LIANG LAHAT

Selasa, 15 Desember 2009


Seorang lelaki berperawakan kurus yang berpakaian kumal dan lusuh terlihat mondar-mandir di area pemakaman desa Cikidul. Namun lelaki itu lebih sering terlihat duduk di bawah pohon mahoni yang cukup besar, tepat dibawah pohon itu terdapat dua makam yang berdampingan. Bagi pak Wardi, orang yang dipercaya untuk menjaga dan merawat kebersihan seluruh area pemakaman. Ia tak terlalu mempersalahkan kehadiran lelaki itu di area pemakaman, walau lelaki itu sulit diajak bicara. Jangankan di ajak mengobrol, ditegurpun lelaki itu hanya tersenyum saja.

Bila melihat dua makam dibawah pohon mahoni itu, pak Wardi teringat akan peristiwa yang terjadi dua bulan yang lalu saat pak Kades Cikidul meninggal dunia. Pak Wardi bersama beberapa orang warga yang bertugas menggali kubur menemui kejanggalan-kejanggalan yang tak pernah mereka temui selama ini. Sesuai amanat dari almarhum pak Kades yang meminta untuk dikuburkan disisi istri dan anaknya maka pak Wardi bersama warga yang lain menggali liang lahat disisi dua buah kuburan yang berdampingan itu. Namun baru saja mereka mulai menggali, kejanggalan sudah terjadi. Cangkul dan garpu terasa tak mampu menghujam di tanah. Permukaan tanah terasa begitu keras laksana menggali lapisan beton. Ketika diputuskan berpindah kesisi yang lainnya ternyata tetap sama. Mereka tak habis piker, mengapa itu bisa terjadi…?. Namun kejanggalan tak hanya sampai disitu. Kejanggalan kedua muncul saat tanah mulai tergali, walau tanah yang diangkat dari lubang sudah demikian banyak tapi  kedalaman lubang seperti tak berubah. Belum lagi ditambah kejanggalan terakhir, mereka dapati akar pohon mahoni yang menjulur ditengah-tengah lubang seakan tak berhenti tumbuh, walau sudah beberapa kali ditebas oleh tajamnya golok. Setiap kali akar terputus karena tebasan golok dengan cepat akar itu menjulur kembali seperti semula dan kemudian memenuhi lubang kubur yang telah susah payah mereka gali. Para penggali makam yang memang sejak semula menemui kejanggalan akhirnya menyerah dan melaporkan hal itu kepada keluarga pak Kades atau para sesepuh kampung. Merekapun heran juga bingung setelah mengetahui apa yang telah terjadi, sehingga merekapun memutuskan untuk menggali lubang kubur ditempat yang lain dan agak jauh dari pohon mahoni tersebut.

            Kabar tentang kejanggalan-kejanggalan tersebut akhirnya sampai ketelinga seluruh warga kampung, merekapun mulai bergunjing mengenai keanehan yang terjadi. Gunjingan mereka terutama berkait dengan dua makam di bawah pohon mahoni itu. Kedua makam itu adalah makam istri muda pak Kades yang bernama Waluh bersama anaknya. Namun sudah menjadi rahasia umum kalau Waluh dinikahi karena ancaman dan pemaksaan. Padahal semua warga tahu bahwa Waluh sudah bertunangan dengan seorang pemuda bernama Samiaji. Suatu kali Samiaji pernah dipukuli oleh kaki tangan pak Kades dan diancam agar memutuskan tali pertunangan juga diancam agar tidak menemui Waluh lagi. Rasa sakit di hati Samiaji mengalahkan rasa sakit yang diderita tubuhnya. Hati Samiaji tidak terima, dia tak akan rela kekasih yang sangat dicintainya itu direngut begitu saja apalagi dengan cara-cara pengecut
            Suatu malam, saat cahaya remang-remang rembulan menyelimuti permukaan bumi, sebuah bayangan berkelebat dalam pekatnya malam. Dengan mengendap-ngendap bayangan itu mulai mendekati rumah pak Sukimin…ayah Waluh. Cahaya rembulan sedikit membantunya melewati kebun yang penuh ditumbuhi pohon kecapi yang rimbun. Rupanya bayangan itu adalah Samiaji yang bertekad untuk mengajak Waluh pergi walau apapun yang terjadi. Sejenak ia memperhatikan suasana sekeliling, ketika dirasa aman mulailah ia mengetuk daun jendela perlahan. Ketika mendengar suara ketukan dan panggilan dari Samiaji, Waluh segera bangkit dari tempat tidur. Dibukanya daun jendela kamar secara perlahan. Saat dilihat benar Samiaji kekasihnya iapun langsung memeluk dan menangis sesegukan, kemudian tangannya meraba wajah Samiaji
“ Kamu tidak apa-apa mas..?” tanya Waluh dengan nada khawatir karena ia telah mendengar kalau Samiaji telah dipukuli oleh kaki tangan pak Kades.
“ Sudahlah tak usah menangis..dik ! aku tak apa-apa. Bagaimana…kamu sudah siap ? Tanya Samiaji sambil mengusap-usap bahu Waluh.
“ Sudah mas, tunggu… ?” Belum selesai ucapan Waluh, tiba-tiba terdengar suara bentakan.
‘’ Hei.. ! siapa disitu... ? ‘’ Mereka terkejut mendengar bentakan tersebut. Bentakan itu berasal dari seorang kaki tangan pak Kades yang ditugaskan mengamati gerak-gerik Waluh. Secepat kilat Samiaji memeluk dan mencium kening Waluh, lalu lari menghilang digelapan malam diiringi pandangan sendu Waluh. Waluh merasa ruang hatinya kosong tak berpenghuni, yang tersisa hanya kesunyian dan kehampaan. Firasatnya mengatakan itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Samiaji. Dan memang sejak saat itu tak pernah sekalipun terdengar kabar tentang Samiaji. Berhasilkah ia lari dari kejaran kaki tangan pak Kades..? Atau malah tertangkap lalu di habisi..?. Tak ada yang tahu bahkan orang tua Samiaji sendiri.

