HIDAYAH

Selasa, 02 Agustus 2011

Sayup-sayup terdengar suara azan Maghrib berkumandang disela-sela keramain dan macetnya jalan raya. Sebagian pengendara menepikan atau membelokkan kendaraan mereka menuju mesjid yang ada tidak jauh dari  pinggir jalan raya. Selain untuk memenuhi panggilan Allah dan melaksanakan sholat, mereka juga memanfaatkannya untuk beristirahat dari penat mengendarai kendaraan di tengah jalan yang macet. Tapi sebaliknya dengan Andi, ditengah azan yang berkumandang dia malah bersiap-siap pergi untuk menemui temannya. Dengan jaket hitam kesayangan dan jins belel yang melekat dikakinya, Andipun melangkah sambil bersiul-siul…
“Heh..mau kemana kamu?” Tanya Mba Ira, kakaknya.
“Biasalaaah…cari angin. Kelamaan dirumah bikin otak buntu, sumpek! Lagipula apa urusanmu tanya-tanya?” ujar Andi dengan nada sinis.
“Memang bukan urusanku kamu mau pergi kemana tapi pakai otak dong…! suara azan belum juga berhenti, tunggu dulu sampai azan selesai atau sholat dulu kek...”
“Sholat..? Heh, buat apa?” Andi sambil tersenyum sinis.
“Lho…kok buat apa! Sholat itu tiangnya agama…”
“Lalu apa…?” potong Andi.
“Apa yang dikatakan kakakmu itu benar Di. Paling tidak, dengan sholat kamu telah menjalankan apa yang menjadi perintah Allah. Dengan menjalankan perintahNya, itu akan bisa membantumu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang salah dan mana yang benar” sambung Ibu Andi.
“Maaf Bu, bukan Andi nggak mau melaksanakan sholat. Tapi Andi cuma tidak ingin jadi orang yang munafik, yang menjalankan sholat atau menjalankan perintahNya tapi juga sekaligus melanggar laranganNya. Andi masih ingin senang-senang juga berbuat sesuka hati, dan aku tidak mau mencampur adukkan keduanya. Sholat ya sholat….lalu jauhkan diri dari segala maksiat, itu yang benar!”
“Maksud kamu apa, bicara seperti itu…?” Tanya Kak Ira.
“Heh...dengar ya!Aku tidak mau sholat cuma karena takut sama Ibu, aku juga tidak mau sholat kalau cuma ingin menjadikannya kedok untuk menutupi perbuatan hina dan nista  seperti yang kau lakukan.”
“Astagfirullah…Andi!!” teriak Kak Ira.
“Apa…? Makanya ngaca dulu kalau mau ceramahin orang…” ujar Andi sambil menstarter motornya. Ia sempat melihat Ibunya terisak dan menitikkan air mata namun kebenciannya akan Kak Ira membuatnya tidak perduli. Dan iapun langsung tancap gas meninggalkan derum knalpotyang memekakkan telinga. Seperti yang sepintas dilihat Andi, Ibunya memang hanya bisa terdiam menahan isak tangis. Air mata mulai menggenangi pelupuk mata lalu perlahan mulai mengalir membasahi pipi…
“Ya Allah ampunilah hambaMu ini. Ampuni aku yang tidak mampu membimbing anak yang Kau titipkan padaku. Kumohon ampunilah dia, berikanlah dia hidayah agar kembali hidup di jalanMu, jalan yang Kau ridhoi. Ya Allah…hanya kepadaMu-lah aku berserah diri dan hanya kepadaMu-lah aku mengadu dan berkeluh kesah…” sebait doa terucap disela isaknya.


