BIBI SUMIRAH ( 2 )

Rabu, 07 Juli 2010

Tidak seperti biasanya, malam ini selepas Maghrib para jamaah baik bapak-bapak atau ibu-ibu yang melaksanakan sholat berjamaah tidak langsung kembali ke rumah tak terkecuali bibi Sumirah.  Mereka duduk bersila berhadapan dengan pak haji Sunardi sesepuh kampung yang juga selalu menjadi Imam saat sholat berjamaah. Saat ini disisi pak Sunardi duduk seorang pemuda yang berhias jenggot dan brewok yang tercukur rapi diwajahnya, senyum yang selalu menghias dibibirnya mengesankan kalau dia adalah seorang yang ramah.

" Saudara-saudara, malam ini  kedatangan  tamu . Rasanya kita merasa beruntung karena saudara kita yang ada disamping saya ini adalah seorang ustaz, barangkali beliau juga tidak berkeberatan untuk berbagi ilmu  yang kita harapkan dapat meningkatkan kualitas keimanan kita. Silahkan pak ustaz.." Ujar pak haji Sunardi. Anak muda yang dipanggil ustaz itupun tersenyum.
" Terimakasih pak haji atas kesempatannya. Bapak-bapak dan ibu-ibu yang saya hormati, saya amat tersanjung disebut sebagi ustaz tapi terus terang saya bukanlah ustaz seperti yang pak haji sebutkan. Ilmu agama saya rasanya belum cukup kuat untuk menyandang gelar seberat. Saya memang sempat mengenyam pendidikan di pesantren tapi sebenarnya belum selesai.." Ujar lelaki itu sambil mengumbar senyum. Para jamaahpun ikut tersenyum, kemudian ada beberapa diantara mereka yang saling berbisik. Entah apa yang mereka bisikkan ? mungkin cara lelaki itu berbicara, perawakan lelaki itu atau mungkin juga penampilannya.
 " Bapak-bapak...ibu-ibu, saya berada disini sekali lagi bukan untuk berceramah karena sekali lagi saya berterus terang kalau ilmu saya belumlah cukup untuk itu. Saya hanya ingin mencoba menyampaikan kisah hidup saya yang bagi saya itu terasa sangat pahit. Mudah-mudahan kisah yang saya sampaikan nanti dapat mengandung hikmah dan berguna untuk menambah nilai keimanan kita " sambung lelaki itu yang disambut amin oleh para jemaah dan lelaki itupun memulai kisahnya 

Ia mengisahkan kehidupannya sejak kecil sampai dewasa, mengisahkan siapa yang mengajarinya tentang nilai-nilai agama juga mengisahkan tentang kehilangan orang tua hingga pengembaraannya mencari seseorang yang ia yakini dapat memberikan kebahagiaan. Para jemaah mendengarkan  dengan tekun apa yang dikisahkan lelaki itu. Ada kesedihan  dari kisah yang disampaikannya dan sebagian ibu-ibu tak urung meneteskan airmata keharuan. Diantara ibu-ibu itu bibi Sumirah justru merasa bingung. Ia merasa ada bagian dari kisah yang  diceritakan lelaki itu hampir mirip dengan pengalaman hidupnya saat menjadi pembantu rumahtangga pada sebuah keluarga. Hatinya diliputi penuh tanda tanya. Sambil meneruskan kisahnya lelaki itu menyapu pandangan ke arah para jemaah, satu persatu ia pandangi hingga pandangannya jatuh pada sosok bibi Sumirah. Dadanya bergejolak dan terlihat airmata mulai menggenangi pelupuk matanya tapi ia tetap tersenyum dan melanjutkan kisahnya.

" Maaf..bukan saya bermaksud sombong  tapi kalaulah boleh saya katakan, dulu saya termasuk anak dari keluarga berada. Tapi setelah ayah  ibu saya melakukan kesalahan dan terakhir mengusir pembantu rumah tangga kami, keluarga kami bagai mendapat karma. Keluarga kami berantakan, ayah saya jatuh sakit dan kemudian meninggal karena perusahaan kami bangkrut. begitu juga dengan ibu saya, beliau hampir gila karena tak siap menerima kenyataan hidup dan kemudian juga jatuh sakit lalu menyusul ayah saya. Pembantu yang diusir itulah yang menanamkan dasar-dasar agama pada saya, yang menyayangi saya seperti anak sendiri juga yang melindungi saya. Dan ketika saya sebatangkara yang teringat  pertamakali oleh saya adalah beliau, kasih sayangnya amat saya rindukan. Kerinduan itu membawa langkah saya mengembara, sambil memperdalam ilmu agama saya mencarinya dan terus mencarinya bagai saya mencari ibu kandung saya sendiri " Airmata lelaki itu mulai menetes, kemudian ia bangkit dari duduknya dan melangkah perlahan sampai ia tepat berdiri di dekat bibi Sumirah. 

