalo belum ada update di blog ini, saya undang mas Ibnu untuk mampir di http://nhasan-capri.blogspot.com

@ 4 all : makasih atas apresiasinya

fanny mengatakan...

kapan2 bikin cerita suling bambu ya

Itik Bali mengatakan...

Ceritanya menyentuh banget mas
kadang kita memang terlambat menyadari kesalahan

reni mengatakan...

Setuju dengan semuanya... ceritanya bagus banget..!!
Mantap deh..!! ^_^

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

ada yg beda dg blog ini. ooh, ada jamnya bisa bergerak sendiri lho jarumnya. he he he...keren kok.

dewi mengatakan...

sbuah maha karya yang sgt indah... makasih mas..untuk membuat cerita ini ada...

Ibnu Mas'ud mengatakan...

Mampir lagi .....

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

mau belajar bikin cerpen sambil nungging? ha haha...ada kursusnya lho.

Rumah Ide dan Cerita mengatakan...

Kalau Allah mau ngasih hidayah Tak ada yang bisa menghalangi

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

aku Fanny, he hehe..yg pake baju ijo muda. masa gak tau. btw, ada award ya untukmu.

AISHALIFE-LINE mengatakan...

Tuhan pasti memberi jalan lewat lantaran apapun pada umatnya yang mau bertobat bro.Bagus sekali kisahnya.

Yunna mengatakan...

tulian yang manis dan bagus...

Kerja keras adalah energi kita mengatakan...

terimakasi atas kunjunganya
engggak usah pening2 santai aja yang penting kita jadi sahabat
ahahhah........
kerja keras adalah energi kita

Kerja keras adalah energi kita mengatakan...

ya udalah besok saya bahasa betawi aja biar pada ngerti
hhhhhh
salam persahabatan

Munir Ardi mengatakan...

Salam kenal bang saya orang baru pingin belajar banyak apalagi bikin cerpen sebagus ini

Ibnu Mas'ud mengatakan...

Mampir lagi bang !!

Itik Bali mengatakan...

Cerita yang sangat bagus mas,,,
kita seharusnya dari awal menyadari kesalahan..
sebelum semuanya terlambat..

Munir Ardi mengatakan...

mampir mas

Posting Komentar