TELUR ATAU AYAM ?

Sabtu, 06 Februari 2010

Membaca beberapa postingan dari para sahabat mengenai industri sinetron di dunia pertelevisian kita atau yang terakhir membaca postingan Mas Slamet yang berisi tanggapan yang beragam mengenai tayangan sinetron, saya ikut tergelitik untuk ikut menanggapi atau ikut nimbrung untuk berkomentar...


Sebenarnya memang agak heran juga melihat tayangan-tayangan sinetron sekarang yang cenderung mengabaikan logika serta realitas kehidupan nyata dan bahkan seringkali terkesan mengada-ada dalam alur-alur ceritanya, namun yang mengherankan lagi dengan tayangan semacam itu tetap saja banyak penonton yang menggemarinya.

Saya memang tidak antipati terhadap tayangan semacam itu dan juga tidak mau menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini, karena para produser sinetron tidak akan membuat atau melanjutkan tayangan seperti itu bila tak ada penonton yang menyukainya ( rating rendah ) dan dari pihak penonton, mereka tidak akan menonton tayangan seperti itu bila tak ada produser yang membuatnya.

Tapi justru itulah yang bagi saya agak membingungkan, ibarat menjawab pertanyaan " Mana yang lebih dahulu, Telur atau Ayam ? ". Seperti halnya dengan dunia sinetron, mana yang kita harapkan lebih dulu untuk memulai. Apakah lebih dulu mengharapkan para produser mempunyai niat baik untuk hanya dan selalu membuat tayangan sinetron yang bermutu dan mendidik ? ataukah lebih dulu mengharapkan para penonton untuk hanya menonton tayangan sinetron yang bermutu baik dan mengabaikan tayangan yang bermutu rendah dan kacangan ?.

Lalu bagaimana pula, bila kembali ada pertanyaan...Apakah memang produser-produser sinetron kita hanya mempunyai pemikiran yang berorientasi bisnis untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dan tidak mempunyai Sense of Education terhadap sinetron-sinetron yang mereka buat. Ataukah para penonton atau kebanyakan dari kita yang memang mempunyai selera terhadap tayangan sinetron seperti itu. Rasa-rasanya makin sulit saya menjawabnya. Soal selera memang berpulang pada pribadi masing-masing. Bagaimana dengan sahabat ?

15 komentar:

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

saya sendiri malas nonton sinetron, makin gak mutu. eh, tumben postingannya serius.

latifah hizboel mengatakan...

Aku udah sama sekali gak kenal artis indonesia karena mungkin gak pernah nonton sinetron, gak tahu ya kok males aja...mungkin karena tak mendidik dan tak bermutu sinetron saat ini.

Clara mengatakan...

saya ga suka sinet, kalo pun nonton hanya untuk memaki sekaligus tertawa...kadang ada yg terlihat lucu. kalau masalah bisnis pasti kan memang mengjar uang, mungkin kreatif mereka saja yg ga bisa diasah...

AISHALIFE-LINE mengatakan...

Apalagi saya,nggak pernah nonton sinotren Indonesia sama sekali.Lupa hehehe.no komen ya bro.

just Rosi mengatakan...

yah... mungkin itulah yg terjadi ketika idealisme sudah dimakan kapitalisme... koq bahasanya jadi gubrak gini yah. intinya salut bwt mereka yg masih peduli pada edukasi anak dg tayangan2 yang berkualitas dari sekedar sinetron2 yg ga jelas...

Puput mengatakan...

karena sementara ini lebih menghasilkan... dari pada edutainment... jadi lanjut teruuuuus

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

ciri-ciri sinetron kita seperti ini:

Perempuan jahat dan licik : setiap kali ngomong matanya membelalak-belalak, kalo ngomong dimonyong-monyongin

Laki-laki jahat : kalo ketawa menyeringai

Perempuan tokoh utama : Biasanya berlinangan air mata, gayanya kadang tomboy, susah terus

Cowo baik : Mukanya ganteng, abg seger, kalo didorong gampang jatuh

Ibu-ibu baik : Mukanya teduh, kalo ngomong sambil megang tangan anak

Terus ceritanya apa?

Wah ga tau deh, gue belum berminat untuk menyalakan audio sinetron ini. Gue ga tau persis sih ceritanya…

Lagian, penting ga siiiih???
lebih baik nonton film kartun.

Laksamana Embun mengatakan...

No komment buat ini soalnya tidak hoby nonton sinetron..

Oia Salam knal ya, bgaimn sbgai salam knal kita, kita change link?

catatan kecilku mengatakan...

Aku gak suka nonton sinetron.., gak ada yg menarik sih. Temanya hanya berputar pada perebutan harta, tahta dan wanita saja.

the others.... mengatakan...

Memang seperti lingkaran yang tak berujung ya..?
Produser membuat karena banyak penonton yang suka, sedangkan penonton suka karena ada tayangan-nya.

Noor's blog (inside of me ) mengatakan...

@ laksamana Embun : Saya akan berbangga sekali bisa bersahabat dengan anda, tuker link ? siapa takut...he..he

♥ria♥ mengatakan...

aku dari dulu ga bgtu suka nonto sinetron bahkan jarang ntn TV hehehe
Oh iya makasih ya udah follow, ak jg dah follow kamu

Noor's blog (inside of me ) mengatakan...

@ Ria : Sama-sama, makasih juga..

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

SETUJU SAMA PAK SETIAWAN. hi hi hi..pengamat sinetron juga tuh si bapak

Raini Munti mengatakan...

mampir disni :)

Posting Komentar