Berjuta tanya yang sejak tadi ada dibenak bibi Sumirah kini serasa mulai memenuhi dadanya, matanya hanya bisa menatap saat lelaki mulai bersimpuh dihadapannya.
" Maafkan saya ibu, apakah ibu bernama bibi Sumirah " Tanya lelaki itu dengan lembut. Bibi Sumirah tak langsung menjawab, ia merasa dadanya begitu sesak. Rasanya ia tak sanggup mengucapkan kata-kata dan iapun hanya bisa mengangguk lemah diiringi airmata yang terus menggenang dipelupuk matanya.
" Ibu...saya Dudi bu, ibu masih ingat ?" Tanya lelaki itu lagi masih dengan nada lembut. Dan kali ini bibi Sumirah benar-benar terkejut, matanya nanar menatap lelaki yang mengaku bernama Dudi itu.
" Dudi....benarkah kamu Dudi nak..?" Tanya bibi Sumirah lirih
" Ya..bu, saya Dudi..." Jawab lelaki itu seraya meraih tangan bibi Sumirah dan menciumnya. Dan seketika meledaklah tangis keduanya dalam pelukan. Suara tangis mereka menggema disemua sudut surau, para jemaah yang lain tak kuasa menahan tetes-tetes airmata keharuan seraya mengucapkan..." Alhamdulillah...Tuhan telah mempertemukan mereka kembali ".

22 komentar:

catatan kecilku mengatakan...

Alhamdulillah... Allah telah membuka jalan bagi mereka berdua tuk bisa bertemu kembali

da2nkkuswata mengatakan...

nice...

Arif Chasan mengatakan...

pengelaman pribadikah?... ^^

Noor's blog (inside of me ) mengatakan...

@ Mas Arif : Bukan mas, itu cuma fiksi..! makasih dah mampir...

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

hm..udah bagian ke 2..

Cara Buat Template Blogspot mengatakan...

lama tidak berkunjung ke blog ini..., akhirnya bisa baca cerpen mu lagi sob... hehehhehehe

Radhityanotes ^_^

Bali Wedding Photography mengatakan...

imajinasi yang hebat... hehehehehhehehe

Raini Munti mengatakan...

siapa yg mbwt cerpen keren ini? :) truskn bakatmu

promo baju online di bajuqueen.blogspot.com beli y :)

Harits Mugni N mengatakan...

Subhanallah, cerita yang bagus mas. Mudah-mudahan seterusnya bisa lebih baik mas.

Salam kenal yah mas.

Noor's blog (inside of me ) mengatakan...

@ Mas Radithya : Met baca2 kembali mas...hehehe
@ Bu Raini & Harits : Makasih banyak....

Arya jafarudin mengatakan...

mantap bu,,,,

catatan kecilku mengatakan...

Selamat malam.... mampir lagi.

catatan kecilku mengatakan...

Selamat malam... mampir lagi. :D

Bali Wedding Photography mengatakan...

di tunggu cerpen selanjutnya sobat.... hehehehehehhe

Itik Bali mengatakan...

Bang Pendi emang selalu oke imajinasinya
Padat dan penuh makna..

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

oot : cerpennya kamu ketik dan taruh di word dulu di kompi, kan ntar keliatan berapa halaman. atau gini..kamu klik tools lalu klik word count. cerpen yg berisi 5 halaman itu sekitar 1500 kata.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

baru perhatikan, templatenya ganti ya? keren juga

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

mana nih katanya mau buat cerpen utk lomba? hehhee

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

ayo updatee..ganti dg bibir Bejo dong. hahaha..met beraktivitas

reni mengatakan...

Met malam..... :D

AISHALIFE-LINE mengatakan...

Subhanallah...mereka bertemu lagi ya?

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

oot : cek aja yg udah daftar di http://just-fatamorgana.blogspot.com/2010/07/lomba-menulis-cerpen.html

Posting Komentar