DITEPI WAKTU

Sabtu, 28 Agustus 2010

T'lah kuhirup selaksa debu di terik siang
T'lah kuhisap manisnya temaram malam
T'lah terjatuhku di jalan terjal berbatu
T'lah terhempasku oleh ganasnya gelombang samudera waktu

Saat terlihat aksara menari tanpa makna
Saat mahkota mulai memudar dan memutih
Masihkahku diijinkan menunggu mawarku tumbuh dan berbunga
Masihkahku diijinkan menjaga kuncupnya yang mulai berbuah
Masihkahku diijinkan menyapaMU lalu terpejam diharibaan dengan senyuman

12 komentar:

Meutia Halida Khairani mengatakan...

dalem bgttt puisinya..
saya paling susah nulis puisi..

inge / cyber dreamer mengatakan...

semoga... ^^

puisi yang bisa dibilang singkat tapi begitu bermakna >.<

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

masih...masih diijinkan kok

Dongkrak Antik mengatakan...

salam kenal....blognya bagus ya...mas aku blog baru...mintak bimbingannya ya ...biar blogku kayak pya e mas..tukeran liks ya mas..nanti aku pasang biar aku banyak teman...salam kenal dari dongkrak antik ...kunjung balik ya

silvi mengatakan...

salam kenal

windflowers mengatakan...

ketika mahkota berubah menjadi warna putih...itu sebagai tanda kebijaksanaan yang tak bisa terbantahkan lagi...:)

catatan kecilku mengatakan...

Puisinya bagus banget... Suka membacanya. :)

CÜpú kisяÜh mengatakan...

sungguh sebuah rangakaian kata yang indah bang :)

neng rara mengatakan...

assalamualaikum...
keindahan puisi ini yang membuat saya betah bang..
betah memandangi dan mengulang membaca isi puisi yang ingin disampaikan...
mmhhhmm saya bukan pengamat puisi yang baik
salam

ivan kavalera mengatakan...

keren..

Mina dan Udin bersin-bersin,
Minal aidin wal faidzin.

Latifah hizboel mengatakan...

Jika hati sejernih air, jangan biarkan ia keruh
Jika hati seputih awan, jangan biarkan dia mendung
Jika hati seindah bulan, hiasi ia dengan iman
Mohon maaf lahir batin yg sebesar2nya saya baru bisa mampir kembali kesini...

reza_strooke mengatakan...

sang pujangga..
huhuii...

Posting Komentar