*****

Selepas meninggalkan rumahnya, Andi mulai mengurangi kecepatan motornya. Masih terbayang wajah ibunya yang sedih, walau seringkali mengabaikan perkataan ibunya namun ia tetap tidak sampai hati melihat ibunya menangis. Dalam keadaan apapun, ibu selalu lemah lembut dalam berkata-kata. Memarahi, menasehati dan juga mengingatkan untuk selalu menjalani perintah Allah, semua dilakukannya dengan penuh kelembutan. Lain halnya dengan Kak Ira, belum sebulan tinggal kembali bersama ibu sudah kelihatan banyak tingkah. Meminta bantuan atau menyuruhnya melakukan sesuatu bagai memerintah anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Berteriak, membentak bahkan tidak jarang mengucapkan kata-kata kotor. Andi juga sudah muak dengan sikap Kak Ira yang berlagak sok suci dan alim, apalagi Andi selalu merasa Kak Ira hanya melaksanakan itu cuma untuk formalitas saja alias cuma menyenangkan hati ibu  padahal implementasinya dalam kehidupan sehari-hari sungguh bertolak belakang. Contohnya sekarang ini, gara-gara kepergok berzinah dengan orang lain, sekarang Kak Ira diusir dan diceraikan suaminya. Oleh sebab itu sekarang dia kembali tinggal dirumah ibu dan mulai merecoki kehidupannya. Bagaimana dia bisa melakukan hal nista seperti itu bila ia benar-benar sholat? Apakah dia pikir sholat itu cuma untuk main-main saja? Andi menggeleng-gelengkan kepala karena tidak mengerti jalan pikiran Kak Ira.

Selepas Isya Andi sampai di rumah Yanwar, tempat ia dan kawan-kawannya biasa berkumpul, berpesta juga mabuk-mabukkan. Didalam sudah ada beberapa kawannya juga dua orang wanita yang baru dilihatnya tapi kali ini ia kurang berminat. Diambilnya sebotol black label lalu iapun keluar rumah dan duduk diteras, wajah ibunya masih saja membayang dalam benaknya walau alkohol perlahan mulai meracuni aliran darah ditubuh. Keasyikannya terusik saat matanya menangkap gerakan tidak wajar di sekeliling rumah Yanwar ini, ia merasa beberapa pasang mata sedang mengawasi. Perlahan ia bangkit dari duduknya, masuk kedalam dan mengingatkan kawan-kawannya. Andi segera berlari ke pintu belakang dan menghambur keluar lalu berlari sekencang-kencangnya, tidak diperdulikannya lagi apakah kawannya mengikuti atau tidak yang penting dirinya aman.

Dugaan Andi memang tidak salah. Beberapa warga dan satuan polisi memang sedang mengepung rumah Yanwar karena sudah lama dicurigai sebagai tempat pesta miras, narkoba bahkan sex bebas. Apalagi sudah mendekati bulan suci ramadhan, dan biasanya para petugas lebih giat memberantas penyakit-penyakit masyarakat. Tidak berapa lama kemudian, kawan-kawan Andi ditangkap tanpa ada perlawanan karena mereka sudah terlalu mabuk untuk bisa melarikan diri. Sedangkan Andi masih terus berlari walau harus tersandung-sandung digelepan malam juga perih menusuk telapak kaki karena ia tidak sempat memakai alas saat kabur tadi. Ia menggapai tembok yang tingginya kira-kira 2 meter lalu meloncatinya, namun untung tidak dapat diraih malang tidak dapat ditolak. Ternyata dibalik tembok itu, permukaan tanahnya tidak rata dan agak menurun sehingga saat Andi mendarat tubuhnya terhempas lalu jatuh terguling. Rasa sakit luar biasa tiba-tiba dirasakan Andi di pangkal paha kanannya. Rasanya seperti patah saja dan ia tidak tahu apa yang tertabrak kakinya, batu, kayu atau akar pohon? Entahlah, ia tidak tahu pasti. Ia hanya bisa teriak dan mengerang kesakitan lalu tidak sadarkan diri.

