BIBI SUMIRAH ( 1 )

Selasa, 06 Juli 2010

Siang mulai terasa terik, sinar matahari sesaat lagi akan jatuh tepat diatas ubun-ubun kepala. Sekelompok anak bermain riang di petak sawah yang belum lama di panen. Mereka mencari keong, ikan ataupun berlomba menangkap capung yang beterbangan dan tak menghiraukan panas yang menyengat. Seorang wanita paruh baya duduk di bale-bale bambu pada sebuah gubuk yang tak jauh dari petak-petak sawah. Matanya nanar menatap anak-anak yang bermain, peluh terlihat disela-sela dahi dan pipinya yang mulai mengeriput. Ia merasa waktu yang dipinjamnya dari Sang Maha Pencipta rasa-rasanya mulai menipis namun tak setitikpun bahagia mengisi waktu-waktu yang ia pinjam. Duka dan nestapa bagai sarapan yang harus ia telan di setiap paginya, hidup yang ia tempuh bagai jalan yang berliku, licin dan berbatu juga penuh lubang yang siap menjerumuskannya. Terlihat wanita itu menghela napas pelan namun segera ia beristighfar, rasanya tak pantas ia mengeluh dan menyalahkan nasib karena ini hanyalah garis hidup yang harus dijalaninya walau pahit. " Seharusnya aku tabah dan tawakal menerima cobaan yang mendera walau seberat apapun " pikirnya. Matanya kembali menatap satu-persatu anak-anak yang bermain, ada setitik rasa kerinduan dalam hati akan kehadiran seorang anak disisinya. Walau ia sudah pernah menikah namun belum pernah dikaruniai seorang anak dan mungkin sudah ditakdirkan tidak akan punya anak. Satu-satunya anak yang pernah jadi bagian hidupnya adalah Dudi anak majikannya. Ah...iapun kembali terhempas dalam ingatan pada kperistiwa yang mengubah jalan hidupnya.

" Jangan mas...! jangan kau lakukan itu. Istighfar mas...istighfar, kita bisa masuk penjara !" Ujar Sumirah kepada suaminya yang hendak melakukan niat jahatnya.
" Sudahlah jangan kau halangi ! ini jalan satu-satunya agar kita punya uang.." Balas Kirno suaminya.
" Jangan mas...jangan !" Cegah Sumirah sambil memegangi tangan Kirno yang hendak masuk kekamar majikannya. Namun dengan seketika Kirno mengibaskan tangannya dan menampar pipi Sumirah, iapun terjerembab ke lantai.
" Sudah kubilang diaaam..! bila kamu tak mau membantuku, biar aku sendiri dan jangan ikut halangi aku !" Bentak Kirno sambil menunjuk-nunjuk wajah Sumirah. Lalu masuk kamar dan mengacak-acak isi lemari pakaian untuk mencari barang berharga. Sumirah hanya bisa menangis melihat tingkah laku suaminya.
" Biiiii..." Suara anak kecil yang kira-kira masih berumur 6 tahun memanggil dan lari menghampiri Sumirah yang menangis. Sumirah langsung memeluk anak itu karena rasa ketakutan lain dalam hatinya, ia langsung ingin mengajak anak itu menjauh tapi suaminya sudah keluar dari kamar sambil menggenggam beberapa perhiasan ditangannya.
" Kalau perlu anak itu akan aku bawa sekalian, biar bapaknya nanti menggantinya dengan uang tebusan !" Kata Kirno sambil menyeringai. Sumirah terkesiap, segera ia mengeratkan pelukannya pada anak itu untuk melindunginya. Ketakutan yang dirasakan anak itu kini mulai merayapi jantungnya namun belum sempat ia berkata apa-apa tiba-tiba terdengar suara kendaraan yang masuk pekarangan rumah majikannya. Kirno seketika panik, tanpa berkata apa-apa iapun langsung berlari keluar rumah. Sayangnya pengendara mobil yang ternyata bu Dewi sang pemilik rumah melihat Kirno yang lari tergopoh-gopoh.
" Hei...siapa itu ? berhenti...berhenti...!!" Teriak bu Dewi spontan. " Rampok....rampok...!!!" Seketika lingkungan rumah mulai gaduh, beberapa orang yang mendengar teriakan bu Dewi langsung mengejar Kirno. Dan tak lama kemudian Kirno tertangkap dan langsung dihakimi massa dengan barang bukti beberapa perhiasan berupa kalung, gelang emas juga cincin berlian di sakunya. Kemudian aparat kepolisianpun datang.
" Oh...jadi itu suamimu Sum ! rupanya kalian mau kerjasama ya menguras harta saya. Hebat sekali kamu, saya tidak menyangka sama sekali " Ujar bu Dewi sinis.
" Tidak bu...tidak, saya tidak seburuk yang ibu kira. Tak ada niat sedikitpun.." Jawab Sumirah namun langsung dipotong bu Dewi.
" Huh...ngga ada niat katamu !? maling mana ada yang mau mengaku. Sudahlah...bawa saja pak dan jebloskan saja ke penjara bersama suaminya " Kata bu Dewi ketus.
" Bu...jangan bu, kasihanilah saya.." Ujar Sumirah sambil menangis sesegukan. Namun ia hanya bisa pasrah saat 2 orang polisi menggamit lengannya.
" Biii...ikut bi ! ma....bibi mau kemana ? jangan ma...bibi ngga jahat " Ujar Dudi menangisi kepergian Sumirah. Ia menarik-narik baju ibunya namun tak dihiraukan. Sumirah yang melihat itu hanya bisa menangis dengan penuh rasa penyesalan. Dudipun meraung-raung saat mobil patroli polisi beranjak meninggalkan rumah dan membawa bi Sumirah. 

Tak terasa air mata meleleh dipipi Sumirah, ingatannya akan peristiwa itu bagai mengoyak luka yang tak pernah sembuh. Dan kini luka itu bertambah pedih....perih. Suara azan Zuhur yang berkumandang menyentak lamunan Sumirah, lalu disekanya air mata yang mengalir dan kemudian ia melangkahkan kaki menuju pancuran. Air wudhu yang mengusap wajah dirasakannya  bagai hujan yang membasahi ladang hatinya yang gersang dan perlahan mulai menentramkan jiwanya.

Bersambung....

6 komentar:

Dian Atika mengatakan...

You always make story inspired by actual event, like this lha.. ditunggu sambungannya

the others... mengatakan...

Bibi Sumirah telah mendapat perlakuan yg tidak adil dari majikannya, gara2 suaminya yang jahat. Kasihan...

Lone Fighter mengatakan...

Wah, jadi pnasaran. oia, lam knal. skalian Q follow..

fanny mengatakan...

kasihan sumirah...

neng rara mengatakan...

assalamualaikum..
mampir pagi2,
inspiratif mbak noor
salam

daone mengatakan...

Hallo mbak jangan lupa kunjungi juga blog gue gue juga penulis cerpen pemula http://daone-kampungmayamacdhawanks.blogspot.com/

Posting Komentar