AYUNAN PUCUK-PUCUK POHON BAMBU

Senin, 04 Januari 2010

Aku kembali duduk di balkon rumah seperti malam sebelumnya namun malam ini terasa begitu sepi. Tak ada mercon atau kembang api yang cahayanya berpendar indah di langit, aku hanya bisa menatap hamparan langit kelam ditelan sang malam. Hanya beberapa meter di hadapanku, kulihat pucuk-pucuk bambu mengayun lembut dan gemulai mengikuti irama angin yang bertiup bak penari yang datang menghiburku.

Ah...kadang aku ingin laksana pohon bambu, karena pucuknya akan tetap menggayut ke arah sisi dimana lebih lebat daunnya. Dia akan tetap seperti itu, teguh dan kokoh tak perduli seberapa besar angin berhembus dan seberapa besar badai menerpa...dia akan tetap seperti itu sampai dahannya patah atau tercabut dari akarnya. Pucuk-pucuk pohon bambu itu masih mengayun lembut.....

Tatapanku beralih ke arah langit kelam sambil menghisap dalam-dalam sebatang rokok kretek dalam jepitan tanganku. Ah...mengapa tak ada satupun bintang yang menemani sang langit malam ini ?  seakan sang langitpun terhempas dan terhampar dalam kesunyian menanti sang fajar, namun sesekali kulihat setitik cahaya dari sebuah pesawat yang merambat pelan menembus sang langit dan lalu menghilang. Cahaya berkerlap-kerlip tetapi tak mampu menerangi hamparan langit yang maha luas. Cahayanya bagai tak berarti, laksana noktah putih di hamparan kanvas hitam.

Tak berapa lama, cahaya yang sama muncul kembali dari arah yang berlainan dan turut menyapa sang langit kelam. Darimana dan mau kemana pesawat-pesawat itu ? tak sedikitpun aku tahu. Diantara ayunan pucuk-pucuk pohon bambu yang mengayun lembut, selintas kubayangkan pesawat-pesawat itu bertemu pada satu titik di atas langit sana. Barangkali cahayanya berpendar dasyat mengalahkan cahaya berton-ton mercon atau kembang api yang dipasang malam tahun baru lalu. Ah...tidak...tidak ! aku tak mau itu terjadi..., aku tak mau menghirup debu-debu yang beterbangan dari tubuh-tubuh yang tercabut nyawanya. Aku tak mau mendengar tangis pilu dari keluarga-keluarga yang mereka tinggalkan. Sungguh...aku tak mau itu terjadi. Gemerisik daun-daun dari pohon bambu yang masih mengayun lembut membuyarkan lamunananku.

Kali ini kulihat lagi kerlap-kerlip cahaya yang lain, tapi sepertinya ada yang aneh dari cahaya itu. Cahaya itu tidak semakin mengecil dan kemudian menghilang tapi terasa sebaliknya, cahaya itu terlihat semakin membesar dan terasa semakin dekat. Perlahan suara gemuruh pesawat makin lama makin pekak mengalahkan gemuruh yang mulai terasa didada. Aku terhenyak....aku tercekat,  akupun mulai bangkit dari dudukku. Sebongkah cahaya mulai menyilaukan mataku, gemuruh pesawat mulai meremukkan jantungku dan ayunan pucuk-pucuk pohon bambu tak lagi lembut. Saat itu kurasakan batas antara kehidupan dan kematian begitu tipis setipis kulit ari.

Dalam sekejap, gemuruh pesawat tak lagi kudengar dan tak sempat lagi kulihat ayunan pucuk-pucuk pohon bambu. Yang kuingat hanyalah...aku sempat bergumam...Allahu Akbar...!!

15 komentar:

fanny mengatakan...

melamun mahluk UFo ya? btw, Noor..caranya hilangin follower gimana?

Latifah Hizboel mengatakan...

Suasana yg mencekam diri dan hati,tanpa melupakan takbir keluar dari bibir,subhanallah....

ivan kavalera mengatakan...

Sungguh, saya begitu menikmati daya imajinasi yang ditimbulkan oleh cerpen ini.

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Yah... kekuatan cerita membuat imajinasi saya larut...
sangat berbeda dengan pribadi bang Fendi.

Munir Ardi mengatakan...

terhanyut dalam sepi dan kembali mengingat kepada Kebesaran Nya sebuiah cerpen yang begitu berkekuatan spiritual karena memang sesungguh nya semua makhluk di Bumi bertasbih memuji kepada Allah

just Rosi mengatakan...

itu maksudnya kejatuhan pesawat hercules bang ? hehe btw suskes terus di tahun bari ini ya bang !!!

Zahra Lathifa mengatakan...

"Saat itu kurasakan batas antara hidup dan kematian tipis...." maka menjalani hidup dg kebaikan adalah cara yg cerdas untuk menunggu kematian..Mario Teguh.
Allahu Akbar...semoga namamu akan selalu berkumandang di setiap relung jiwa kami. amin.
(*sst..postingannya serius, jd kebawa serius juga,hehe)

Berita Online mengatakan...

Mencekam juga ya. Cerpen bagus nih. Salut buat mas.

Gerry Satya mengatakan...

Kalo saya mah, jadi pengemudi pesawatnya aje, Bang. Obsesi jadi penerbang sih...
Wah, emang Bang Noor mah paling jempol dahhh...

Sebuah koma yang ditegarkan, diteruskan dalam takbir mengagungkan Allah ajja wajalla, sebelum benar-benar menjadi sebuah titik...

Gd luck, n trimakasih udh relain waktunya buat mampir di blog saya...

Noor's blog mengatakan...

@ Gerry Satya : wah..makasih juga bos...! saya kan seneng punya banyak temen, apalagi kalau bos Gerry sudah jadi pilot..kali aja bisa numpang gratis...he..he

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

met wiken..updateeee....

Munir Ardi mengatakan...

Datang dengan semangat baru bang pendi

reni mengatakan...

Lamunannya OK juga... bisa menjadi cerita yg keren ini...

Bahauddin Amyasi mengatakan...

Ada saat-saat tertentu dimana seseorang harus melebur dalam imajinasinya sendiri, masuk pada jiwanya sendiri. MAka refleksi yang dihasilkannya akan sangat memukau dan menohok. Ya, seperti cerita di atas ini. Hehe..

Salut. Salut. Salam...

aida mengatakan...

cerita OK.Imajinasinya bagus pokoknya keren

Posting Komentar