* * * * * * * *

            Jiwa Waluhpun terpenjara, cintanya terpasung pada sakralnya ikatan perkawinan semu. Hatinya telah terbawa angin seiring hilangnya nama Samiaji dari perbincangan dan ingatan warga kampung. Setiap pagi ia mematung didepan pintu atau di balik daun jendela, berharap angin menghembuskan semilir kabar keberadaan Samiaji kekasihnya. Tapi dia hanya bisa menunggu..dan menunggu walau ia tahu matahari tak akan terbit dari barat. Dan kepedihan semakin dalam dirasakan Waluh, anaknya yang berumur satu setengah tahun ditemukan telah membujur kaku dengan mulut berbusa di dalam kamar saat ia tinggalkan mencuci. Waluh histeris dan beberapa kali jatuh pingsan, kali ini ia tidak bisa menahan gejolak perasaannya dan ia tidak bisa menerima kenyataan anak hasil hubungannya dengan Samiaji kini juga telah meninggalkannya sendirian menghirup udara busuk berselimut kemunafikan. Hanya anaknyalah yang membuat tegar, membuatnya kuat tapi kini tak ada lagi yang tersisa. Waluh merasa pak Kadeslah yang telah merengut nyawa dari anak yang telah dibesarkan dalam rahimnya, karena suaminya itu telah mengetahui bila anaknya adalah bukan anaknya tapi anak dari Samiaji. Karena tak kuasa menahan kesedihan, Waluh memilih untuk menyusul kepergian anaknya dengan gantung diri pada seutas kain gendongan anaknya.
            Pak Wardi bergidik bila mengingat kejadian itu, bulu kuduknyapun berdiri. Untuk menghilangkan rasa jerinya, pak Wardi kembali menyibukkan diri kembali dengan aktivitasnya. Sesekali matanya melirik kearah lelaki gelandangan yang kini terlihat duduk bersimpuh di depan liang lahat yang di tumbuhi rumput liar dan akar pohon mahoni itu. Lelaki gelandangan itu kini terlihat tersenyum dam mulutnya komat-kamit seakan sedang berbicara dengan seseorang. Dalam pandangan lelaki itu, ia sedang berhadapan dengan sebuah pintu gerbang yang penuh dengan ukiran yang memancarkan cahaya menakjubkan. Dibalik pintu gerbang dilihatnya pohon-pohon bunga berjajar rapih dengan kelopak yang bermekaran warna-warni dan kupu-kupu cantik melayang-layang diatasnya. Kemudian dilihatnya seorang wanita bersama seorang anak kecil berpakaian serba putih gemerlap tersenyum padanya sambil melambai-lambaikan tangan mereka. Lalu ia berlari memeluk wanita dan anak kecil itu bergantian, kemudian sambil menciumi anak kecil dalam gendongannya merekapun melangkah pergi dan menghilang dengan wajah penuh berseri-seri.
            Pak Wardi tertegun, terlihat olehnya lelaki itu membersihkan rumput-rumput pada liang lahat tersebut. Ketika tubuh lelaki itu tak muncul kembali setelah sekian lama dalam liang lahat, pak Wardipun mencoba mendekati dan melihat apa yang terjadi. Dan iapun terkejut bukan main saat dilihatnya lelaki itu tertidur didasar liang lahat dengan senyum yang mengembang. Pak Wardi segera berlari keluar makam dan mengabarkan apa yang ia lihat kepada siapa saja. Dengan segera kabar itu cepat menyebar dan kini pemakaman itu telah dipenuhi warga yang berdesakan untuk mendekati liang lahat dimana lelaki gelandangan itu terbaring. Yang mengherankan warga, akar-akar pohon mahoni yang memenuhi liang kini tak terlihat lagi...semua telah lenyap tak berbekas. Salah seorang warga berinisiatif turun ke liang lahat untuk memeriksa apakah lelaki itu sudah tak bernyawa atau hanya tertidur ..? namun setelah diperiksa urat nadinya..
“ Ia sudah wafat....!” teriaknya. Dan wargapun kembali gaduh membicarakan keanehan yang kesekian kali terjadi pada liang lahat itu, namun mereka kembali terkejut saat warga yang turun tadi kembali berteriak..
“ Ini Samiaji....Samiaji..!”