Entah berapa lama Andi pingsan namun kini terlihat tubuhnya mulai sedikit bergerak. “Terima kasih Tuhan…” desisnya ketika menyadari ia masih hidup. Andi mencoba bangkit namun ia kembali merintih kesakitan dan merasa kaki kanannya benar-benar tidak bisa digerakkan, bergerak sedikit saja sudah menyisakan nyeri yang amat sangat. Sambil meringis, matanya nanar menatap dalam gelap. Samar-samar dilihatnya sebuah titik cahaya lampu dari kejauhan dan ia berpikir barangkali disanalah ia akan bisa mendapat pertolongan, tapi bagaimana?

“Ya Allah tolonglah aku. Ibu….ibu…maafkan aku” desahnya sambil menitikkan airmata. 

Lalu sambil menahan rasa sakit, Andi merangkak perlahan menyusuri tanah dengan sisa-sisa tenaganya. Namun penderitaannya tidak sampai disitu saja, ketika cahaya lampu itu mulai terlihat jelas tiba-tiba saja hujan turun cukup deras. “Mampus gua…” umpat Andi dalam hati. Iapun coba bersandar di  bawah pohon sambil coba menutupi kepala agar tidak langsung terkena air hujan. Wajah ibunya kembali terbayang dan iapun sesegukkan menahan tangis tapi segera ia menghentikan tangisnya saat sayup-sayup terdengar seseorang membaca ayat-ayat Alquran dan bagai irama yang mengalun dengan indahnya. Dan suara itu terdengar dari gubuk dimana cahaya lampu itu terlihat. Tiba-tiba saja semangatnya bangkit, iapun kembali merangkak ditanah becek untuk segera sampai ke cahaya lampu yang ternyata cahaya lampu dari gubuk seorang pemulung. Dengan nafas tersenggal-senggal dan tubuh berlepotan lumpur, akhirnya Andi sampai juga di depan gubug itu. Andi menengadahkan wajahnya keatas langit dan tersenyum…lalu jatuh tidak sadarkan diri kembali.

*****

Alunan ayat-ayat Alquran keluar dari mulut Andi, dihadapannya duduk seorang laki-laki yang sekali-sekali membetulkan ucapan Andi dalam membaca ayat Alquran tersebut. Andi sudah kembali mendekatkan diri kepada Allah, mulai kembali menjalankan perintahNya dan meninggalkan laranganNya. Andi tidak merasa karena ia sakit, barulah mendekatkan diri kepada Allah. Tapi itu semua semata-mata karena ia merasa bahwa Allah telah menunjukkan kuasaNya. Dan peristiwa yang dialami menyadarkannya bahwa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sehingga ia masih diberi kesempatan untuk hidup juga dipertemukan dengan orang yang bisa membimbingnya meniti jalan yang di ridhoiNya. Mendalami makna dari isi Alquran dan kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari juga selalu bersyukur atas semua berkah dan rahmat yang telah diterimanya adalah menjadi tujuan hidupnya kini. Ibu Andi tersenyum bahagia melihat perubahan dari anaknya...
”Alhamdulillah…terima kasih ya Allah, Kau telah menurunkan hidayahMu dan kini anakku telah kembali…” sambil meneteskan airmata bahagia. 

4 komentar:

Milan Legends mengatakan...

Hidayah adalah sesuatu yang hanya didapati orang-orang tertentu, cerpennya mencerahkan hati Bang Pendi

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

kisah rohani yg menarik. coba dikirim ke majalah Amanah atau apa gitu.

catatan kecilku mengatakan...

Doa ibu memang luar biasa ya... Kisah yang bagus sekali Bang.. Saran mbak Fanny sepertinya perlu ditindaklanjuti tuh. :)

DewiFatma mengatakan...

Kisah si Andi mirip ponakanku, Bang. Kalo denger orang azan magrib, langsung keluar rumah. Untungnya dia nggak miras, cuman pergi ke warnet. Tapi tetap aja ngeselin. Masak ngaku muslim tapi gak shalat?

Ntar kusuruh baca kisah ini nih... Tengkyu, Bang.

Posting Komentar