Kampung sawah
25 Juli 2009


24 komentar:

-Gek- mengatakan...

*speechless* saya..
KEREN
BAGUS
HEBAT
4 JEMPOL..

*fuhhh.. dasyat banget nih cerpennya,
walau agak horor..

Clara mengatakan...

ceria yang bagus ^^
makanya ya jangan maksa nikah sama orang yg nggak dicintai, apalagi caranya nggak halal gitu...ckckckckcc...

Munir Ardi mengatakan...

Mas noer memang paling jago bikin cerpen bertema kematian

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

tragis. hikss

AISHALIFE-LINE mengatakan...

jadi ingat kisahnya siti nurbaya.

Si_Isna mengatakan...

saya merinding bacanya...
sedih banget...
bagus banget...

Latifah Hizboel mengatakan...

Cerita yang sangat menggugah,hati nurani sang penguasa ( pak kades ) benar2 sangat dilingkupi rasa kekuasaannya.Perlindungan dia sebagai pemimpin raib oleh hatinya yg durjana,membuat rakyatnya sendiri menderita karna ulahnya.

Nice story ...

ivan kavalera mengatakan...

Plotnya keren, mas. Kapan ya aku bisa nulis cerpen seperti ini?

Gerry Satya mengatakan...

That was a great! Just that what I should to say. Remembering me about time to go back to my first place I came from...

Noor's blog (inside of me) mengatakan...

@ 4 all : saya amat tersanjung, makasih ...

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

bawain kue natal.

liza mengatakan...

wah, benar2 memberikan pencerahan.. jadi ingat kumpulan cerpen terbaik kompas 2002 (soalnya baru baca kemarin) temanya hampir sama dengan ini. judulnya jejak tanah

Munir Ardi mengatakan...

semoga artikel ini selalu mengingatkan kita akan kematian

dewi mengatakan...

cinta sejati memang sehidup semati...ternyata akar pohon itu adalah pertanda bahwa waluh masih menunggu pujaan hatinya...untuk sehidup semati dengan nya...bagus mas cerpennya

annie mengatakan...

Pinter sekali bikin cerpen seperti ini, Mas. Saya harus banyak belajar. Ajarin dong

Noor's blog (inside of me) mengatakan...

@ Mba Liza : Mengenai tema yg hampir sama...nah itu yg kadang membuat saya agak minder kalau mau publikasikan cerpen ( takut dikira njiplak ). makasi mba dah mampir..

@ Pak Munir : semoga pak...

@ Mba Dewi : makasih mba...

@ Teteh Annie : Wah makasih teh...jadi malu..he..he

Itik Bali mengatakan...

Menakutkan mas, tapi overall bagus
aku ngga mau ah, menggunakan cara yang ga bener buat dicintai
paling cuma bawa golok..
he..he

Rosi aja mengatakan...

kirain kisah nyata mas jadi inget rahasia ilahi di RCTI, nice posting

Ibnu Mas'ud mengatakan...

mampir lagi mas ........

ivan kavalera mengatakan...

Semoga adiknya mas segera pulih kembali. amin. Mas Noor sehat-sehat aja kan?

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

sore...maaf baru sempet kemari.

myth mengatakan...

bagus buangeeetzzzzzzzzz
T_T

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

siang..bawakan jus sirsak dan kue natal

Abd. Basid mengatakan...

Jadi ughughughgughgughg membacanya mas...

Posting Komentar